Mungkin Sebaiknya Aku Menyebut diriku Orang Mars. Mungkin...

“I am  a stranger in my land” Andy Tielman (The Tielman Brothers)

Lagu ini pertama kali kudengar di kantin kampus, waktu masih di IRB dulu, saat itu juga kutonton videonya. Sebelumnya sudah beberapa kali kudengar cerita soal lagu ini. Baru ceritanya saja. Alasan bisa ketemu dengan lagu ini adalah karena beberapa karib di IRB. Mereka adalah penggemar musik, meskipun selera musik mereka sampai hari ini masih merupakan hal yang menakjubkan buatku. Cara mereka menceritakan tentang musik itu yang membuat obrolan kami tetap selalu nyambung. Seperti biasa, obrolan yang khas di IRB, entah di kantinnya atau di lorong-lorong kelas yang penuh asap rokok (konon waktu itu lorong di IRB adalah satu-satunya bagian di kampus yang tak ada papan larangan “tak boleh merokok”) tema obrolan bisa ke mana saja. Sungguh. Dari logo rokok sampai eksibis-eksibis di kampung-kampung yang makin parah kelakuannya , dari pameran seni terakhir sampai situs-situs yang nyebarin versi pdf-pdf karya sastra yang bisa diunduh gratis. Entah kenapa sampai ngomong soal lagunya salah satu pentolan The Tielman Brothers itu. Mungkin karena aku yang selalu menyertakan hal-hal “keindonesiaan timur” dalam cerita-ceritaku (ini sudah hal yang lumrah bagiku, meski sudah lebih dari satu dekade aku ada di tempat itu).
 
Teringat lagi tentang lagu ini saat aku sudah hijrah ke Kupang. Kota kelahiran. Dan kini, jadi tempat untuk memulai apa yang bisa dimulai. Ngomong emang gampang. Aku tiba dengan keadaan yang tak terlalu pasti-pasti amat. Maksudnya soal masa depan, yang pasti berkaitan dengan kerjaan. Jurusan kuliah yang tidak biasa, yang selalu membuat ibuku dan sanak saudaraku bingung, kadang dalam raut wajah Mama bisa kubaca “Kenapa sonde ambil jurusan yang lain saja dulu ?”.Betul ko sonde ee? Well may be its just me.  Aku sendiri tak pernah menyesal, heran dan bingung sih iya, tapi lebih kepada sikap-sikap yang aku terima soal jurusan kuliahku. “Kajian Budaya?, hmmm, itu bisa kerja di mana? Jadi PNS bisa?”. Jujur aku tak tahu akan kerja di mana, dan belum berpikir untuk jadi PNS. Tak pernah juga aku bepikir akan mengetik tulisan ini di atas sebuah meja di kantor redaksi sebuah majalah di mana sudah hampir setahun aku bekerja mengurus beberapa rubrik, sambil sesekali menjawab SMS dari mahasiswa di sebuah sekolah tinggi yang mengkonsultasikan tugas akhir mereka. Hidup memang penuh hal tak terduga. Aku memang tak pernah menyesal. Karena merasa tak harus, dan malah aku bersyukur sudah bisa mencapai sesuatu pada bidang yang pada dasarnya memang adalah minat pribadiku : seni visual dan penulisan. Ada sedikit kelegaan soal harga finansial yang harus dibayar saat mengingat kalau sekolah level magisterku  mungkin salah satu yang termurah di Indonesia itu. I am really okay, right? Mungkin aku memang pandai menghibur diri.

