Kelas Sore

 


 

Alasan cerita ini menjadi sebuah tulisan adalah karena permintaan dari seorang teman, seorang karib dekat. Seorang sahabat. Orang yang akan ada dalam cerita ini juga.

Dia tahu kalau aku sedikit bisa menulis, dari beberapa cerpen yang biasa kubuat untuk situs-situs yang menerima tulisan atau karangan sastra dengan seleksi yang tidak terlalu ketat. Di lingkup pertemanan kami, para penggemar sastra yang biasa-biasa saja, termasuk si sahabat, rata-rata suka membaca karya di situs-situs itu, atau ada juga yang pernah karyanya terbit di situs-situs sastra yang kalam dan santai itu.

Ketertarikanku menuliskannya timbul dari cara, katakan saja kebiasaannya,saat Ia menceritakan pengalaman itu. Meskipun ceritanya hanya soal hal-hal biasa. Hal keseharian yang agak membosankan. Ia bercerita seolah cerita-cerita ini adalah salah satu dari hal berharga yang dimilikinya. Beberapa kali  aku mendengarkannya bercerita, dan kadang aku merasa ada hal lebih yang entah sengaja atau tidak telah ikut  terbagikan. Sesuatu yang tidak begitu mudah dijelaskan.

Semula aku hanya bilang bahwa kisah-kisahnya itu bagus untuk kugambar. Memang aku juga kadang membuat komik amatiran, atau novel grafis yang biasa dipilih karena dapat menyamarkan kemalasan menggambar berulang-ulang. Terserah aku katanya. Mau pakai cara dan gaya apa saja.

Ia memintaku menuliskannya sesaat sebelum kami berpisah. Kami duduk-duduk di sebuah warung kopi kecil yang menu tehnya lebih banyak dari menu kopi. Ia akan pulang ke kota asalnya.

“Kalau tidak digambar ya, dalam bentuk cerpenlah, atau cerita-cerita apa begitu yang lumayan panjang. Baik sekali kalau kau mau tulis soal hari-hariku, soal kelas soreku...” bilangnya.

 Aku bersedia. Ia senang. Maka jadilah.

Sahabatku itu, Darto namanya. Masa-masa yang suka diceritakan itu adalah masa ketika Ia baru lulus kuliah. Ia diwisuda dengan gelar Sarjana Sastra.Di masa itu Darto bekerja sebagai penerjemah lepas, dan memberi les bahasa asing untuk anak SD sampai SMA. Hal itu cukup membuatnya bahagia. Hidupnya baik, timangnya. Sekalipun kadang Ia gelisah melihat  teman-temannya yang  sudah punya pekerjaan lebih mapan dan bergaji lebih besar darinya, mereka yang bekerja sebagai pegawai pemerintah atau di divisi administrasi  perusahaan-perusahaan besar yang selalu menjadi semacam gambaran senyap dari sayap teknokrat kehumasan kampus Darto soal orientasi karir ketika mereka baru mulai masuk kuliah. “Kemampuan bahasa asing kita akan membuat kita menjadi penting di sana.Kita akan menjadi semacam raja kecil. Banyak uang, banyak kenikmatan” Ia membayangkan salah seorang dari temannya yang sukses akan berbicara seperti itu.

Dan itu tak pernah terjadi. Mereka paling hanya akan bertemu di acara reuni. Berlomba-lomba untuk jadi yang paling banyak mentraktir, dan minum-minum sepuasnya sampai mabuk, lalu ketika hampir pingsan ada yang akan mulai membisikan isi hatinya yang terdalam tentang kisah cinta, hubungan gelap, atau perasaan-perasaan suka yang terpendam saat masih kuliah yang sebenarnya sudah bukan rahasia lagi di samping kisah-kisah konyol lainnya.

Tentang masa depan dan pekerjaannya Darto selalu diam-diam gelisah.

