Eusebio
"Apa kau yakin dengan caramu
itu, Patricio? Memang tujuanmu baik. Dengan cara kau disiplinkan waktu
kesehariannya, membatasinya main handphone dan menyuruhnya olahraga
dengan ketat, pasti akan ada hasil yang bagus. Tapi dia tidak terlalu kecilkah
untuk itu? “
Tanya Augusto kepada saudara laki-lakinya. Mereka
berdua, Ximenes bersaudara, sedang di tempat parkir sekolah kedua anak mereka.
Kaka beradik,para ayah muda yang menjemput anaknya pulang. Bersandar pada
bagian depan mobilnya, Patricio berpikir lama, kesusahan memilih cara untuk menjawab. Angin di bulan Juni yang berdebu dan
membosankan membuatnya makin gundah. Matahari tidak terlalu menyengat mereka,
keduanya teduh di bawah papan nama tulisan "Liberal Art School
TK-SD-SMP" yang dicetak mengikuti nama kota tempat mereka tinggal.
Sejumlah orang tua penjemput anak
berdiri bosan dan diam dekat mereka.Hampir
semua bermain handphone. Satu dua menelepon anak mereka dan marah-marah
menyuruh agar bergegas dalam bahasa Inggris. Seorang guru menjawab telepon
dalam bahas Mandarin. Lamat-lamat terdengar suara anak-anak bernyanyi dalam
bahasa Spanyol. Dua orang satpam sekolah saling menimpali lelucon dalam bahasa
Dawan. Angin membawa makin banyak debu ke seluruh bagian kota.
Patricio baru saja sampai di
rumahnya ketika siaran dari salah satu radio tua di kota itu usai memdaraskan doa
jam enam sore.
Istrinya menyambutnya dan menerima
kotak bekal makan siangnya. Di antara lelah ia masih saja bisa terbawa pada pada kehadiran
istrinya. Seperti biasa, seolah selalu ada sisi yang baru ia lihat dari
perempuan itu. Istrinya bekerja dari rumah, menjual barang-barang secara daring.
Pasangan itu selalu merasa muda. Kadang Eusebio diberikan paket-paket perkemahan-seni
yang diadakan oleh kelompok-kelompok seni dan pencinta alam yang sejak beberapa tahun terakhir tumbuh
subur di kota ini, agar mereka bisa punya waktu dua hari satu malam untuk bermesraan
tanpa gangguan di hotel atau di vila-vila pinggir kota. Tinto, paun, dan lawar
serta film-film yang tak akan pernah sungguh-sungguh ditonton adalah bekal
wajib mereka. Patricio sering berpikir, di surga pasti ada tinto, paun, dan
lawar.
Eusebio adalah bagian utama hidup
mereka sekarang. Meski sudah berumur belasan tahun, Eusebio tak kunjung mereka
berikan seorang adik. Padahal mereka dari keluarga yang jarang beranak tunggal.
Patricio punya lima saudara. Ayahnya adalah anak pertama dari dua belas
bersaudara. Ayah mertuanya, kakek Eusebio dari ibunya, punya sepuluh saudara
kandung. Istrinya sendiri adalah bungsu dari tujuh bersaudara. Kini dia dan
istri manisnya hanya punya seorang buah hati. Dan memang mereka punya banyak
perhitungan.Terutama soal keuangan. Sama seperti keluarga-keluarga muda lainnya
di kota ini.
Patricio duduk di teras samping
rumah, tipis asap naik dari teh jahe yang diberi pemanis gula lempeng. Ia sudah
lupa kapan ia terakhir minum kopi.
"Anak itu sekarang hanya
membaca buku saja kerjanya"
Istinya membereskan buku-buku
yang cukup banyak bertebaran di ruangan televisi. Cat tembok ruangan itu
berwarna putih tulang, beberapa gambar
pada tembok itu yang dilukis sendiri oleh Eusebio.
"Dia bahkan tidak punya akun medsos sejak kau sering
mengajaknya ikut latihan Yoga". Karena lumayan marah logat sengau istrinya
tak sengaja muncul dalam bahasa melayu Kupangnya.
