Arsip



Kopi panas dengan aromanya yang kuat, hal paling baik untuk suasana seperti ini , menemani pembicaraanku dengan Leo. Kami duduk di luar tenda. Roti sedang dipanggang. Tidurku masih saja tidak pulas, padahal itu sebenarnya yang ingin kuperbaiki dengan berkemah seperti ini. Dini hari, dan udara terasa lembut. Suara arus sungai mengalir seperti pencerita yang dengan sabar membagi-bagi kisahnya. Selalu tak ragu untuk kembali. Udara di luar tenda entah kenapa menjadi lebih hangat.

Kami duduk menatap sungai. Pohon-pohon pisang bisu dalam deretannya yang memenuhi pinggir sungai membiarkan pikiran yang bebas berkelana di dalam gelap bayangannya.

“Apa yang dilakukan para pendosa saat natal?” Tanyaku. Tidak untuk Leo. Hanya sekedar berseloroh, dan dia tahu itu.

“Kau cium bau melati hutan itu?” Leo menatap ke arah jembatan. Ada beberapa tenda juga di sana, dan nyala api ujung rokok para pemancing berayun-ayun malas.

“Bawa surat-surat itu kemari, dan kita baca-baca lagi”

Leo masuk ke tenda, dan datang dengan sebuah tas kulit tua yang mengembung padat karena isinya. Sudah beberapa tahun belakangan tas dan juga isinya itu jadi bagian dari perkemahan kami.

Dengan terang lampu kemah yang membuat semua agak terlihat kuning kami mulai membongkar kumpulan surat-surat dari tas itu. Leo membaginya dalam dua tumpukkan yang sama besar dan aku diberinya satu tumpuk. Saat awal kuliah kami berdua ikut jadi relawan dalam pameran arsip yang dibuat oleh perpustakaan kampus.  Ada satu bagian yang diberi nama Sisi Nostagia dan isinya sangat beragam. Maksud panitia sisi itu mau diisi gambaran kehidupan mahasiswa yang personal dan sesuai semangat pameran kala itu yaitu “Sentimentil”, namun arsip yang terkumpul ternyata sangat banyak dan bisa jadi satu pameran sendiri. Tidak semuanya lolos kurasi. Tidak semuanya berupa surat dari masa ketika pos masih menjadi cara komunikasi jarak jauh yang utama, ada juga berupa email, atau isian dari aplikasi-aplikasi media komunikasi pesan lainnya yang dicetak dan diberikan keterangan.  Arsip-arsip yang tak terpakai itu kami ambil.

Ada yang keterangannya lengkap dan cukup membantu, ada juga yang minim dan membingungkan.

Saat membongkar-bongkar dan membaca kami tenggelam dalam cerita-cerita itu dan antara beberapa saat akan membacanya dengan bersuara.

Leo tersenyum dan mulai membagikan temuannya,

“Keterangan : Cerita pendek dari sebuah koran lokal tentang mahasiswa yang pulang liburan natal. Cerita sepeti  ini membanjiri koran-koran lokal di bulan Desember di kota yang mayoritas penduduknya merayakan natal. Mungkin karena jaringan koneksi penulisnya dengan para redaksi dan wartawan mungkin juga karena tema romantisme pulang natal bagi mahasiswa sepeti ini sudah jadi tradisi untuk natal keluarga-keluarga kelas menengah yang sanggup mengirim anaknya belajar ke kota besar.

Tadeus baru tiba di kota. Datang liburan kuliah. Libur natal. Harusnya dua tahun lalu dia sudah lulus. Rambutnya diwarnai pirang muda menyala. Pakaiannya modis. Bawa knalpot motor baru dari Jawa yang dikirim lewat kapal karena dia menuntut orang tuanya kalau dia harus pulang naik pesawat. Dia punya gebetan tiga perempuan, dua mahasiswi beda kota perantauan yang juga sedang pulang liburan, dan yang terakhir adalah bunga desa. Karena kepiawaian rayuannya mereka bertiga siap dia cumbui di liburan ujung tahun ini. Surga pokoknya.”

Pembacaan diselingi dengan menghirup kopi,menyantap roti, dan merebus air.

