Seni(nya) Kupang atau Seni di Kupang?
Percobaan Pengartian (yang
lebih seperti pengandaian)
Dua hal di judul muncul saat ada sedikit usaha untuk
mengotak-atik tentang kesenian di kota Kupang. Hal pertama seolah mau secara mendalam
menelaah dan menguliti apa yang sudah sejauh ini dipahami sebagai Kupang
khususnya sebagai kesatuan masyarakat. Pertanyaan kedua hadir sebagai hasil
dari refleksi atas pertanyaan pertama; bila seni(nya) Kupang tidak ada, berarti
bisa dikatakan bahwa semua seni yang diciptakan di Kupang adalah sekedar seni
dan kesenian yang tanpa ikatan dan pantulan atas kehidupan masyarakatnya.
Jadi, sodara-sodara sekalian, seni seperti apa yang hidup
atau dihidupi di kota Kupang sekarang?
Diskusi : Apakah Kupang
itu Ada?
Bila seni Kupang diandaikan bermakna seperti yang
disebutkan di atas, maka akan muncul
pertanyaan-pertanyaan terusan. Apakah sebenarnya Kupang itu? Sebagai kesatuan
sosial, orang Kupang yang asli itu seperti apa? Apakah Kupang adalah sebuah
kelompok etnis? Bicara soal kelompok sosial yang asli Kupang, maka kita akan
dibawa ke fakta sejarah tentang orang Helong sebagai penduduk asli dari tempat yang kini disebut kota Kupang,
semacam orang Betawi kalau di Jakarta. Namun di masa kini orang Helong tidak
bisa sepenuhnya dapat mewakili Kupang sebagai dalam maknanya sebagai sebuah komunitas
sosial. Kupang adalah kota yang multi etnis dengan sejarah dan dinamikanya
sendiri.
Sebagai Ibu kota Provinsi, dinamika politik, perjalanan
sejarah, program-program pemerintah dalam koridor administrasi resminya, geliat
kehidupan sosial dengan latar belakang budaya yang beragam, dan arus perdagangan
memberikan banyak corak yang mewarnai kota Kupang. Dari kota bandar perdagangan
Cendana yang cukup ramai di abad 13, hingga kini adalah kota dengan dua negara
tetangga yang dekat. Dan masih banyak wajah-wajah Kupang yang lain.
Mustahil dan akan membuang-buang waktu kalau kita mau mencari
sebuah Kupang yang asli. Hal itu hanya akan merepotkan dan membuat kita terjebak
dalam debat kusir yang terdengar filosofis tapi tak terlalu penting-penting
amat. Maka Kupang, dalam hal ini Kupang yang dibayangkan sebagai sebuah
komunitas dengan seperangkat budayanya yang lengkap dan punya ciri khas yang
mudah sekali dilihat, didengarkan, dan dirasakan, yang asli, murni, dan jauh
dari pengaruh kebudayaan luar dan asing bisa dikatakan tidak ada.Dan tidak
perlu diada-adakan.
Diskusi:Kupang dalam Peta
Seni Indonesia
Kupang hakikatnya adalah sebuah tempat dengan segala macam
bawaan geografis, dan sosial politiknya. Hal-hal tersebut akan terbawa saat
Kupang dihubungkan dengan pembicaraan tentang dunia seni di sekitarnya. Sebagai
bagian dari Indonesia, maka Kupang punya makna tersendiri dalam konteks seninya
Indonesia. Seni Indonesia adalah sebuah wacana tersendiri, kemajemukannya
sebagai sebuah negara, yang memiliki hal-hal teknis dan filosofis dengan
perkembangan yang sudah cukup panjang, yang dihidupi oleh para pegiat-pegiatnya
baik dari segi pengkaryaan maupun pengkajian. Melalui sudut pandang ini kita
bisa menyoroti Kupang dari segi teknis misalnya : soal ketersediaan bahan untuk
berkarya, dan ketersediaan jaringan elemen-elemen sosial pendukung kegiatan seni.
