Kupang Yang Subur : Suatu Konstelasi Keinginan
Gerakan dan aktifitas seni visual
di kota Kupang dalam beberapa tahun terakhir telah melahirkan tambahan sejumlah
seniman dan komunitas seni, dengan
gaya,aliran, paham, dan dengan tentu saja karakter masing-masing. Grup-grup
Whassap terbentuk dan sebagian besar menjadi sarana utama untuk media
komunikasi anggota komunitas, bahkan dimasukannya seseorang dalam grup menjadi
salah satu penanda bahwa ia telah diterima dalam komunitas. Tak hanya di bidang
seni gambar, hubungan-hubungan juga terjalin dengan komunitas seni yang lain
seperti sastra, film, dan komunitas literasi.
Gerakan dan aktifitas ini
adalah hasil dari pernyataan seniman dan
kelompoknya sebagai pihak yang memiliki bahasa tersendiri untuk menyampaikan sesuatu
yang menghantui dan selalu memburu mereka. Ilustrasi yang menurut saya dapat
dipakai untuk menggambarkan suasana dihantui yang mesra dan haru biru ini
adalah bagian dari sebuah cerpen dalam buku kumpulan cerita pendek karya
Suwarsih Djojopuspito,Siluman Karangkobar, yang terbit tahun 1963.
Pada bagian itu, diceritakan
seorang karakter, Gozali namanya, seorang seniman, penulis. Ia seorang yang
sederhana, karismatik, tinggal di gunung dengan penghuni-penghuni gunung yang
digambarkan seperti bocah-bocah kecil. Kadang ia turun ke kota,mengunjungi
teman-temannya yang berpesta dan menyapa mereka ala kadarnya. Ia seorang
perenung dan suka mengamati alam lama-lama. Suatu hari langit di gunung tempat tinggalnya sedang
cantik-cantiknya, bulan purnama hadir dengan sangat molek, awan-awan terbentuk
dengan lembut dan gagah sekaligus. Gozali terpana. Untuk menambah keindahan
(dan juga kerumitan barangkali) hadirlah sosok bidadari yang jelita dan punya
daya sihir yang mampu mengabulkan apapun keinginan seorang manusia. Terjadilah
pembicaraan antara mereka berdua. Gozali meminta satu hal saja, kemampuan untuk
menuliskan keindahan langit malam itu dengan sempurna. Memindahkan cahaya,kelembutan,
keindahan, kedamaian yang disaksikannya ke dalam sebuah tulisan yang dapat utuh
merangkumi. Bidadari menolak dan menawarkan hal lain berupa kekayaan,
jabatan,kehormatan dan tentu saja cinta penuh hasrat dari dirinya sendiri.
Gozali menolak. Bidadari kembali menunjukkan kemungkinan-kemungkinan yang penuh
gelora kebahagiaan dari tawaran-tawarannya itu, langit berubah menjadi panggung
di mana lakon-lakon dengan tokoh Gozali yang kaya,terhormat, kenyang akan cinta
tampak hidup dengan puas dan bahagia. Gozali tak menggubris sedikit pun, ia
bahkan tersinggung, merasa dicederai keinginannya,kediriannya. Dengan wajah
penuh tangis dan kata-kata ratapan ia
mengakhiri hidupnya. Cerita berakhir.
Dengan sebuah metode pendekatan
yang eksperimental, inovatif, dan usaha sebagai refleksi dari realitas sosial,
politik, budaya, dan teknologi teraktual para seniman di NAMLIA mencoba
memediasikan keinginan mereka. Hal ini tentu dapat memperkaya diskusi seni
visual dan barangkali sesuatu yang disebut dengan kebudaayaan itu, dalam
konteks kota Kupang. Saat keinginan
sudah lahir dan jelas terbentuk, harganya bisa sangat mahal, bahkan harganya
bisa saja adalah kehidupan itu sendiri. Seniman adalah mereka yang tidak bisa
menghindari kepiluan yang hebat saat tak dapat menyatakan ide,pemikiran, dan
tentu saja perasaan dalam bentuk cara dan media yang mereka kuasai atau akrabi.
Bagaimana hasrat untuk berseni ini dimaknai di kota Kupang? Untuk apa seniman
berkarya? Seberapa jauh seniman sudah masuk ke dalam dirinya? Sejauh apa mereka
membahas, meningkahi dan merombak semua simbol-simbol kediriannya yang datang
dari lingkungan sosial budayanya? Ini akan menjadi pengamatan kita bersama.
Seberapa kuat keinginan menghidupi seni diadu dengan keinginan-keinginan yang
“populer” tentang hidup itu sendiri? Dengan ragamnya jenis karya dan cara
pendekatan dalam berkarya, NAMLIA akan menjadi sebuah pemetaan atau konstelasi
hasrat berkarya dari para senimannya.
Gejolak keinginan tak selalu
mulus-mulus saja berjalan menuju pemuasannya. Semua sudah tahu hidup memang
menyebalkan. Pergulatan-pergulatan menuju terpenuhinya keinginan itulah yang
menjadi kawah di mana hidup lahir dan makna-makna muncul. Kawah yang penuh
luka.darah.dan lumpur perjuangan. Hanya dari lumpur dapat tumbuh teratai yang lembut.
Lumpur adalah kesuburan. Semoga semua seniman dapat menyambut dan menerima dengan
berani pergulatan mereka masing-masing demi hadirnya sebuah kesuburan dalam
berkarya.
Kelapa Lima,13 Juli 2023
Armando S.
Tulisan ini dipakai sebagai "Pengantar" dalam pameran NAMLIA 0.0. Kontemporer: Kelahiran Baru, yang diadakan di Galeri Oko Mama, Taman Budaya Gerson Poyk, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 13-14 Juli 2023. Tulisan ini merupakan bagian dari lingkup tugas penulis sebagai kurator pada pameran di atas.
Comments
Post a Comment