Lirik lagu itu kupakai untuk kutipan pengantar tulisan yang mau kubagikan di sini. Mengenai pengalaman dianggap bukan sebagai orang asli.  Oke, soal istilah “asli” mungkin masih bisa didebat lagi (orang asli untuk kota multi etnis dan ibu kota propinsi seperti di Kupang itu siapa sebenanya?). Tapi kukira bisalah dipakai kata itu untuk tulisan ini. Jarang ya orang jelasin panjang lebar soal ungkapan  yang dipakai sebagai pengantar dalam tulisannya? Boleh lah, kan tak ada larangannya juga kan?. Memang terasa agak terlalu pas ya (bukannya harusnya bersyukur?). Intinya, aku mau menulis tentang rasa tak enak yang muncul karena penanda-penanda identitas yang ada padaku, dan bagaimana itu mungkin tertangkap dari luar dan diartikan dalam bentuk tertentu. Aku mau bercerita bagaimana sentimen rindu kampung halaman saat merantau dulu, sering jadi garing, remeh, bahkan menyedihkan ketika diri sendiri dianggap orang luar yang sudah sepaket dengan artian : this place is not belong to you, so just be a nice foreigner and you can keep some stories whenever you go back home to whatever place of yours.  

Untuk memenuhi kebutuhan pangan. Makan-minum sehari-hari, aku belanja di sebuah kios sayuran dekat rumah. Alasanya sederhana, tempatnya dekat dan mereka juga buka hampir 24 jam. Betulan ini. Mungkin karena kios itu juga merangkap rumah mereka. Di kios itu ada TV, kompor beserta alat masaknya, drum-drum berisi air, dan bahkan mereka punya peliharaan beberapa ekor anjing. Bangunannya cukup besar untuk ukuran kios, lebih seperti bangunan kubus memanjang yang tak berdinding di bagian depan. Hampir setiap kali aku muncul, Ibu penjaga langsung menyapa “ mari paman, mau beli apa?”. Cukup ramah. Paman adalah panggilan untuk lelaki Bugis dewasa. Salah satu etnis yang cukup banyak di Kupang. Aku akan bicara dengan bahasa melayu kupang, dan ini tak mengubah apapun. Mungkin dia tak peduli aku ini paman, mas, abang, pace, nyong, no, nong, ama, to’o, atau makhluk Mars sekalipun. Asal dagangannya dibeli. Aku pun tak mau pusing. Asal sayur, bawang bombay, dan kentang ada di situ. Apa sih kemungkinan terburuk yang dapat terjadi saat aku dikira bukan orang dari identitas kultural berdasarkan garis keturunan leluhurku? (Timor-Helong ( ya ya ini juga masih bisa dan perlu dibahas)). Jelas ini soal kepentingan. Apa kepentinganku dengan identitas ini, atau seberapa perlu aku diakui sesuai dengan apa yang menurutku aku harus diketahui?

Pertanyaan tadi mau tak mau membawaku pada suatu gambaran yang lebih luas. Gambaran tentang hubungan antara etnis di kota ini. Seorang kawan, yang adalah penulis (esai-esainya sudah sering dimuat di koran-koran kota ini), pengamat sosial, dan menyebut dirinya sendiri penikmat sastra atau seni pernah bilang “Di kota ini primordialisme cukup tinggi”. Teman itu masih bicara banyak lagi. Soal bagaimana sebaiknya banyak fenomena dan masalah sosial akan punya gambaran tersendiri bila dilihat dengan sudut pandang kecenderungn etnisitas ini ( aku dah coba dan untuk beberapa hal memang jadi lebih jernih untuk dipahami). “Kadang untuk bekerja, kita harus punya hal-hal yang memenuhi standar tempat kita melamar, yang bukan soal skil, tapi soal suku dan agama kita (oke, aku tahu ini sudah soal yang sensitif, but let's keep going).Lanjut temanku,” Waktu melamar jadi pengajar di sebuah institusi aku pernah ditolak, alasannya S1 dan S2 ku menurut mereka tak linear. Aku jelasin soal “kelinearan gelar” yang sering diartikan dengan ngawur itu (kata temanku, menurut aturan resmi pemerintah, untuk jadi pengajar bukan soal jurusan S1 dan S2 yang tak “sealiran”, tapi soal kompetensi yang dimiliki si calon pengajar untuk mengajar sesuai dengan bidang akademis pada posisi yang diincarnya. Aturan ini dicetaknya dan dibawa ke mana-mana sebagai persiapan bila ada debat soal itu (orang ini memang keren..hehe)). Dan kubilang ke orang itu, ini kan bukan karena gelar saya yang tak linear, tapi karena tempat lahir (asal/etnis) dan agama saya yang tak linear”. Orang itu diam (typical!), entah karena berpikir entah karena tak mau tahu. Memang paling enak ya kalau jadi orang cuek.

