Di Ujung Tahun
Di dalam tas kanvas hijau tua bergaya militer itu, ahh... tas
yang sudah belasan tahun menemani hari-harinya, dulu waktu membelinya di pasar
loak ia juga ditawarkan tas lain yang sedikit lebih besar dan masih belepotan
lumpur, namun ia memilih yang satu ini, yang sekarang di dalamnya ia jejalkan
buku-buku dan barang lainnya. Kumpulan cerpen lama, komik-komik tua, buku
sketsa, binder kecil dan tas alat tulis berisi peralatan gambar dan kerja.
Kos-kosan sedang sepi. Semua orang sedang sibuk dengan
urusannya masing-masing di dalam kamar. Kebanyakan pintu tertutup. Nanti agak
siang, baru mulai ada yang hilir mudik,
duduk-duduk di kursi dan meja di taman berbentuk bundar di tengah
bangunan kos yang berapa kalipun dibersihkan akan selalu penuh dengan sampah
plastik pembungkus makanan instan, botol plastik, dan bungkusan rokok. Bila ada
yang punya duit lebih, mereka pesta kecil di situ. Minum-minum dan bakar ikan
atau ayam. Bernyanyi-nyanyi sampai pagi, sampai ada yang dipapah karena sudah terlalu
mabuk atau dibiarkan saja tergeletak di pekarangan.
Sebagian besar orang-orang di kota ini adalah perantau yang
bekerja,atau para pelajar. Ada yang melakoni keduanya, belajar juga bekerja. Dia
termasuk tipe yang seperti itu, dengan keadaan keuangan yang pas-pasan. Untuk
tipe seperti mereka, penting sekali untuk bisa terampil dalam menikmati hidup
dan mencari kesenangan di celah pada lorong-lorong kota, pada malam-malamnya
yang hangat, yang berdetak dengan irama orang-orang yang mengaso usai sibuk seharian.
Kesenangan yang murah dan tak berbahaya.
Kesehariannya sebagai seorang berduit pas-pasan cukup
sederhana, bekerja serabutan, ikut kuliah di kelas-kelas malam dari
kampus-kampus di kota ini, yang biayanya murah dan ada akses ke perpustakaan
mereka yang besar dan lengkap. Sudah beberapa tahun dan sejauh ini semua lancar
dan untuk sekarang tak ada masalah-masalah berat yang membebaninya, meskipun di
sela-sela perjalanan hidupnya dia telah beberapa kali patah hati dan tak pernah
beres untuk urusan cinta dan tetek bengeknya. Kini tak ada pilihan lain, ia
harus terus bergerak sambil mengurus rasa kesepian yang kadang bisa membuatnya
sangat merana.
“ Monyet! Kau jangan lupa, kita harus selesaikan dekorasi
natal di kantor pak Yogi hari ini. Kalau nanti masih sempat, malam ini kita
rampungkan juga instalasi lampu di kafe Orange. Lumayanlah nanti sekalian
kongkow di situ.” Pesan dari Gunar. Karibnya. Teman berbagi pekerjaan, dan
teman nongkrong.
Ia mematikan radio, mengunci kamar, dan berangkat.
---
Red Hot Chilli Peppers halus mendentam-dentam di pendengar
telinga. Selalu album-album lama yang melankolik. Angin kota yang sejuk, yang
seperti masih mau tinggal lama dan menolak terganti dengan siang terang,
menerpa tubuhnya. Ini rute sehari-harinya. Motor bebek tuanya melaju ke kampus.
Bunyi bas Flea menepuk-nepuk, meningkahi pola urutan dedaunan dari pohon-pohon
di pinggir jalan, pola-pola trotoar, dan barangkali angan orang-orang di jalan,
termasuk dirinya sendiri.
Perpustakaan kampus. Suasana dingin sudah terbayangkan dari
area parkir motor. Ia melihat lama pada kemeja flanel kotak-kotak hitam dan
hijau tua dalam genggaman. Kainnya tebal dan hangat. Ada kehangatan-kehangatan
lain juga yang melintas di perasaannya dari saat dan ruang yang jauh. Di dalam
angan. Di bawah awan-awan tebal. Sangat jauh.
“ Jangan tinggalkan aku” perempuan itu berkata kepadanya.
