SORE

 

Di sore itu  Manuel dihajar habis-habisan oleh orang-orang yang selama ini membencinya. Dia baru tahu rasa amis darahnya sendiri. Hidung dan bibirnya terasa perih dan pedih serta basah oleh cairan yang mengental.Ia sempat terkesima oleh merah darah di baju seragam putihnya. Betapa mencolok merah dan putih itu. Ia melihat bintang dan kuning kunang-kunang setelah kepalanya tertinju keras-keras, lalu hitam pekat beberapa saat.

 Orang-orang, lebih tepatnya anak-anak yang seusianya itu satu sekolah dengannya. Sebuah sekolah di kabupaten kecil, di mana orang-orang takut mengarahkan senter ke hutan di malam hari karena dapat dikira bersekutu dengan gerilyawan. Ia tidak tahu kenapa dia dibenci, terlalu banyak kelompok-kelompok kecil di sekolah dengan jagoan masing-masing yang badannya sudah lebih besar dari para guru dan memiliki otot-otot keras dan terlatih, dan setiap kelompok seperti selalu ingin meninju seseorang atau sekedar berkeliling dari kelas ke kelas menantang jago-jago yang ada. Manuel bukan jagoan. Ia hanya seseorang yang marah Ketika kakinya diinjak atau terusik. Ia melawan. Dan itu alasan yang cukup baginya untuk dihajar oleh sekelompok anak-anak yang menganggap perkelahian sebagai sebentuk hiburan dan cara mencari pengakuan.

Tak perlu menunggu sampai besok sore. Di pagi di awal sekolah keesokan harinya dia memburu beberapa pengeroyoknya terutama yang lebih kecil darinya. Ia menghajar mereka tanpa ampun. Ia marah, puas, dan entah kenapa merasa seperti ada sesuatu yang terbakar. Untuk yang besar-besar ia agak takut dan dengan membara ia rencanakan balas dendam yang lebih tepat.

Di dalam dadanya ia seperti masih mendengar suara orang berteriak. Suara orang menangis. Seperti kelaparan yang minta dikenyangkan. Ia tahu mereka bisa membalasnya di saat pulang nanti. Di sore seperti kemarin. Ia tak peduli. Ketakutan dan amarah menyatu. Rasanya sakit dan penuh ketidakadilan. Seperti dihadapkan pada sebuah taruhan yang besar. “Kita akan mati, kita akan hidup, dan untuk apapun itu kita akan menuntut, dalam tuntutan itu kita akan menangis dan berteriak sejadi-jadinya!!” Suara-suara itu terdengar berulang kali.

---

Salvador duduk di sebuah pinggir pantai di sore itu. Mengunyah tembakau. Meludah. Memincingkan mata melihat matahari.

Kaki kirinya cacat akibat pengeroyokan di kerusuhan beberapa belas tahun silam. Beberapa orang yang dendam padanya menyerang dan memukulnya habis-habisan. Mencuri kesempatan dalam kerusuhan-kerusuhan politik yang terjadi saat itu. Sebilah tongkat besi menghantam tulang tepi kanan telapak kaki kirinya. Remuk. Luka yang membuatnya pincang sejak itu. Dia masih ingat bau asap dari kota yang terbakar, teriakan gila dari ibu-ibu yang kehilangan anak mereka. Suara dengus napas manusia-manusia yang memburu nyawanya. Ia sama sekali tidak takut saat itu. Ia melawan dengan sekuat tenaga, meski sendirian. Dan ia habis. Kalah dan terkulai setengah mampus. Hampir dibakar seperti anjing jalanan apabila tentara-tentara penjaga keamanan asing tidak datang menolongnya.

“ Be strong brother,be strong…you will make it!” Ia tak paham satu pun ucapan seorang tentara yang memapahnya, yang seperti raksasa apabila dibandingkan dengan dirinya itu.

Ia menatap ke matahari yang sudah membuntingi langit dan melahirkan sore.

---

Bulan mengitari bumi. Bumi mengitari matahari. Manusia hidup, sakit, sedikit bahagia, lalu mati.

 

Comments

Popular posts from this blog

Di Bawah Sorotan Lampu

Arsip

Di Ujung Tahun