Apa yang paling Darto suka dari masa-masa itu adalah sebuah kelas sore. Darto merasa ia perlu mengambil lagi sebuah pelatihan bahasa asing tambahan untuk melengkapi beberapa yang telah dikuasainya lewat kuliah. Dengan mudah ditemukannya kursus itu. Kelasnya diadakan sore hari di sebuah kampus. Usai memberi les pada anak-anak SMA yang selalu gelisah dan ingin cepat-cepat selesai agar bisa segera mencumbui pacar-pacar mereka , Darto meluncur ke kelas sorenya.

“Ada dua orang seniman dari luar kota yang ikut kelasku. Mereka datang dengan gaya pakaian Punk, yang satu botak, yang satu gimbal tapi hanya di sepanjang jalur tengah kepalanya. Rambut gimbalnya disemir pink”

“Semua ada lima orang di kelas kami. Hanya ada satu perempuan, dan satu lagi seorang guru yang masih lumayan muda. Yang perempuan itu masih kuliah.”

 Darto selalu penuh semangat saat bercerita soal kursus.

Kursus itu memakai cara mengajar yang tidak hanya di kelas. Mereka sering dibawa ke tempat-tempat umum, biasanya ke acara seni, dengan beberapa penutur asli. Dari situlah mereka akan ngobrol dengan tema-tema pelajaran yang biasanya akan berkembang ke mana-mana.

Darto begitu menikmati suasana kelas sorenya. Baginya hari-harinya berjalan dengan sempurna. Di antara uang hasil kerja menerjemahkan yang pas-pasan, les sore dengan remaja-remaja puber yang bimbang dengan gejolak  pencarian jati diri, dan waktu-waktu kosongnya yang dipakai hanya untuk tidur siang atau nongkrong lama-lama di kafe-kafe kecil bemenu  murah dia merasa hidupnya tak pernah selengkap ini. Ya, sederhana saja: lengkap.Tak perlu harus secara sastrawi menggambarkan bagaimana sinar matahari terasa lebih cerah atau malam yang tenang terasa lebih haru baginya. Sekalipun Ia tak punya kekasih.

Darto tak punya pacar kala itu. Sebelumnya, Ia pernah jatuh cinta beberapa kali, pacaran satu dua bentar namun tak ada yang bertahan. Semua kisahnya berakhir pilu atau buruk. Satu perempuan dari kisah-kisah cinta singkatnyanya itu menganggap Darto sebagai lelaki yang tak ada tujuan dan ambisi hidup. “Kerja sana, buat rumah, beli mobil, nikahin aku, nanti aku kasih kamu anak, kalau kamu hanya melamun begini mau jadi apa kita nanti?” Kata perempuan itu agak teriak sebelum seminggu kemudian minta putus setelah ketahuan selingkuh dengan laki-laki lain. Aku harus menemani Darto seminggu penuh mabuk-mabukan setelah itu.

Perempuan-perempuan yang dulu ditaksirnya, atau pernah menjadi pacarnya itu sebagian besar sudah menikah, beranak, dan sibuk dalam urusan menata hidup mereka. Darto mahfum apalah arti perasaannya. Kadang Darto melihat foto-foto mereka di media sosial dan mau tak mau meski singkat Ia membayangkan betapa beruntung suami-suami mereka.Tapi kini dari caranya melepaskan badan di atas kursi dan dari senyumnya melihat sore yang berangsur-angsur akan selesai aku tahu dia sangat tentram.

Suatu hari, datanglah seorang saudara Darto dari kota asalnya. Datang untuk sekolah di kota ini. Gaya orang itu khas gaya orang yang pertama kali datang di kota besar. Pakaiannya model yang paling baru yang langsung lekas-lekas dibeli saat pertama tiba. Modis dan sedikit norak. Tempat jalan-jalannya di Mall-Mall besar. Media sosialnya selalu penuh foto-foto plesiran. Orangnya ramah dan gampang bergaul, pada dasarnya adalah orang baik dengan  sikap sombong atau sok yang masih relatif dapat diterima. Sepertinya dia kaya, telepon genggamnya model terbaru, motornya jenis yang mahal dan juga baru, dan kami dimanjakan terus dengan pasokan makanan kecil dan traktirannya.