Apabila dibandingkan dengan tempat lain di Indonesia Kupang cukup tertinggal
tentang dua hal tadi. Sejauh ini di Kupang ketersediaan materi untuk seni yang
lengkap dan jaringan elemen pendukung seni (rutinitas berkesenian, sekolah
seni, galeri, media dengan fokus seni, dan pasar seni) masih minim. Hal yang
mana di sentral-sentral seni di Indonesia sudah mapan terbangun, punya catatan
dinamika yang luas, dan perjalanan pengkaryaannya telah terdokumentasi dengan
baik.
Apakah hanya ini wajah
Kupang yang muncul saat dibicarakan dalam konteks seni Indonesia? Kupang yang
terlihat tertinggal dan terpinggirkan. Yang paling-paling agak menonjol saat
digambarkan melalui eksotisme kedaerahan, dan keasingan yang diunik-unikan.
Orang-Orang (di) Kupang
Sejauh ini kesenian di Kupang sudah berjalan. Karya-karya
sudah diciptakan. Seniman-senimannya yang kalau di konteks nasional disebut
sebagai seniman Kupang sudah ada. Mari kita lihat para penghasil karya ini. Para seniman yang hidup
dan tinggal di Kupang. Berdasarkan pengamatan ala kadarnya yang dilakukan
penulis, orang-orang Kupang yang berkesenian (khususnya seni visual) dapat
dijelaskan melalui beberapa ciri.
Secara kesukuan sebagian besar dari mereka berasal dari tempat
lain di Nusa Tenggara Timur (NTT)
seperti Alor, Flores, Sumba, Rote, Sabu,
Timor, dan dalam jumlah yang lebih kecil berasal dari suku atau etnis lain dari
berbagai tempat di Indonesia. Alasan mereka berada di Kupang; keluarga, ekonomi(kepemilikan
aset dan yang sejenisnya) dan alasan-alasan pribadi lainnya.
Bagi para seniman ini, seni dilihat sebagai hobi yang kadang
dapat menghasilkan. Beberapa (sebagian kecil) memilih seni sebagai mata pencaharian
utama. Seniman yang secara akademis belajar tentang seni jumlahnya kecil. Sebagian
besar seniman-seniman ini belajar secara mandiri.. Seni juga dimaknai sebagai
bagian dari bersosialisasi. Hal ini dilihat dengan adanya komunitas-komunitas
seni visual (Komunitas Perupa Kapur Sirih, Timore Art Grafiti, 0380, Namlia, Rakart, dan beberapa yang lain) yang orientasinya bukan ekonomi, namun soal kebutuhan
untuk aktualisasi diri dan pemaknaan
berkesenian secara kolektif.
Wacana dan Generasi
Wacana dalam berkarya tentunya dipengaruhi oleh akses akan
sumber-sumber wacana dan pengalaman pribadi tentangnya. Dari hal tersebut maka seniman kupang dapat dilihat dari segi usia
dan era. Kelompok pertama adalah para pelukis senior (Kelahiran tahun 1950an,1960an,
dan1970an). Karya mereka dekat dengan tema seperti; realisme keindahan alam
yang kadang dominan dengan sisi “feminitas”nya, etnisitas yang menitik beratkan
pada aspek visual kebudayaan di NTT yang sudah cukup terkenal dan paling sering
dibicarakan terutama dalam konteks pariwisata yaitu; tradisi kain tenun. Eksplorasi
pada sisi budaya di NTT seperti tarian, rumah adat, upacara adat, flora-fauna
yang khas: Komodo, pohon Lontar, dan tradisi-tradisi kehidupan khas etnis-etnis
yang ada di NTT. Bila mencoba adaptatif terhadap keadaan aktual, maka generasi
ini akan mendapat tantangan tersendiri pada soal media dan wacana kekinian,
yang bila kuat diterjangi maka akan didapatkan keuntungan berupa pengetahuan
diskusi wacana atau kritik seni yang lebih luas dibandingkan dengan masa yang
telah mereka lalui.
Para pelukis muda (Kelahiran 1980an,1990an hingga 2000an awal).