Pekerjaan menulis berita, membuatku banyak bertemu orang. Orang Kupang. Dari majalah tempatku bekerja, aku ditaruh di pos berita-berita dari kampus. Dibuat paralel sama tugas satunya lagi, yakni jadi pelaksana program kerja sama kantor sama salah satu sekolah tinggi bahasa asing di kupang. Mengajar Kajian Budaya. Jadi ya gitulah, banyak ketemu mahasiswa. Salah satu cara cari berita ya maen ke kampus-kampus di kota ini. Makan di kantin-kantin kampus, ngobrol-ngobrol sama orang BEMU atau BEMF, ngelirik papan pengumuman di lorong-lorong fakultas, dan sebisa mungkin dapetin jurnal atau terbitan berkala yang mereka punya. Dari sini pula, saat kupakai sudut pandang primordialisme itu, dapatlah gambaran yang lumayan terang. Mari dengar lagi pendapat temanku yang tadi,” Kampus adalah salah satu tempat di mana kecenderungan untuk mengumpul, atau bergaul, berdasarkan kesamaan latar belakang etnis yang sama tumbuh dengan subur. Bisa dibilang, dari kampuslah semua ini dimulai.” Ada benarnya juga, kalau kampus jadi tempat pengentalannya. Di salah satu bagian di kota ini, di mana banyak terdapat rumah kos untuk mahasiswa, sering sekali terjadi perkelahian, tawuran. Awalnya masalah personal, terus jadi masal. Nah yang masal ini pasti warna utamanya sudah soal etnis. Karena sebagian mahasiswa berasal dari kabupaten-kabupaten yang ada di NTT. Saat di Kupang, sentimen dan romantisme kampung halaman pasti selalu membayang. Maka mau tak mau segala hal pasti akan dikaitkan dengan identitas ini, termasuk dalam memilih teman dan kelompok pegaulan. UD (Utusan Daerah), sebuah istilah yang kerap dipakai untuk menggambarkan mahasiswa dari luar Kupang, maknanya terkesan memarjinalkan dan mengejek. Ironisnya, kampus yang harusnya mengajarkan atau jadi tempat untuk belajar dan melatih kebebasan berpikir malah jadi lahan subur untuk sejenis ekslusifisme ini. Memang perlu dibuat pendataan yang terang, karena toh apa yang aku dapat hanya berdasarkan kesan-kesan. Meski tetap kuat terasa.

Kalau memang benar begitu, soal kampus tadi. Maka tak heran jaringan ini makin besar dan kuat saat para pelajar selesai dari kampus dan terjun ke masyarakat. Ke lembaga-lembaga di tengah masyarakat. Pola-pola yang sama lagi. Aku sudah sering mendengar analogi ini, “Tahu kenapa kita di sini cenderung mengumpul sesama suku? Lihat motif tenun ikat kita? Kotak-kotak, garis-garis, kaku dan tegas. Makanya kita cenderung mengotak” kupikir betul juga ya. Tegas. Aku tahu ini adalah warisan yang dipertahankan berabad-abad, terseleksi dari cara-cara lain untuk tetap bertahan hidup.

Kenapa aku peduli?. Yah sedikit banyak aku akan terkena imbasnya juga. Bahkan turunanku kelak. Mungkin juga karena kepentingan cari makan itu. Pasti amat sangat mendongkolkan kalau suatu saat ada urusan dan keperluan yang terhambat atau menjadi susah karena masalah latar belakang etnis atau agama. Kalau yang soal agama ini. Duh,...akan kita bahas lain waktu lah. Tapi sungguh, sangat duh sekali,..sangat. Apalagi kalau akan bermasalah hanya karena dianggap bukan orang asli. Ini memang tidak mungkin jadi soal yang besar, toh sudah banyak orang asing di Kupang dan mereka hidup aman damai sentosa, dan terus beranak pinak seperti di tanah sendiri.