Kau yang melarangnya main handphone, makanya dia membaca buku-buku terus seperti ini. Istrinya masih mengomel sambil
menonton video-video pendek yang isinya orang-orang menari.
“Aku hanya mau supaya dia tidak
seperti anak-anak lain yang kecanduan handphone”
“Anak-anak yang mana?”
“Semua anak di kota ini!. Di negara
ini!”
“Data menunjukkan rata-rata
sepuluh jam sehari mereka main HP. Rusak itu mata dan otak mereka”
“ Jadi sepupu-sepupunya itu rusak
semua otaknya” sambung istrinya dalam Tetun Praca.
Patricio mencoba tenang. Sekarang
kalau dia tidak berhati-hati semua bisa jadi runyam.
Apa salahnya membaca buku? Dan
lihat dia sekarang rajin Yoga. Anak-anak seumurnya mana ada yang bisa meditasi
penuh setengah jam. Dan dia anak yang periang menurutku.
Ahh...itu lagi !Okelah, tapi mana
ada orang baca buku sekarang? Aku jualan online, dan yang aku lihat semua orang
beli pakaian, perhiasan, dan makanan. Bahkan orang paling kurang bergaul juga
beli hal-hal lain selain buku..gila! Tuturan istrinya itu setengahnya dalam
bahasa Spanyol. Dia pernah dapat beasiswa ke Salamanca, hampir kawin dengan
orang asli pemilik kebun anggur di sana, lalu kisah mereka pupus, ia patah hati
hingga kemudia ia bertemu Patricio yang waktu itu sedang studi lewat beasiswa
Erasmus di Barcelona. Mereka saling jatuh cinta. Ciuman pertama kali mereka
terjadi saat kencan di pertandingan Barca versus Benfica, lalu memutuskan untuk
menikah dua tahun kemudian serta sepakat menamai anak mereka Eusebio apabila nanti
seorang laki-laki, karena di kencan penuh kesan itu Benfica menang telak.
Uang dari tabungan dan beasiswa
lebih dari cukup untuk urusan mahar dan pesta adat, pesta resepsi, pesta terima
mempelai perempuan, pesta untuk kawan pengantin pria, pesta untuk kawan
pengantin perempuan, pesta untuk kawan-kawan arisan masing-masing orang tua
dari pengantin, dan untuk mengongkosi keluarga-keluarga dan undangan dari Timor
Leste, bahkan ada tokoh adat yang harus dijemput jauh di pedalaman yang di
gunung-gunungnya lebat dengan kebun kopi.
Tiga Bulan setelah pesta-pesta
panjang dan sepertinya tak habis-habis itu lahirlah Eusebio Jacinto Gonzales da
Cunha Freitas Ximenes. Mereka memanggilnya Ebio.
“Aku sudah pesankan handphone
yang baru buat dia, yang lebih canggih dan kekinian” kata istrinya.
Dan nanti ruang buku akan aku pakai untuk live saat unboxing produk. Nanti kututup dengan kain-kain. aku sudah pesan semua. Dia tak bisa sering-sering di situ lagi.
Teh jahenya terasa hambar, dan Patricio
melamun, mencari hal menyenangkan apa yang tersisa baginya sekarang.
Hanphonenya berbunyi. Panggilan
dari adiknya.
"Halo, ya bagaimana?"
Jawabnya dalam Tetun Praca.
Dalam Tetun Praca, Augusto
bercecar "Kau dan istrimu cepat datang ke sini dan lihat ini, Ebio dan
para sepupunya sedang berdebat dengan anak dosen teologi yang rumahnya di
sebelah kami, dia sebut-sebut soal eksistensialisme,absurdisme, dan nama-nama
aneh seperti sarte, kamyu, nitsce. Orang-orang dari mana itu? Anak dosen ini
kesal lalu pulang dan datang kembali dengan buku-buku, punya bapaknya
kayaknya...dan, dari caranya berdebat sepertinya Ebio akan menang telak"
Patricio tersenyum namun ia tak
berani melihat mata istrinya.
-SELESAI-
Sam Ratulangi II,Juni
2024
Comments
Post a Comment