Di Bawah Sorotan Lampu
“Di masa depan setiap
orang akan terkenal selama 15 menit”
Andy Warhol
Dalam beberapa tahun terakhir seni rupa di Kupang punya sejumlah kegiatan rutin. Di tahun ini,diadakan pameran BAKUMPUL pada 30 Mei hingga 1 Juni yang lalu, dan satu lagi yang rutin dalam artian sebagai bagian dari program-program berkala oleh pelaksananya (UPTD Taman Budaya Gerson Poyk NTT), yaitu Pameran Seni Rupa Sedaratan Timor di Atambua “Halo La No Kotan, Halo La No Ladik” (Tetun Terik : melebur batas) pada 21-23 Mei. Tentu saja, disamping pameran seni rupa lainnya yang mulai marak di Kupang.
Dua pameran yang membuat para senimannya cukup sibuk. Hampir sebagian besar
seniman dalam kedua kegiatan itu merupakan para pegiat seni dari lingkaran yang sama, yang di dalamnya dapat ditemui komunitas
perupa Kapur Sirih, beberapa komunitas lain dan juga seniman-seniman perorangan.
Untuk BAKUMPUL, pameran ini merupakan acara tahunan yang dimulai sejak Kupang bergabung dalam semangat Indonesia Menggambar yang digagas oleh Forum
Drawing Indonesia. Mei ini merupakan kali ke empat bagi Kupang untuk merayakan
tanggal 2 sebagai Hari Menggambar Nasional dan bulannya sebagai Bulan Menggambar Nasional.
Tanpa Galeri
“Dulu saat kami pameran pertama,
itu di acara pameran pembangunan yang biasa dibuat oleh pemerintah tiap tahun.
Kami satu stand dengan dinas pendidikan, dan lukisan digantung seadanya
bersebelahan dengan poster-poster program dinas. Berulang kali orang kira
lukisan-lukisan kami bagian dari poster” Tutur Jacky Lau, seorang perupa senior
di Kapur Sirih. Itu adalah masa-masa awal bagi geliat seni rupa di Kupang,
kini Taman Budaya sudah sejak tahun dua ribu belasan awal memiliki galeri Okomama
yang membantu seniman dalam hal ruang untuk aktifitas mereka. Namun tentu saja,
fungsinya berbeda dari galeri “swasta” yang punya potensi-potensi khusus.
Di Kupang belum ada galeri seni rupa yang perannya dibutuhkan dalam membentuk pasar bagi hasil karya para senimannya. Bagi seniman-seniman yang telah mapan dalam berkarya setidaknya satu setengah dekade lebih, terlibat dalam pameran-pameran nasional yang bergengsi, dan karyanya dibeli oleh kolektor-kolektor besar, pasti paham betul dengan medan dunia seni di Indonesia. Sebuah medan di mana galeri (dengan perangkat manajerial seni dan kuratorialnya, juga tentu saja relasinya dengan para kolektor), lingkungan akademis, dan media massa punya peran besar menentukan kehidupan seni rupa dalam perspektif keberlangsungan pasarnya.
Selain tak punya galeri, di Kupang dan seluruh NTT belum ada sekolah seni rupa setingkat perguruan tinggi. Maka seni rupa tumbuh dengan hal-hal yang kebanyakan diusahakan oleh para pelaku seninya sendiri. “Galeri” dibangun pada pameran-pameran komunitas yang masih belum terlalu ingin mengakrabi ranah konsep. Pada pameran terbuka, dalam arti tanpa ada seleksi khusus, dan pesertanya bisa dari sebuah kelompok atau terbuka untuk umum, sasaran yang dituju lebih berkutat soal pengenalan diri kepada masyarakat, dan sebagai upaya membangun relasi bagi mereka yang memiliki minat yang sama dan juga pihak-pihak seperti pemerintah.
Masyarakat Kupang mulai terbiasa dengan adanya pameran-pameran "gambar" ini. Namun tanggapan dari para penyimak ini belum tertangkap dengan penuh. Beberapa kali sempat juga ditemui pengunjung pameran yang bingung,
dan bertanya, “ Saudara-saudara berpameran seperti ini keuntungannya apa ya?”.
Yang bertanya adalah seorang pekerja ojek daring. Tentu baginya waktu adalah
hal yang sangat berharga, dan sebuah kemewahan bila bisa nongkrong santai cukup
lama sambil membincangkan soal sesuatu yang bisa dibilang lebih seperti sekedar
hobi. Tidak dapat diduga apa tanggapannya, bila saja dia tahu bahwa para
seniman yang sebagian besar punya mata pencaharian lain itu secara sukarela
mengumpulkan dana untuk perhelatan-perhelatan sejenis ini.