Saat itu mereka sedang piknik di salah satu danau di area kampus. Suasana sepi
dan sejuk. Orang-orang yang bergerombol duduk ngobrol, dan yang sendirian rebahan
menatap langit, tertidur, mendengar musik, atau membaca buku. Bekal piknik : roti madu dengan sedikit minyak
zaitun sudah mereka habiskan. Tinggal teh tarik hangat menyelingi pembicaraan.
Hingga akhirnya, hal yang itu-itu juga yang datang. Perempuan itu penuh
bayangan kekhawatiran. Ia waswas kalau dirinya akan ditinggalkan, entah karena
rasa bosan atau karena ada perempuan lain. Ia tak menjawab apa-apa, ditatapnya
mata perempuan itu, rambutnya, tawanya yang mungil, yang menjejak pada
kebahagiaan-kebahagiaan yang telah mereka lewati.
Beberapa minggu kemudian perempuan itu meninggalkannya. Pergi
dengan lelaki lain yang punya banyak kelebihan dalam banyak hal. Ia kalah.
Seperti yang sudah-sudah. Setelah melewati masa sakit hati yang sering kali
cukup menyita waktu dan tenaga, ia bangkit kembali dan menata ulang hidupnya.
Ia mulai nongkrong dengan Gunar, belajar lagi tentang kebahagiaan dari
menikmati hal-hal sederhana. Ketika dengan lepas ia bisa menertawai
cerita-cerita lucu, ia tahu dirinya sudah mulai sembuh. Hatinya pun menjadi
terlatih dan terbiasa. Seperti yang sudah-sudah.
---
Tak lansung ke perpustakaan, ia mampir sebentar di kantin, bertemu
beberapa orang kawan. Mereka pucat, lusuh, dan sepertinya cukup kelaparan.
Ia mentraktir mereka makan mie instan. Ia memang kekurangan tapi ia tahu betul rasanya kelaparan dan mereka pun sering pula menolongnya. “Buat yang banyak
sayur dan kuahnya ya Bu” katanya saat memesan.
Meski terlihat liar,
kawan-kawannya itu adalah orang-orang yang baik. Mereka mahasiswa yang paling
sering terlihat di kampus. Sebagian memang tak bisa bayar indekos. Di kampus
merekalah ornamen yang meramaikan suasana. Mereka bergaul dengan siapa saja,kelompok
mana saja, dan selalu mudah diterima. Mereka tahu semua kisah-kisah legenda di
kampus. Di sore hari mereka ikut saja
dengan kelompok-kelompok yang olahraga di lapangan, bermain bola dengan celana
panjang yang sudah berbulan-bulan dipakai dan karena bajunya dilepas maka
terlihatlah tubuh-tubuh yang kurus kurang makan dan nutrisi itu. Dengan lepas
dan penuh penghayatan mereka berjoget sepuasnya di konser-konser dangdut,
rege,blues, atau rock, yang sering diadakan di lingkungan kampus. Di fakultas-fakultas mereka selalu jadi panitia bayangan dalam
festival-festival. Mereka juga selalu hadir di acara-acara bedah buku, debat
terbuka, dan seminar-seminar gratisan. Mereka teman yang baik untuk bercerita
tentang rasa kagum usai melihat karya-karya yang menggugah di pameran lukisan
atau pementasan teater, mereka tahu informasi dan cara mendapat buku murah
dengan isi yang menakjubkan di toko-toko buku kecil dalam gang-gang sempit yang
tak terlalu pusing dengan angka penjualan dagangannya atau rental-rental buku
dan komik yang -masih menyewakan komik dan majalah lama dari negara-negara yang
karyanya terlarang, mereka mengikuti jadwal pemutaran film, yang biasanya aneh-aneh,
dari lembaga-lembaga kesenian atau kebudayaan. Mereka tahu cara meracik minuman
dari buah-buahan yang tumbuh liar di lorong-lorong kota. Mereka tahu
warung-warung kecil dengan porsi menu yang banyak dan murah, yang oleh
pemiliknya mereka sering dapat lauk gratis. Kota itu sepertinya mendukung dan
memberikan ruang untuk orang-orang dengan ukuran dan jenis hati serta keadaan
dompet seperti mereka.
