Suara Apa yang Terdengar di Lorong-Lorong Itu?
Sebuah Kesan Atas Pameran Arsip Publik Merekam Kota 2024-Ruang Berkumpul: Lokus Raja
Estetika Penghadiran Kembali
Hal-hal visual yang dipakai dalam pameran ini punya
daya yang kuat dalam menangkap para penyimaknya. Dari jalanan arah selatan
lokasi gedung pameran orang dapat langsung tercuri oleh warna penataan cahaya
yang membalut tembok bagian atas ruangan pameran. Seperti sebuah isyarat
petualangan.
Orang-orang berbaris dalam banyak antrian dan mereka tidak hanya melihat benda-benda di pameran, tetapi barangkali juga melihat orang yang melihat pameran. Sepertinya hadir sebuah ritual tersendiri dalam mengantri untuk berfoto di tulisan, berfoto di foto, berfoto di instalasi, ataupun kesatuan semuanya yang salah satu sisi-sisinya dapat ditangkap oleh mata mereka yang secara pembiasaan telah terlatih. Komentar menjadi seperti mantra, atau barangkali “liturgi”. Sama dan berulang terus seperti itu. Apakah harus membaca dulu sebelum berfoto? Apakah boleh meminta permisi pada orang yang sedang membaca untuk bisa bergeser agar bisa segera berpose? Semua itu seperti menjadi sebuah pertunjukkan terusan. Sebuah pameran terusan. Jangan-Jangan kita para penyimak adalah bagian dari pameran? Jangan-jangan kita datang untuk mengisi bagian-bagian dari puzzle yang belum lengkap? Bisakah pameran berjalan tanpa penyimak?
Pendekatan yang sastrawi, lewat adanya tulisan-tulisan
yang puitis, membuat banyak bayang-bayang
pemaknaan yang seperti menjadi kabut misteri pada latar belakang
tulisan-tulisan sejarah yang lebih formal mengupas jauh tentang para penduduk
kota dan kedirian mereka untuk menjadi “orang kota Kupang”. Hal-hal teritorial
dibahas tentang daya bicaranya, daerah “Tingkat Satu” bukan sekedar nama tapi
juga simbol. Pada masanya daerah tersebut merupakan lambang gerak maju kelas menengah, lambang
identifikasi perkotaan. Kelas menengah yang mengartikan diri mereka tidak hanya
dengan fungsi praktis dari materi-materi diri-kota mereka tetapi juga fungsi
simbolismenya. Uang dan kesempatan akses-akses sosial yang dibawanya.
Perjalanan
Mencari Raja
Dalam perbincangan dengan salah seorang “Buruh Kota”, terlontar pertanyaan kepada penulis, “Menurut anda, siapa raja dalam pameran ini?”. Hal yang sangat menyenangkan, karena ini pertanyaan yang dilontarkan di sebuah pameran seni. Jawabannya punya kemungkinan yang bisa jauh lebih mengejutkan dari pada pertanyaannya.
Pada “Kota Kotak” saya tak menemukan raja. Di situ modernitas dan barangkali kesan demokratis cukup kuat. Setiap orang diberikan bingkisan manis “popularitas 15 menit Warholian” mereka. Mungkinkah raja sudah turun dari singgasana dan mencoba mencari peruntungan dengan membuka usaha, atau ikut mengadu nasib dalam tes-tes untuk menjadi pegawai negara? Kotak-kotak di Kota Kotak menawarkan keterlibatan. Memainkan ide tentang sesuatu yang berharga. Berharga bagi siapa? Apakah bagi semua? Siapa raja sebenarnya yang menentukan apa yang berharga dan apa yang bencana di kota ini?
Sepertinya perjalanan pencarian ini tidak akan membawa pada tujuan yang dimaksud pada awalnya, namun pada sebuah tujuan yang jauh lebih menjawab.
Malah sepertinya banyak sekali raja yang muncul. Raja yang bicara tentang pentingnya pembangunan. Raja yang bicara tentang pentingnya kekayaan. Raja yang bicara tentang pentingnya kemajuan. Raja yang melawan semua raja-raja itu. Raja yang menggambarkan perang antara raja-raja itu. Raja yang tak mau pusing soal kerajaannya dan merasa lebih baik tunduk pada raja-raja lain yang sudah mengatur segalanya jadi dirinya tinggal ikut saja.
Di kotak-kotak itu, semua adalah raja. Tinggal lihat
saja siapa yang paling kuat dalam pergumulan-pergumulan nanti.
Tangan-Tangan
Berwarna
Sejarah dan cerita kota pada pameran ini dengan sendirinya membawa banyak kisah. Kelas menengah yang bergelut dengan perjuangan-perjuangan ekonomi mereka. Masa-masa kelam di kota Kupang yang dihadirkan dalam “kotak-kotak Istimewa”. Tidak dengan mudah hal-hal ini dapat dibicarakan. Maka barangkali labirin-labirin kisah perkotaan pun dibangun sehingga penyimak diberi kesempatan untuk “menarik napas” dalam rute-rute yang cukup padat, dan beragam. Masa lalu sebuah kota yang ditarik dalam bentangan yang cukup panjang.
Penyimak dibawa untuk bermain-bermain dengan tangan berwarna-warni yang akan menari-nari sebelum menjadi penunjuk arah saat para penyimak sudah siap. Dan waktunya barangkali tidak harus di saat itu.
Pada penampilannya di pameran Arsip Publik ini, dramawan Kristo Robot bersama kelompoknya “Orang-Orang Kerumunan” membawakan karya mereka pada panggung yang menyatu dengan penonton. Memori tentang teknologi-teknologi komunikasi lama: surat menyurat, gaya berpakaian, kebiasaan dansa, dan musik-musik lama disajikan dengan meriah, romantis, dan cukup mesra. Sebuah warna penampilan yang agak berbeda dengan kebiasaan grup Kristo yang sering menantang para penyimak lewat metode-metode teater tubuh dengan teror-teror yang membuat penyimak berdegup antara mencari makna dan kaget atas kejutan-kejutan yang ditampilkan.
“Orang-orang kerumunan” lewat sajian ‘SELEBRASI” memilih
irama yang sama dengan aura-aura romantika memori yang juga bertebaran pada
banyak sisi di dalam pameran. Kisah-kisah yang memberikan peluang kepada para
penyimak untuk merangkai diri mereka sendiri. Kesempatan untuk melihat
jejak-jejak sejarah pilu yang barangkali terasa namun masih enggan untuk mereka
dekati atau bahkan sebagai sebuah bagian yang asing sama sekali bagi mereka. Sesuatu
yang bergerak dan bersuara dalam lorong-lorong kisah tentang kota dalam
perjalanan dan penantiannya panjang untuk diterima, didengarkan, dan dimaknai
secara baru dan menjadi pembelajaran yang baik.
Kupang, akhir Oktober 2024
Comments
Post a Comment