Posts

SORE

  Di sore itu   Manuel dihajar habis-habisan oleh orang-orang yang selama ini membencinya. Dia baru tahu rasa amis darahnya sendiri. Hidung dan bibirnya terasa perih dan pedih serta basah oleh cairan yang mengental.Ia sempat terkesima oleh merah darah di baju seragam putihnya. Betapa mencolok merah dan putih itu. Ia melihat bintang dan kuning kunang-kunang setelah kepalanya tertinju keras-keras, lalu hitam pekat beberapa saat.   Orang-orang, lebih tepatnya anak-anak yang seusianya itu satu sekolah dengannya. Sebuah sekolah di kabupaten kecil, di mana orang-orang takut mengarahkan senter ke hutan di malam hari karena dapat dikira bersekutu dengan gerilyawan. Ia tidak tahu kenapa dia dibenci, terlalu banyak kelompok-kelompok kecil di sekolah dengan jagoan masing-masing yang badannya sudah lebih besar dari para guru dan memiliki otot-otot keras dan terlatih, dan setiap kelompok seperti selalu ingin meninju seseorang atau sekedar berkeliling dari kelas ke kelas menantang ...

Di Ujung Tahun

  Di dalam tas kanvas hijau tua bergaya militer itu, ahh... tas yang sudah belasan tahun menemani hari-harinya, dulu waktu membelinya di pasar loak ia juga ditawarkan tas lain yang sedikit lebih besar dan masih belepotan lumpur, namun ia memilih yang satu ini, yang sekarang di dalamnya ia jejalkan buku-buku dan barang lainnya. Kumpulan cerpen lama, komik-komik tua, buku sketsa, binder kecil dan tas alat tulis berisi peralatan gambar dan kerja.   Kos-kosan sedang sepi. Semua orang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing di dalam kamar. Kebanyakan pintu tertutup. Nanti agak siang, baru mulai ada yang hilir mudik,   duduk-duduk di kursi dan meja di taman berbentuk bundar di tengah bangunan kos yang berapa kalipun dibersihkan akan selalu penuh dengan sampah plastik pembungkus makanan instan, botol plastik, dan bungkusan rokok. Bila ada yang punya duit lebih, mereka pesta kecil di situ. Minum-minum dan bakar ikan atau ayam. Bernyanyi-nyanyi sampai pagi, sampai ada yang...

Arsip

Kopi panas dengan aromanya yang kuat, hal paling baik untuk suasana seperti ini , menemani pembicaraanku dengan Leo. Kami duduk di luar tenda. Roti sedang dipanggang. Tidurku masih saja tidak pulas, padahal itu sebenarnya yang ingin kuperbaiki dengan berkemah seperti ini. Dini hari, dan udara terasa lembut. Suara arus sungai mengalir seperti pencerita yang dengan sabar membagi-bagi kisahnya. Selalu tak ragu untuk kembali. Udara di luar tenda entah kenapa menjadi lebih hangat. Kami duduk menatap sungai. Pohon-pohon pisang bisu dalam deretannya yang memenuhi pinggir sungai membiarkan pikiran yang bebas berkelana di dalam gelap bayangannya. “Apa yang dilakukan para pendosa saat natal?” Tanyaku. Tidak untuk Leo. Hanya sekedar berseloroh, dan dia tahu itu. “Kau cium bau melati hutan itu?” Leo menatap ke arah jembatan. Ada beberapa tenda juga di sana, dan nyala api ujung rokok para pemancing berayun-ayun malas. “Bawa surat-surat itu kemari, dan kita baca-baca lagi” Leo masuk ke ten...

Di Bawah Sorotan Lampu

  “Di masa depan setiap orang akan terkenal selama 15 menit” Andy Warhol   Dalam beberapa tahun terakhir seni rupa di Kupang punya sejumlah kegiatan rutin. Di tahun ini,diadakan pameran BAKUMPUL pada 30 Mei hingga 1 Juni yang lalu, dan satu lagi yang rutin dalam artian sebagai bagian dari program-program berkala oleh pelaksananya (UPTD Taman Budaya Gerson Poyk NTT), yaitu Pameran Seni Rupa Sedaratan Timor di Atambua “Halo La No Kotan, Halo La No Ladik” (Tetun Terik : melebur batas) pada 21-23 Mei. Tentu saja, disamping pameran seni rupa lainnya yang mulai marak di Kupang. Dua pameran yang membuat para senimannya cukup sibuk. Hampir sebagian besar seniman dalam kedua kegiatan itu merupakan para pegiat seni dari lingkaran yang sama, yang di dalamnya dapat ditemui komunitas perupa Kapur Sirih, beberapa komunitas lain dan juga seniman-seniman perorangan. Untuk BAKUMPUL, pameran ini merupakan acara tahunan yang dimulai sejak Kupang bergabung dalam semangat Indonesia Menggam...