Mereka tak punya dukungan keuangan yang stabil. Kebanyakan
datang kuliah dengan kenekatan. Dukungan dari orang tua atau keluarga hanya ada
di masa awal. Seterusnya harus bertarung sendiri. Perjuangan demi ijazah, atau
sekedar bertahan hidup.
“Kapan-kapan mampir lagi ke tempat diskusi” ujar Brewok,
sambil menyeruput kuah mie dengan lahap, mangkok si Brewok terlihat merah
karena dia meminta diberi cabe dan saos yang banyak. Brewok tipe yang jarang
kuliah. Lebih sering ikut diskusi, debat, dan demo di luar kampus. Pernah suatu
malam Brewok datang ke kos, pinjam uang untuk makan (yang tak akan pernah ia
tagih dan juga tak akan pernah dikembalikan). Brewok terlihat bersemangat waktu
itu. “Aku baru selesai ngamuk-ngamuk di acara diskusi di toko buku. Ada dosen
kaya yang sok ngomong soal kemiskinan. Puih! Tahu apa dia! Dia kan bisa makan
kenyang, puas kawin, dan dihormati. Apa pernah dia satu hari saja kelaparan
karena tak punya uang sama sekali? Apa pernah ?!”
Kelompok lapar itu bajunya seragam. Kemeja militer lengan
panjang warna hijau tua agak pucat. Dipakai seperti kemeja dengan
kancing-kancingnya dibuka beberapa di bagian atas, ditutup penuh, atau
disampirkan sekenanya di bahu. Baju kaos mereka rata-rata berwarna gelap. Kaos
kegiatan kampus yang biasanya didapat kalau jadi panitia. Ceritanya ada seorang senior di kampus, yang
sering dapat proyek film di ibu kota, yang memborong kemeja itu di pasar malam,
di bagian baju bekas. Sepertinya kemeja bekas tentara wajib militer dari Korea
atau Vietnam. Ia membawanya ke kampus,di dalam karung yang lumayan besar..” Ayo
ambil, gratis, biar bisa pakai masuk kelas atau ke perpus, kan ada kerahnya
ini, busana resmi lho ini!”, senior itu berdiri di depan panggung kecil, yang
biasanya dipakai mahasiswa sastra untuk latihan monolog saat publikasi untuk
tugas pementasan. Dalam waktu singkat isi karung itu habis. Jadilah sejak saat
itu kemeja itu terlihat marak dan berseliweran di semua sudut kampus. Beberapa
sudah menambahkan aksesoris, bahkan memodifikasi dengan memotong bagian lengan
atau lainnya.
Usai makan, sambil merokok dan ngobrol, si kurus, salah satu
dari teman-temannya itu, membuka sebuah kantong plastik hitam dan menjejerkan
isinya ke atas meja. Buku-buku dengan model jilid lama dengan berbagai judul dan tema. “ Kau bawalah
barang satu-dua, tadi kami dapat dari seorang menir belanda yang perpustakan
pribadinnya sudah ia bongkar”. Mereka menatapnya dan senyum-senyum dengan mata
yang jalang. “Sejak kapan ada menir yang baik sama kalian?” Ia melihat-lihat,
tertawa senang, dan mengambil dua buah. Sebuah novel tahun 1920an dan katalog
pameran lukisan dari suatu tempat di Eropa timur.
---
Di lorong masuk perpustakaan terdapat rak-rak kecil yang
berisi majalah, brosur-brosur, dan selebaran publikasi. Bentuk dan warnanya
beragam. Informasi-informasi itu dari semua fakultas di kampus. Ia mengambil
beberapa yang gratis. Ada tentang pementasan teater, waktunya besok sore.
Brosurnya berwarna pink, dan desainnya dibuat dengan gambar tangan. “Negeri
Para Ikan” dari kelompok teater Mahasiswa Sastra Global. Ruang pertunjukkannya
satu wilayah dengan perpustakaan.
Hujan turun saat ia menyelesaikan satu buku kumpulan cerpen.
