Hanya Natal

 

Pada Desember kali ini, Pedro de Jesus memutuskan bahwa ia tidak akan ke gereja untuk natalan. Ia tidak akan  pergi ke perayaan natal apapun yang ada sangkut pautnya dengan gereja. 

Beberapa tahun terakhir, dalam masa kuliah, dia selalu pulang kampung untuk natalan bersama keluarga, dan semua cara dalam natalan-natalan itu dia usahakan untuk bisa sedekat mungkin dengan ajaran dari gereja. Tentu saja gerejanya dan keluarganya. Biasanya di awal Desember dia sudah sampai di rumah. Lalu dimulailah kesibukan tahunan itu. Ia berkonsultasi dengan para imam, meminta rekomendasi lagu-lagu natal dari yang gaya abad pertengahan, klasik, City Pop, hingga Jazz, dari para imam muda yang semangatnya masih berapi-api dan cenderung revolusioner. Ia membaca ulang renungan-renungan natal selama sepuluh tahun terakhir, mengulik makalah-makalah yang berisikan studi banding antara gerejanya dan gereja lain dalam merayakan natal, berdoa panjang-panjang setiap malam sambil membaca risalah-risalah kuno tentang sejarah natal yang ditulis oleh tokoh atau pengikut ajaran gerejanya. Ia bahkan berpuasa dan melakukan laku-laku keagamaan dari para rahib-rahib gurun. 

Di saat hari Natal tiba, ia tak akan melewatkan satupun kegiatan perayaan natal yang diadakan oleh gereja. Semua kegiatan baik yang wajib maupun yang bersifat sukarela akan dihadirinya. Ia selalu datang setengah jam lebih awal dari jadwal dan baru pulang setelah merasa puas melihat dan merenung-renungkan suasana gereja yang penuh hiasan natal. Di rumah, ia akan sibuk mengatur waktu antara menonton film-film natal yang sudah dia susun jadwalnya berdasarkan tema dan pesan moral, berdebat dengan saudaranya soal pilihan lagu-lagu natal, berdebat dengan ayahnya soal cara menghias pohon natal, dan membantu Ibunya untuk menerima tamu, dan mengatur waktu kunjungan ke keluarga dan para kenalan. Lalu tentu saja merayakan natal dengan kawan-kawannya sendiri. Pesta-pesta dan kegiatan saling berkunjung yang baru akan benar-benar berhenti di kira-kira dua minggu usai tahun baru. 

Di natal tahun lalu, usai melakukan semua itu, beberapa saat setelah perayaan tahun baru,di  hari perjalanannya kembali ke tempat studi, ia membawa sebuah hasil natalan yang spesial, sebuah buku jurnal yang penuh terisi dengan puisi, gambar-gambar, sobekan artikel atau foto dari sana-sini, dan renungan-renungannya yang mendalam. Di tahun sebelumnya ia menyusun hasil tulisan natalannya dalam bentuk seperti majalah, lengkap dengan catatan editorial dan rubrik-rubrik. Kelak tulisan-tulisan itu akan selalu mengejutkannya saat dibaca ulang. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya ia merasa puas, namun ia juga menemukan bahwa dia sudah mulai bosan dengan rutinitas natalan seperti itu.

“You only need to change a little perspective, and then you will see how the magic will do the job” Ia teringat kata-kata salah satu dosennya di kampus. Dan karena buku-buku yang dibacanya, karena kebiasaannya nonton pameran lukisan, pentas-pentas teater dari yang yang realis sampai yang absurd, karena diskusi-diskusi panjang tentang politik,filsafat, dan segala hal yang bisa dimaknai, di malam-malam penuh semangat dengan kopi dan bir di kafe-kafe model rumahan dengan kenyamanan yang tak dimiliki kafe mewah manapun. Malam-malam keluyuran dan kongkow yang kadang berujung dengan hubungan-hubungan rahasia yang singkat, bebas, namun romantis dan penuh dengan cumbuan-cumbuan yang meninggalkan kesan mendalam di kota tempat dia belajar itu, Pedro de Jesus menjadi orang yang selalu penuh semangat apabila pikiran-pikiran baru datang menantangnya.

Maka ia memutuskan, untuk tahun ini, demi darah mudanya, dan demi kecintaannya akan kreatifitas, dan petualangan, ia akan natalan dengan cara yang berbeda. Dia yakin, natal tetap hidup di kota asalnya atau di tempat lain manapun, terlepas dari cara dia  merayakannya.

