Posts

Showing posts from 2024

Hanya Natal

  Pada Desember kali ini, Pedro de Jesus memutuskan bahwa ia tidak akan ke gereja untuk natalan. Ia tidak akan  pergi ke perayaan natal apapun yang ada sangkut pautnya dengan gereja.  Beberapa tahun terakhir, dalam masa kuliah, dia selalu pulang kampung untuk natalan bersama keluarga, dan semua cara dalam natalan-natalan itu dia usahakan untuk bisa sedekat mungkin dengan ajaran dari gereja. Tentu saja gerejanya dan keluarganya.  Biasanya di awal Desember dia sudah sampai di rumah. Lalu dimulailah kesibukan tahunan itu. Ia berkonsultasi dengan para imam, meminta rekomendasi lagu-lagu natal dari yang gaya abad pertengahan, klasik, City Pop, hingga Jazz, dari para imam muda yang semangatnya masih berapi-api dan cenderung revolusioner. Ia membaca ulang renungan-renungan natal selama sepuluh tahun terakhir, mengulik makalah-makalah yang berisikan studi banding antara gerejanya dan gereja lain dalam merayakan natal, berdoa panjang-panjang setiap malam sambil me...

Suara Apa yang Terdengar di Lorong-Lorong Itu?

 Sebuah Kesan Atas Pameran Arsip Publik Merekam Kota 2024-Ruang Berkumpul: Lokus Raja Estetika Penghadiran Kembali Hal-hal visual yang dipakai dalam pameran ini punya daya yang kuat dalam menangkap para penyimaknya. Dari jalanan arah selatan lokasi gedung pameran orang dapat langsung tercuri oleh warna penataan cahaya yang membalut tembok bagian atas ruangan pameran. Seperti sebuah isyarat petualangan.   Sisi kota yang temaram memang selalu jauh lebih mengundang dan menggoda. Pada  temaram biru keunguan itu, kota Kupang dihadirkan kembali. Para penyimaknya entah orang Kupang atau bukan (hal ini tentu tak jadi masalah) sebagian besar adalah generasi muda dengan tradisi fotografis-medsos mereka yang di dalamnya ketenaran, viralisme,derap kekinian memiliki nilai yang penting. Pameran Merekam Kota kali ini, yang sekali lagi diselenggarakan di De Museum CafĂ© JKK Kota Lama,Kupang (12 -26 Oktober 2024) memberikan banyak cerita, salah satunya tentang orang-orang muda kota ini...

MANUEL TAHU BESOK KIAMAT

Siang tengah segar-segarnya menjenguk penduduk kota seperti penjual es krim yang lewat di depan sekolah saat murid-murid sedang keluar main. Manuel da Gomez sedang mendengar radio sambil menunggu satu-satunya celana Jins miliknya kering di jemuran. Di saat itulah sosok itu datang kepadanya. Sosok dengan pakaian seperti pakaian kerja yang berkantong di sana-sini, bersepatu yang membuatnya terlihat mantap dan pasti saat bergerak dan memiliki wajah yang tegas sepasti kolom-kolom kategori dalam formulir-formulir administrasi pemerintahan. “ Senor da Gomez, Selamat siang, salam sejahtera…“ Ia mengucapkan beberapa lagi salam pembuka yang sangat banyak,   ada juga dalam bahasa yang Manuel tak pahami satu katapun, butuh lebih dari 10 menit untuk salam pembuka itu. “ Saya langsung saja, saya juru kabar” Ia menunjukkan semecam surat perintah, dan jarinya menunjuk ke salah satu logo di bajunya. Ada banyak logo dan simbol-simbol di pakaiannya. “ Bukannya yang biasa jadi juru kabar itu ma...

Tulisan-Tulisan Tak Terbaca

Bagian Satu : Andai dari Tanah Tak Tumbuh Tanaman Pohon itu besar sekali. Dan sampai kapanpun ingatan Santiago tentang pohon itu adalah soal kebesarannya. Di hari naas itu, di bawah teduh pohon itu dia mendapatkan berita tentang kematian keluarganya di rumah sakit. Sebuah penyakit datang ke kota seperti hujan beracun yang turun tengah malam dan menghabiskan hampir lebih dari separuh penduduk ketika sore keesokannya tiba. Penyakit yang kemudian dengan senyap berjaga-jaga di sudut kota dan senantiasa siap menelan korban. Konon mereka yang mau selamat melarikan diri ke hutan-hutan. Di bawah pohon itulah Santiago merasa kesedihan dan kebencian sekaligus. Kesakitan dengan rasa dirampas yang dalam. Gabungan perasaan itu yang membuatnya mulai mengutuk segalanya. Mulai dari penyakit jahanam itu, dirinya dan semua ketidakmampuannya, lalu hampir apapun termasuk pohon yang di bawah teduhnya ia tengah bernaung. Kata-katanya basah  oleh air matanya sendiri, bercampur ingus dan air liurnya. ...

Eusebio

  "Apa kau yakin dengan caramu itu, Patricio? Memang tujuanmu baik. Dengan cara kau disiplinkan waktu kesehariannya,   membatasinya   main handphone dan menyuruhnya olahraga dengan ketat, pasti akan ada hasil yang bagus. Tapi dia tidak terlalu kecilkah untuk itu? “   Tanya Augusto kepada saudara laki-lakinya. Mereka berdua, Ximenes bersaudara, sedang di tempat parkir sekolah kedua anak mereka. Kaka beradik,para ayah muda yang menjemput anaknya pulang. Bersandar pada bagian depan mobilnya, Patricio berpikir lama, kesusahan memilih cara untuk   menjawab. Angin di bulan Juni yang berdebu dan membosankan membuatnya makin gundah. Matahari tidak terlalu menyengat mereka, keduanya teduh di bawah papan nama tulisan "Liberal Art School TK-SD-SMP" yang dicetak mengikuti nama kota tempat mereka tinggal. Sejumlah orang tua penjemput anak berdiri   bosan dan diam dekat mereka.Hampir semua bermain handphone. Satu dua menelepon anak mereka dan marah-marah menyuruh a...

Seni(nya) Kupang atau Seni di Kupang?

  Percobaan Pengartian (yang lebih seperti pengandaian) Dua hal di judul muncul saat ada sedikit usaha untuk mengotak-atik tentang kesenian di kota Kupang. Hal pertama seolah mau secara mendalam menelaah dan menguliti apa yang sudah sejauh ini dipahami sebagai Kupang khususnya sebagai kesatuan masyarakat. Pertanyaan kedua hadir sebagai hasil dari refleksi atas pertanyaan pertama; bila seni(nya) Kupang tidak ada, berarti bisa dikatakan bahwa semua seni yang diciptakan di Kupang adalah sekedar seni dan kesenian yang tanpa ikatan dan pantulan atas kehidupan masyarakatnya. Jadi, sodara-sodara sekalian, seni seperti apa yang hidup atau dihidupi di kota Kupang sekarang? Diskusi : Apakah Kupang itu Ada? Bila seni Kupang diandaikan bermakna seperti yang disebutkan   di atas, maka akan muncul pertanyaan-pertanyaan terusan. Apakah sebenarnya Kupang itu? Sebagai kesatuan sosial, orang Kupang yang asli itu seperti apa? Apakah Kupang adalah sebuah kelompok etnis? Bicara soal kelo...