“Dia anak salah satu pamanku. Mereka memang kaya” Cerita Darto. “Dari dulu memang dekat denganku, kalau mau dia bisa kontrak satu rumah mewah, beli mobil. Tapi dia maunya sewa kamar butut macam kita di sini. Asal bisa bareng aku katanya”

Dan begitulah, sepupu itu jadi bagian dari hari-hari  tentramnya Darto. Hanya si sepupu tak begitu tentram hidupnya. Apalagi kalau dia bertengkar dengan perempuan-perempuan yang disebut pacarnya  itu. Setiap minggu akan ada perempuan baru yang dia bawa, dan diperkenalkan kepada kami sebagai pacar. Mereka akan jalan-jalan ke Mall, ke tempat-tempat wisata, dan kadang sampai beberapa hari ke luar kota. Kalau sudah bertengkar di kos pasti akan putus. Lalu beberapa hari kemudian akan datang yang baru. Pergantian yang cukup teratur. Si sepupu pun kuliah, lebih tepatnya berganti-ganti mendaftar lalu berhenti kuliah di lebih dari lima kampus dalam waktu kurang dari dua bulan. Tak ada yang cocok katanya.

Suatu saat dia iseng ikut Darto ke kelas sore. Dengan aneh dan mengejutkan, dia betah. Keinginan kuliahnya tak diteruskan lagi. Ia hanya mau kursus. Dalam waktu yang lumayan singkat kemahiran berbahasa asingnya meningkat. Ia bergaul dengan semua orang di lembaga kursus. Mentraktir mereka saat dirinya berulang tahun. Dan tak pernah absen dari acara-acara yang diadakan tempat kursus itu. Mereka sering sekali membuat festival-festival, pertunjukkan musik, dan semacamnya. Dia terlibat aktif. Sangat aktif bahkan. Waktunya lebih sering dia habiskan tempat itu meskipun tak ada jadwal kelas. Para pendaftar kursus yang baru sering menyangka dia adalah salah satu orang penting di situ. Ia punya kenalan-kenalan penutur asli yang sering dia bawa untuk nongkrong bersama kami. Mungkin juga ada yang dipacarinya. Ia hanya kursus namun terlihat lebih bersemangat dan antusias dari orang yang kuliah. Mungkin ini adalah bidang yang diminatinya. Ia menemukan tempatnya. Dengan sendirinya hidupnya pun menjadi terarah dan pada akhirnya terlihat tentram.

Suatu sore, usai mereka berdua kursus dan saat kami sedang makan gorengan di warung kecil di sebelah rumah kos, melihat penjaja makanan mulai memenuhi jalan dengan dagangan mereka, angan kami tengah menebak-nebak rasa makanan dari aromanya, Ia memberi tahu kami bahwa pacarnya  hamil.

Kemudian semuanya berubah.

Ia menikah, menyelesaikan kursusnya,  dan bersama Darto pulang ke tempat asal mereka. Di sana dengan modal dari si sepupu mereka berdua membuka tempat kursus seperti kelas sore yang mereka telah rampungkan itu. Bahkan mereka membangun gedung yang besar dan megah hingga sering disalah kira sebagai kampus. Kabarnya tempat kursus mereka adalah tempat yang terkenal di kotanya. Bahkan lulusan-lulusannya jauh lebih dicari ketimbang lulusan perguruan tinggi.  

Darto pasti lebih tentram lagi sekarang.

Aku jarang mendengar kabar langsung dari mereka. Paling dari foto-foto yang lewat di media sosial. Kecuali soal Darto yang kudengar langsung dari dirinya sendiri bahwa dia masih belum kawin.

Aku pun tak pernah mengirimkan cerita ini kepada Darto, dia juga sepertinya sudah lupa pernah memintaku untuk menuliskannya.

 

                                                                                                                      Kupang, 30 November 2023

 

Comments

Popular posts from this blog

Di Bawah Sorotan Lampu

Arsip

Di Ujung Tahun