Tiket perjalanan pulang sudah dipesannya sejak awal Oktober, demi harga yang murah. Pagi di hari keberangkatannnya,  hujan gerimis turun pelan seperti mencumbui kota. Kantuk seperti merayu dan memeluk dari dalam jaketnya, Tidurnya tadi malam tak lelap karena gelisah soal perjalanan ini. Suara Bob Marley, album Africa Unite, memekik-mekik pada earphone. Aroma rokok kretek tercium, membuatnya berharap akan dapat tempat minum kopi dan makan yang nyaman nanti. Bus melaju dengan malas menuju bandara. Rute pulang kampung akan panjang dan penuh jam-jam membosankan dari penantian demi penantian. Wajah-wajah baru dan asing yang dipenuhi angan tempat tujuan. Logat dan dialek yang berbeda-beda. Ia agak terhibur karena bertemu beberapa kenalannya yang akan ke tujuan yang sama. Tak perlu lagi melamun sendirian atau harus terpaksa basa-basi dengan orang asing. Obrolan-obrolan mereka pun tak jauh dari soal natalan. Tentang masakan Ibu, kue natal, pohon natal, dan janji-janji untuk mabuk-mabukan bersama di malam tahun baru yang akan tak terlaksana seperti tahun-tahun sebelumnya.

Ia pun tiba di rumah. Hujan sedang turun dengan bisik germis yang sama seperti tadi pagi. Ibunya menaruh sekaleng bir dingin di meja belajarnya dan bilang kalau makanan sudah siap. Ia duduk di tempat tidur dan lama menatap ke luar jendela. Kamar yang sudah setahun dia tinggalkan. Udara  hujan yang dingin membuatnya sadar akan rasa lelah. Kantuknya makin menebal. Jurnal dibukanya.  

Ia mulai menulis di salah satu halaman awal yang kuning polos: “Natalan yang tak di Gereja”.  Ia  membuat beberapa catatan. Menggambar peta perjalanan. Menulis puisi-puisi pendek yang ternyata hanya mengingatkannya ke kisah-kisah patah hati. Ia membuat tabel kalender dan mulai menghitung-hitung hari liburan dan rencana-rencana kegiatan. Ia menghitung uang, mengingat bahwa hal yang penting untuk disiapkan adalah persediaan minuman untuk acara-acara pertemuan, dan kunjungan, baik ke tempat lain, atau untuk orang lain yang datang ke rumah. Tak bisa kalau tak ada acara minum-minum. Seperti tahun-tahun sebelumnya. Akan ada banyak kumpulan pertemanan dengan perayaannya masing-masing. Kumpulan alumni SD, alumni SMP, alumni SMA, Tim Futsal SMA, Tim Cadangan Futsal SMA, kumpulan mahasiswa sedaerahnya yang belajar di kota yang sama, keluarga Ayahnya, keluarga Ibunya. Yang jelas ia akan sangat  sibuk. Di tengah semua itu ia juga punya sedikit harapan, semoga ia akan dapat pacar baru, sehingga punya gandengan untuk bermesraan atau setidaknya duduk bersama di bawah pesta kembang api di pusat-pusat keramaian kota di malam pergantian tahun nanti. 

Hujan berhenti entah kapan dan ia tak sadar kalau puisi yang ditulisnya sudah cukup panjang. Usai membantu ayahnya mengecat rumah dan memasang pohon natal, ia mandi, memakai pakaian yang bersih, memilih jaket yang paling hangat dan nyaman, yang sejak saat dibeli di kota tempat belajar sudah berulang ia bayangkan untuk dipakai saat pulang liburan, ia pergi menyusuri kota.

Di toko buku langganannya, ia bertemu dengan seorang kawan SMA. Seorang perempuan yang datang membawa beberapa anak. Seingatnya belum lama kawannya itu berkeluarga, sudah banyak ternyata anaknya, pikir Pedro. Anak-anak kecil itu memakai topi Santa Claus. Ia menyapa perempuan itu. Sapaannya tak dibalas. Pedro heran, Ia coba menyapa lagi, menerangkan tentang dirinya, di mana mereka pernah kenal. Perempuan itu tak menggubris, Ia memalingkan muka dan mengajak anak-anaknya untuk menjauhi Pedro. Dengan canggung dan malu Pedro bergegas pergi. Di atas motor pikirannya kusut, dalam diam ia bertanya-tanya, sudah sebegitu berubahkah dirinya?