Ciri angkatan ini antara lain; memiliki keterampilan untuk mengakses pada sumber visual dan literasi
wacana kesenian yang sangat luas dan hampir tak terbatas. Imbas dari pesatnya
kemajuan teknologi informasi. Mereka
jauh lebih familiar dan bersahabat dengan teknologi digital dibandingkan senior
mereka. Namun mereka sebenarnya dalam keadaan pencarian atau membutuhkan
(paling tidak bagi yang merasakannya) “kerangka dan cara berpikir”. Kerangka
ini adalah sebuah daya paham yang dapat dipakai untuk menyambut dan berselancar
di atas badai informasi itu dan dalam proses pencarian atau pembentukan kepribadian
mereka.
Tema yang generasi muda ini angkat dalam karyanya sebagian besar dekat dengan budaya pop yang
global. Bila para pelukis senior dulu terbatas untuk berkiblat hanya ke Jakarta
atau Australia (lewat mendengarkan radio-radionya). Para seniman muda bisa
dengan bebas (bila masih bisa merasa bebas) memilih bukan hanya lokasi negara,
namun juga wacana-wacana yang diinginkan. Tema pergerakan politik, isu lingkungan, peran
gender, dan gaya hidup kosmopolitan saling kait-mengkait dalam gaya Street Art
yang merupakan fenomena tersendiri di ruang hidup perkotaan. Lihat saja
bagaimana pameran-pameran atau acara seni orang muda di Kupang cenderung diisi
dengan kegiatan mural, dan hadirnya pemusik yang membawakan musik-musik Hip Hop,
berbusana gaya rapper, menyanyikan lagu-lagu berbahasa Inggris (kadang ada yang
memberi warna lokal dengan memakai bahasa daerah atau dialek etnis tertentu).
Bagi generasi ini, tak hanya seni
lukis yang memberi pengaruh, namun juga seni musik, film, fashion, gaya hidup a
la perkotaan, dan pemakaian media informasi dan sosial turut memberikan corak
yang kuat dalam karya-karya mereka. Ada kesan mereka tak terlalu akrab dengan
sastra dan teater seperti para seniman senior.
Lalu apakah tradisionalitas, sebagai
sebuah tema yang sepertinya selalu muncul sebagai bagian dari perkenalan atau
pembicaraan akan seni Kupang di mata mereka? Hal ini tentu beragam dan kembali
ke cara pandang masing-masing anak-anak muda ini. Satu hal yang bisa dicatat,
mereka mendekatinya dengan cara mereka sendiri yang kental dengan globalisme
dan digitalisme.
Percobaan pengelompokan ini tentu
saja sifatnya longgar dan terbuka. Akan selalu ada kemungkinan bagi yang senior
untuk mencoba “tune in” atau memang
sudah mengakrabi kemajuan-kemajuan di era digital, dan bagi yang lebih muda
untuk mencoba berziarah ke jalanan berliku para senior dan tertarik menekuni
jalan seni yang serupa. Atau kemungkinan-kemungkinan campuran lainnya.
Ruang Berisi Tantangan
Bila di awal tadi niat mencari Kupang
yang asli, dan murni telah kita pupusi, dan Kupang sebagai lokasi
geo-sosial-politik telah kita kaitkan dengan konteks seni di Indonesia, maka
Kupang yang kini tersisa adalah Kupang sebagai sebuah ruang dengan medan yang
selalu berubah. Sebuah medan pemaknaan yang dinamis, di mana persoalan seniman
yang di bagian sebelumnya telah dibahas sedikit berdasarkan beberapa ciri
karya, era dan usia hanyalah sebagian kecil dari kepingan-kepingan yang
membentuk pemikiran ,ide, dan wacana tentang Kupang itu. Kepingan-kepingan lain
adalah sisi-sisi sosial yang selalu berubah dan berada di dalam kehidupan
bermasyarakat di kota Kupang yang majemuk.
Kita bisa mencoba membentuk sebuah
wajah Kupang lewat aspek-aspek sosial. Contohnya; peran media, kekuatan
politik, atau daya pengaruh pasar. Bentuk-bentuk yang nanti akan muncul dari
sudut pandang-sudut pandang itu, yang tidak akan dan tidak harus memiliki
bentuk yang tetap, barangkali adalah apa yang bisa dengan perasaan yang selalu
penuh curiga dan tanda tanya kita sebut sebagai Kupang. Dan bila ada seni yang
berhasil menangkap wajah itu dalam sebuah karya yang dimaknai dan dihidupi
dengan lestari oleh masyarakat Kupang sendiri, maka barangkali itulah seninya
Kupang.