Ini hanya soal pengakuan. Siapa coba yang merasa nyaman saat tak diakui tentang sesuatu yang secara mendasar adalah miliknya. Sesuatu yang punya kesan pribadi dan sentimentil yang kuat. Di manapun orang asing akan diperlakukan sebagai orang asing. Dilihat berbeda, lain, dan diberi batas-batas. Baiklah, secara fisik memang aku jauh dari ciri etnisku (baik patrilineal maupun matrilineal), mau bagaimana lagi, resiko orang berdarah campuran. Biasanya pengidentifikasian itu dimulai dari dugaan-dugaan yang akan muncul dengan serangkaian asumsi. Kalau ada kesempatan, akan hadir konfirmasi dari perkenalan diri, Dugaan-dugaan tadi pun bisa terjawab. Tak ada kerugian yang cukup parah dari dianggap orang asing ini. Hanya lahir rasa kesepian, tak berada di kelompok manapun, “I am not belong to any club”. Sendirian di suasana di mana orang cenderung berkelompok. Dalam buku “The Name of the Rose”nya Umberto Eco, ada tokoh yang bicara dengan banyak bahasa. Satu kalimat yang diucapkannya berisi paling kurang gabungan dari dua bahasa. Komentar tokoh utama soal orang itu “ Ia bicara semua bahasa dan bukan bahasa apapun sekaligus”. Bagian dari beberapa kelompok dan bukan bagian dari kelompok apapun sekaligus.




Makanya sebaiknya aku memperkenalkan diriku sebagai orang Mars. Asingnya pol abis. Tak ada yang tahu bagaimana ciri dan budaya orang Mars kan? Jadi aku bebas membuatnya sendiri. Tak ada yang tahu pada Tuhan yang seperti apa orang Mars berdoa, itupun kalau dia berdoa, dan beragama, ugh..agama. Dan lagi ini tak akan jadi beban yang berat. Yah, aslinya aku kan bukan orang Mars. Sama seperti yang lainnya di bumi ini, aku hanya sedang mencari identitas. Kadang bentuknya mirip topeng. Sebagian lahir dengan topeng yang sudah sangat melekat hingga tak perlu lagi ia persoalkan. Sebagian lahir dengan topeng yang berbeda dari yang sudah (biasanya) ada. Sebagian cuek saja (dan ini selalu mungkin dilakukan) pada topeng apapun yang didapatkannya. Sebagian entah diberkahi atau dikutuki, untuk selalu bertanya tentang topeng apa yang dikenakannya dan mengapa demikian. Ke mana orang Mars pergi setelah mereka mati? Entahlah, aku bukan orang Mars, hanya menarik untuk dipikirkan, apa di hidup yang lain setelah yang satu ini (bila ada) kita masih perlu topeng-topeng itu?

Comments

  1. Menarik kak. Beta baru tau kalo di kota yg sama2 katong pijak ini ada pengelompokan berdasarkan etnis, iya kak? .

    Benar sih, baru sadar juga klo dlu di kampus sering sekali kumpul kumpul per kontingen.

    Orang Mars? Hai beta Venus hahahah


    Tulisan yg menarik kak Mando

    ReplyDelete
  2. Hai, terimakasih sudh mau membaca.
    Salam dari Mars! Halah...
    Iya memang pengelompokan ini mengambil tempat pada level realita yg tidak kelihatan secara jelas. Lebih seperti (meminjam istilah Ben Anderson) "komunitas terbayang" yg kadang bisa muncul dalam bentuk formal...tapi bnyakan muncul dalam gesekan kebutuhan: pekerjaan, perkawinan, dan sejenisnya. Apalagi kalau sudah soal kebutuhan posisi politik. Kalau diamati lebih jauh mgkn bukan cuma di kampus...
    Hehehe...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Di Bawah Sorotan Lampu

Arsip

Di Ujung Tahun