“Keterangan : “Sobekan dari catatan seorang mahasiswa yang menemukan foto-foto keluarganya dalam berita-berita lama tentang peperangan pada buku-buku di perpustakaan kampus. Buku harian itu berisi uraian-uraian dan komentarnya soal kejadian-kejadian besar sosial dan politik dalam beberapa dekade ini.

1975, suara perang dan orang berdoa tentang bukan hanya Natal tetapi juga untuk keselamatan diri sendiri dan juga mereka yang telah pergi. Selamat Natal AK-47. Selamat Natal ideologi. Selamat Natal pilihan politik. Selamat Natal masa jahanam.”

“Keterangan : Isi percakapan grup aplikasi pesan. Seorang lelaki, sepertinya mahasiswa semester akhir yang diputuskan pacarnya karena merasa hubungan pacaran mereka yang sudah tiga tahun tak punya masa depan yang menjanjikan.

“Coba kalian baca yang dia kirim ke aku waktu kami mulai tak nyambung dan mulai sering bertengkar :Bodoh, kau kalau tak kerja, dan tak ada niat jelas mau kerja apa, mau jadi apa kita nanti? Kerja sana, buat rumah, punya mobil, nanti aku kasih anak”

“Keterangan : Isi surat dari seorang alumni fakultas keguruan yang pulang  dan bekerja di kota asalnya kepada sahabatnya yang membuka sebuah sekolah dengan metode yang berbeda dengan sekolah kebanyakan.

“ Sardono yang baik, aku sudah mulai kerja di salah satu sekolah di sini. Banyak hal yang kutemui dan tidak semuanya bisa dibungkus dan dipahami dengan semangat yang kita hidupi saat kuliah dulu. Saat kita terbakar oleh Kartini, Ki Hadjar Dewantoro, Brigade Conrado Benitez, Paulo Freire, dan Romo Mangun. Cukup banyak hal yang harus kupahami dan kadang aku merasa mulai melemah (apakah ini faktor usia?) tak bisa lagi melihat semuanya dengan jernih dan luas. Aku cenderung pesimis dan apatis. Tak ada apa-apa di sini Sar, aku kadang bisa sangat kesepian. Aku rindu kalian dan diskusi-diskusi panjang kita di warung-warung kopi. Orang makin tak peduli soal idealisme, atau aku saja yang belum paham betul apa sebetulnya idealisme mereka, uang? Jaminan kemanan hari tua? Kenikmatan-kenikmatan menurut versi  mereka?

Oh ya, sukses untuk sekolahmu ya. Terima kasih untuk kliping berita tentang sekolahmu yang kau kirim. Kliping itu kubingkai dan kutaruh di meja kerjaku. Kalau murid-murid bertanya aku akan bercerita tentang kau dan mereka suka mendengarnya.”

Udara mulai agak dingin. Aku membuat api unggun.

“ Keterangan : Curhatan seorang mahasiwi di media sosialnya. Bagaimana ia dilecehkkan oleh salah satu dosennya. Dan kasusnya sampai hari ini belum ada penyelesaian yang jelas.

Bapak pernah bilang kalau kita manusia adalah makhluk yang bebas dalam menentukan jalan hidupnya. Begitu juga menentukan perasaan. Begitu juga isi hati. Lalu bagaimana dengan perasaan ini, malah memenjarakan saya. Cinta itu putih seperti bunga, dan bunga juga ada yang warnanya merah, seperti darah.”

Roti panggang  habis. Leo mengantuk dan berhenti membaca. Ia memberikan ponselnya dan memintaku meihat isi sebuah pesan. Dari orang tuanya. Di liburan akhir tahun kali ini, di saat pulang natalan dia harus ikut tes masuk kerja pada perusahaan milik relasi  keluarganya. Bidang kerja yang jauh berbeda dari jurusan kuliahnya. Permintaan yang tak bisa ditolak. Ayahnya bilang, yang penting diterima dulu nanti urusan kuliahnya bisa diatur belakangan. Konon mereka juga sudah mengatur soal istri untuknya.

Kukembalikan gawainya dan aku paham dari wajahnya, sama sepertiku, perkemahan ini tidak terlalu berhasil mengusir kekalutan kami masing-masing. Tidur-tidur masih akan terganggu. Aku mengambil beberapa surat lagi dan lanjut membacanya di dalam tenda.

Kupang, 4 Desember 2025


Comments

Popular posts from this blog

Di Bawah Sorotan Lampu

Di Ujung Tahun