Hanya Natal

  Pada Desember kali ini, Pedro de Jesus memutuskan bahwa ia tidak akan ke gereja untuk natalan. Ia tidak akan  pergi ke perayaan natal apapun yang ada sangkut pautnya dengan gereja.  Beberapa tahun terakhir, dalam masa kuliah, dia selalu pulang kampung untuk natalan bersama keluarga, dan semua cara dalam natalan-natalan itu dia usahakan untuk bisa sedekat mungkin dengan ajaran dari gereja. Tentu saja gerejanya dan keluarganya.  Biasanya di awal Desember dia sudah sampai di rumah. Lalu dimulailah kesibukan tahunan itu. Ia berkonsultasi dengan para imam, meminta rekomendasi lagu-lagu natal dari yang gaya abad pertengahan, klasik, City Pop, hingga Jazz, dari para imam muda yang semangatnya masih berapi-api dan cenderung revolusioner. Ia membaca ulang renungan-renungan natal selama sepuluh tahun terakhir, mengulik makalah-makalah yang berisikan studi banding antara gerejanya dan gereja lain dalam merayakan natal, berdoa panjang-panjang setiap malam sambil me...

Suara Apa yang Terdengar di Lorong-Lorong Itu?

 Sebuah Kesan Atas Pameran Arsip Publik Merekam Kota 2024-Ruang Berkumpul: Lokus Raja Estetika Penghadiran Kembali Hal-hal visual yang dipakai dalam pameran ini punya daya yang kuat dalam menangkap para penyimaknya. Dari jalanan arah selatan lokasi gedung pameran orang dapat langsung tercuri oleh warna penataan cahaya yang membalut tembok bagian atas ruangan pameran. Seperti sebuah isyarat petualangan.   Sisi kota yang temaram memang selalu jauh lebih mengundang dan menggoda. Pada  temaram biru keunguan itu, kota Kupang dihadirkan kembali. Para penyimaknya entah orang Kupang atau bukan (hal ini tentu tak jadi masalah) sebagian besar adalah generasi muda dengan tradisi fotografis-medsos mereka yang di dalamnya ketenaran, viralisme,derap kekinian memiliki nilai yang penting. Pameran Merekam Kota kali ini, yang sekali lagi diselenggarakan di De Museum CafĂ© JKK Kota Lama,Kupang (12 -26 Oktober 2024) memberikan banyak cerita, salah satunya tentang orang-orang muda kota ini...

MANUEL TAHU BESOK KIAMAT

Siang tengah segar-segarnya menjenguk penduduk kota seperti penjual es krim yang lewat di depan sekolah saat murid-murid sedang keluar main. Manuel da Gomez sedang mendengar radio sambil menunggu satu-satunya celana Jins miliknya kering di jemuran. Di saat itulah sosok itu datang kepadanya. Sosok dengan pakaian seperti pakaian kerja yang berkantong di sana-sini, bersepatu yang membuatnya terlihat mantap dan pasti saat bergerak dan memiliki wajah yang tegas sepasti kolom-kolom kategori dalam formulir-formulir administrasi pemerintahan. “ Senor da Gomez, Selamat siang, salam sejahtera…“ Ia mengucapkan beberapa lagi salam pembuka yang sangat banyak,   ada juga dalam bahasa yang Manuel tak pahami satu katapun, butuh lebih dari 10 menit untuk salam pembuka itu. “ Saya langsung saja, saya juru kabar” Ia menunjukkan semecam surat perintah, dan jarinya menunjuk ke salah satu logo di bajunya. Ada banyak logo dan simbol-simbol di pakaiannya. “ Bukannya yang biasa jadi juru kabar itu ma...