Entah kenapa suasana di perpustakaan bertambah dingin. Kemeja flanelnya dia
rapatkan. Di lantai bawah ada kafe
kecil, ia turun dan minum secangkir Americano. Kafe mungil di pojokan itu
dihiasi dengan dekorasi natal yang minimalis namun memberi kesan begitu pas dan
kuat. Lagu natal gaya jazz pelan terdengar. Ia jadi lebih lama di situ dari
rencananya semula. Dua perempuan duduk di meja dekat jendela, gaya berpakaian
dan dandanannya terkini. Mereka sedang bercerita soal pacar-pacar mereka.
“ Aku paling benci kalau aku nanya ke cowokku, sayang ini
lampu kamarnya mati? Terus dia jawabnya, kita gak perlu lampu, kan udah ada
kamu jadi cahayanya,...uugghhhh...mau muntah rasanya”
Cahaya yang temaram
membuat mereka menjadi siluet dengan latar kaca yang basah karena hujan.
Dan di luar hujan bertambah deras
“Monyet, kau di mana? Aku di parkiran. Gila ya ini hujan!”
Gunar menelepon.
Ia membawa mobilnya yang biasa dipakai untuk bekerja. Bagian
belakang mobil penuh sesak dengan barang-barang dekorasi. Mereka berdua menyusuri kota
yang bertirai air. Mobil berkabut aroma kretek dan suara lalu lintas yang terlipat hujan menelisik masuk.
“ Aku jadi ingat dulu pernah natalan di pedalaman. Jadi
relawan pengajar. Oleh pak ketua tim dan kepala dusun disuruh membuat pohon
natal, kalau pohon aman, tinggal milih, lah untuk hiasannya?. Lampu gak ada,
cat gak ada, alat kerja..beuhhh. Aku lalu minta anak-anak sana bawa semua
pisau-pisau mereka yang paling tajam, kalau belum tajam harus diasah. Terus
kita mulai ukir dan potong sendiri hiasan-hiasan natalnya. Beberapa hari kami
kerja. Rumah tempat pohon natal jadi
ramai, ada kawan yang usulkan supaya ada pementasan drama, maka jadi makin
ramai. Mereka latihan di situ juga.Tiap sore kita dikasih makanan dan kopi dari
ibu-ibu dusun. Tak ada listrik, jadi musik-musik natal dinyanyikan dengan gitar
dan perkusi seadanya. Kalau sore selalu hujan, seperti sekarang ini.” Tutur
Gunar.
“ Bagaimana jadinya itu hiasan-hiasan natal?”
“Unik,...luar biasa unik. Mereka buat seperti gaya patung
tradisional mereka.Semua sangat asli. Kalau pas menyanyi atau menari, selalu
diawali dengan lagu-lagu natal yang biasa, tapi kalau makin malam, mereka mulai
menyanyi dengan lirik-lirik bahasa daerah, dan makin lama lagu-lagunya makin
asing. Tapi suasananya tetap suasana natalan. Itu natalan yang paling ajaib
yang pernah aku ikutin. “
Urusan dekorasi di
kantor pak Yogi tak makan waktu lama. Sebuah biro pariwisata. Ia dan Gunar
membuat beberapa patung-patung santa klaus dalam busana tradisional, agak norak
menurutnya tapi pak Yogi senang sekali. Itu memang idenya. Hujan masih saja
turun waktu mereka sampai di kafe Orange. Pekerjaan pemasangan lampu dikerjakan
dengan santai. Gunar menggoda beberapa pekerja perempuan di kafe. Usai kerja,
mereka duduk di tempat favorit, di pojok dekat dengan jendela besar menghadap
jalan. Merokok kretek usai makan malam kentang tumbuk. Gunar kembali mencari
nona yang digodanya tadi, mungkin mau diajak kencan di malam tahun baru nanti.
Ia membaca buku yang diberikan si kurus tadi. Sedikit bahagia, ternyata isinya
menarik. Rokok dihisapnya dalam-dalam saat ingat motornya masih di tempat
parkir perpustakaan.
Ia lupa, belum memberitahu Gunar soal teater besok sore.
Seekor kucing abu-abu lewat di pinggir lorong pertokoan,
menghindari hujan deras yang seolah angkuh, dan hilang di ujung persimpangan.
Malam pun merambat dengan lamban namun pasti, membungkus
semuanya, termasuk semua hal-hal yang belum selesai, seperti daging membungkus
duri.
Kupang, 14 Desember
2025
Comments
Post a Comment