Dengan hati yang masih tak enak karena kejadian di toko buku, ia mampir ke sebuah kafe. Sore menjelang dan susana sedang ramai di kafe itu. Ia melihat sebuah kumpulan yang tak asing, dan menjadi girang saat tahu bahwa itu kawan-kawan SMA dan tim futsalnya. Dengan besemangat ia bergabung dan menyapa semua di situ dengan keriangan khas orang pulang liburan. Orang-orang di kumpulan itu tak membalas sapannya. Mereka memberikannya tatapan penuh rasa aneh. Ia terkejut, keheranan, dan merasa sakit hati sekaligus. Dicobanya menyapa mereka kembali. Menyebut nama mereka satu per satu. Hanya raut muka tak bersahabat dari wajah-wajah akrab yang dia terima. Ia mulai marah dan bahkan berteriak-teriak. Merasa sedang ditipu atau dikerjai secara keterlaluan. Kumpulan itu makin merasa aneh dan terganggu. Beberapa dari mereka pergi melapor ke kasir meminta satpam untuk mengurus kejanggalan itu.

Merasa ditolak Pedro dengan sedih dan gontai menyingkir ke tempat parkir. Ia duduk di atas motornya, merogoh saku untuk merokok. Dadanya terasa berat. Seorang anak kecil datang mendekatinya. Anak itu berkulit putih dengan rambut pirang bergelombang.

“Hai, Pedro!” Sapanya.

“Kau siapa, Yesus kah? Tolong hariku sudah cukup aneh”

“ Sudahkah kau mendengar ayam berkokok tiga kali?”Kata anak itu.

“Pedro yang bodoh, kau tak ingat aku?” anak itu tertawa. Mimik wajah yang dilucu-lucukan. Dan saat tersenyum, ia terlihat manis sekali.

Mata Pedro melotot untuk bisa melihat anak itu dengan jelas.

“ Aku guru SMAmu Pedro, Kepala Sekolahmu…hahaha”

“Hah Yesus!!, Yesuuusss!!” Pedro berteriak.

“Apeuuu, bangun!!” Tamparan ibunya membangunkan Pedro. Tergagap-gagap ia melihat kiri-kanan. Ia bermimpi rupanya. Napasnya naik turun tak beraturan. Usai menenangkannya dan memberinya segelas air hangat, Ibunya mulai cerocos, mengomel soal hal-hal yang masih kurang dalam persiapan mereka untuk natalan. Ayahnya yang sebenarnya adalah sasaran dari omelan itu lalu meminta Pedro pergi membeli cat dan alat-alatnya. Salah satu kebiasaan di rumah mereka  saat akan natalan adalah mengecat ulang dinding rumah, dan itu belum dimulai sama sekali.

 Pedro meminum lagi air hangat banyak-banyak. Saat mengenakan jaketnya, ia sadar bahwa jaket yang sama ini yang dipakainya dalam mimpi tadi. Namun ternyata kehangatannya berbeda. Dengan motor ia menuju ke daerah pertokoan di tengah kota. 

Di lampu merah ia melihat ada keramaian kecil di trotoar. Seseorang dengan gangguan jiwa tengah dikerubuti sekelompok orang. Para pengerubung itu berpenampilan lebih bersih dan lebih terawat dari pada di sakit jiwa. Salah satu pengerubung  mengambil video dengan telepon genggamnya, yang lain membawa ember berisi air, gayung, sabun, dan sejumlah bungkusan berisi makanan dan pakaian baru. Orang gila itu agak diseret ke bagian pinggir jalan yang rimbun. Karung bawaannya digeledah, isinya sebagian besar adalah kertas-kertas, botol plastik dan ranting-ranting kayu. Semua itu mereka buang. Ia sedikit melawan namun akhirnya patuh.Mungkin takut karena kalah jumlah. Rambutnya lalu dicukur habis begitu juga dengan kumis dan brewok di wajahnya. Si orang gila  tertidur usai dimandikan, dan para perubungnya kelihatan sangat senang dan lega, seolah-olah mereka yang baru habis dimandikan dan dicukur. Mereka berfoto bersama dengan si gila yang terlihat begitu lelap, lunglai dengan pakaian baru yang kedodoran. Warna kulit wajahnya yang bekas cukuran terlihat pucat.

Entah kenapa, tiba-tiba Pedro ingin sekali cepat-cepat pulang, membereskan pekerjaan dengan Ayahnya dan kemudian segera pergi ke gereja.

 Kupang,9 Desember 2024


Comments

  1. Manis sekali ceritanya. Selamat menyambut Natal, Kak.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Di Bawah Sorotan Lampu

Arsip

Di Ujung Tahun