Tanpa Kritik
Dengan ketiadaan posisi akademisi sebagai penanggap, maka pembahasan seni rupa bisa saja akan berkutat pada pengulangan-pengulangan yang membuat perkembangan wacananya bergerak lamban atau mungkin terhenti. Seniman tak selalu nyaman bila harus "turun gunung" membicarakan karya (apalagi karyanya sendiri). Kalau idenya bisa disampaikan lewat kata-kata kenapa dia harus susah payah melukis?
Media massa
masih melaporkan kegiatan-kegiatan seni rupa di kota Kupang dengan pendekatan
yang umum. Sekedar informasi mendasar tentang pelaksanaan kegiatan. Karya-karya belum
dilihat lebih dalam. Melihat karya sebagai refleksi seniman atas lingkungan
sekitarnya (baca: melihat kupang dalam “logat” karya seniman)pun sepertinya
belum pernah dilakukan. Media khusus seni rupa, atau bagian khusus dalam media
mapan di Kupang yang membahasa seni rupa pun belum ada. Resiko sebagai wilayah
non-pusat, membuat Kupang terkesan berada dalam suatu penantian. Menunggu
pengakuan dari pusat? Yang memang harus dipahami bahwa punya kekuasaan
legitimasi yang besar. Menunggu arus tren atau mode dari pusat?
Para pegiat seni di kota seperti Kupang akan sangat mudah teridentifikasi sebagai seniman daerah. Ini sebenarnya wajar, dan baru akan problematik kalau identifikasi ini diterima sebagai identitas yang tunggal. Acuan tentang tradisionalitas dalam budaya visual seperti tenun ikat dan ikon-ikon kedaerahan seperti komodo, dan aspek kebudayaan lainnya yang gampang terpeleset menjadi turisme sentris bisa menjadi unggulan sekaligus beban. Kegelisahan seniman yang pada dasarnya adalah jiwa baginya dalam berkarya bisa menjadi tumpul dan mati rasa karena tak dibiasakan melewati eksplorasi-eksplorasi kreatif (yang kadang bisa sangat menantang) yang datang dari kritik-kritik seni yang kuat pondasi teoritisnya. Jalan pengkaryaan bisa dimacetkan dalam rutinitas yang seremonial dan monoton.
Seniman-seniman komunitas patut diapresiasi perjuangannya. Sebagian besar mereka muda dalam usia, dan komunitas memenuhi fungsinya sebagai wadah bagi mereka untuk diterima dalam kumpulan yang “setradisi” dan “setalenta”. Menguatkan rasa kedirian mereka. Membantu mereka dalam proses pengutuhan diri. Komunitas-komunitas ini menjadi cermin bagi Kupang sebagai kota yang multi etnis. Para pemudanya yang merasa sudah berjarak dengan tradisi sukunya mencoba membentuk sendiri cara untuk berorganisasi dan menghidupi diri serta hal-hal yang mereka sukai. Khas perkotaan. Dan di sela-sela kehangatan kekeluargaan itu, karya mereka tumbuh. Perawatan karya dan jalan kekaryaan itu merupakan hal yang lain lagi. Pertanyaannya adalah, bagaimana menumbuhkan budaya kritik dalam suasana ini? Bagaimana idealnya seni rupa diperbincangkan, didiskusikan dengan mesra dan dinamis di Kupang?
Sorotan Lampu
Pada sejumlah orang tua yang datang ke
BAKUMPUL untuk melihat karya anaknya yang dipamerkan, nampak aura bangga di wajah mereka.
Siapapun tentu akan senang dengan apresiasi, penerimaan, dan apalagi pengakuan. Ada yang
terlihat cukup lama berkeliling di ruang pameran. Barangkali dia akan hadir di tahun depan, di saat anaknya ikut lagi. Ada yang mungkin
bertanya-tanya, pameran seperti ini untuk apa? Di pojok ruangan terlihat
seorang guru seni sedang menjelaskan ke muridnya, “ Tak perlu harus jadi
seniman kalau kamu suka menggambar dan hal-hal tentang gambar, yang penting bakal jadi apapun kamu nanti, seni bisa membuatmu hidup dengan lebih
bahagia”.
Tujuan orang berpameran adalah untuk dilihat, untuk diperhatikan, bahkan para seniman bebas yang tak berafiliasi dengan komunitas manapun menghasilkan karya yang setidaknya dilihat oleh dirinya sendiri. Kadang pameran-pameran terbuka bisa membuat mereka terkoneksi dengan seniman yang lain. Pameran adalah sorotan lampu. Bagaimana seniman akan menempatkan diri di bawah sorotan lampu itu? Apakah sekedar sebagai rutinitas atau sebagai cara baginya untuk menyampaikan sesuatu dengan jalan pengkaryaannya? Sampai 15 menit yang dimilikinya lewat.
Comments
Post a Comment