Peta untuk Hari Depan
Mari kita coba sedikit bergaya
propetik. Beberapa ramalan bisa dibuat. Keadaan seni Kupang bisa saja akan jalan
di tempat. Setiap seniman, atau kelompok kesenian akan sibuk dengan menara
gading mereka masing-masing. Tidak akan ada perubahan yang berarti selain
proses alami; yang kini muda akan menua. Keadaan akan menjadi statis dan homogen,
adanya dominasi wacana tertentu, yang (semoga saja tidak) didikte oleh
kepentingan pasar (yang sekilas terlihat apresiatif tapi sebenarnya tak peduli
pada apapun kecuali keuntungan sebesar-besarnya). Tak ada budaya kritik
sehingga semua menerima hal itu sebagai kebenaran. Akan terjadi? Sudah? Atau
sedang terjadi?
Ramalan yang lain, suatu hari mungkin
saja akan ada seniman yang hidup di Kupang yang kuat dari segi wacana, atau
teknik, atau kombinasi keduanya yang berkarya di Kupang dan bertemakan Kupang,
serta berhasil memberikan “bahasa seni” atas hal-hal atau fenomena-fenomena
dalam masyarakat Kupang yang majemuk dan dinamis, yang dapat diterima oleh hampir
semua lapisan baik di Kupang sendiri, maupun di luar Kupang dan betul-betul
berhasil menggambarkan, membicarakan, menyuarakan, dan merefleksikan apa yang disebut
sebagai Kupang itu, tanpa terjebak dalam budaya pop/pasar, globalisme sempit,
atau stereotip kedaerahan, kepariwisataan dangkal (malah dengan lincah,satirikal,
dan ironikal dapat memanfaatkan dan mertawakan hal-hal tersebut) dan memberikan
sebuah definisi baru tentang Kupang yang kuat dan dalam (paling tidak untuk
kurun waktu tertentu atau “semangat jamannya”) untuk dipakai sebagai acuan.
Siapa yang berada di ujung
kerja-kerja seperti ini? Barangkali para seniman sendiri atau orang-orang yang
berkepentingan membicarakan seni atau berkesenian (dengan agendanya
masing-masing baik individu maupun kelompok).
Toh bagi seniman tak ada kewajiban untuk
mempertanggung jawabkan jalan kesenimanan, proses berkarya, dan
ciptaan-ciptaannya selain kepada dirinya sendiri. Itupun tergantung seberapa
luas kesadaran dan pemahaman yang ia punya. Dunia seni hampir bisa diumpamakan
seperti seperti samudra dengan hamparan pulau-pulau yang menarik orang untuk datang.
Para pelaku seni bisa memilih untuk tinggal atau sekedar singgah di pulau
manapun. Ia bisa mencari sejarah asal muasal pulau itu atau berinteraksi dengan
penghuni lain yang sudah lebih dulu ada di sana, atau cuek saja, hidup sendiri
dan memanfaatkan apa yang ada di pulau itu sesuai kebutuhan dan keinginannya.
Hingga suatu hari ia akan bertemu orang yang mengklaim diri sebagai pemilik
pulau yang sah dengan sejumlah alasan ( yang bisa saja hanya pembenaran diri
belaka) yang akan meminta semacam “biaya sewa” atas pulau itu, yang kalau mau
dan kalau mampu bisa digugat, kalau menang malah bisa memperkuat klaim diri
sebagai pemilik pulau dan mampu ekspansi ke pulau lain, atau kalau tak mau repot
ya bayar saja dan ikuti ketentuan yang ada, atau angkat kaki cari pulau yang lain. Atau
menjadi lebih cuek lagi hingga akhirnya membuat pulau sendiri.
Kelapa Lima,13 Maret 2024
Comments
Post a Comment