Sepotong Pagi Untuk Tuan Januario

Tak ada yang lebih menegangkan dari suasana pagi untuk seorang mestisso yang baru saja terkena efek dari kebanyakan kopi di malam sebelumnya. Di antara perasaan bahwa semua hal di saat itu adalah sesuatu yang baru, dan sekaligus kesadaran bahwa remeh temeh kenangan yang menjemukan dan melekat masih selalu ada, di keadaan seperti itulah Ia mencoba menjawab sebuah pertanyaan. Kenapa? Satu pertanyaan untuk apa saja. Menurutnya dia boleh bertanya seperti itu dan tak ada yang melarangnya sampai sejauh ini.
 Tak ada yang melarang. Sungguh. Bahkan seperti sakit kepala yang datang merayapinya pelan-pelan seperti sekarang ini. Dan di dalam pikirannya Ia hanya berpikir, mendecit kesakitan. " Ah, Alberta, seharusnya kau tidak menggodaku waktu itu". Pikiran tentang perempuan itu membuatnya merasa menjadi seorang petani yang sedang akan panen besar di kebun yang sarat dengan buah-buahan yang matang menggantung.
Seandainya Ia bisa mengubah batu-batu di pekarangannya  menjadi roti, Ia tak akan selunglai sekarang.
Kantuk yang datang sebagai perasaan pening, hasrat yang seolah perempuan muda yang baru pulang mandi dari kali, dan lapar yang menantangnya dari tepi tiap rumah.Semua datang seperti teman baginya.Fantastis! Dan dia betul-betul sadar waktu itu. Begitu cemerlang sehingga Ia merasa setiap keputusan penting dalam seluruh hidupnya harus diambil dalam keadaannya yang seperti sekarang ini.
 Tidak terlalu jauh di luar sana, seorang pemusik bernyanyi. Suaranya berat dan begitu baiknya meningkahi pagi yang belum lagi menggeliat untuk pergi. Lagu-lagu yang agak sedih, tentang cinta-cinta yang dibeli yang memang mahal, seolah memuaskan, tapi selalu ketinggalan ketika akan dipetik dalam hidup yang menuntut kebenaran dari sebuah rasa. Alangkah berbahayanya sebuah pencarian. Pintu seperti saling membelit dan erat dengan udara dan suasana hari saat daunnya dibuka. Matahari bersinar dengan ramah, dan tanah-tanah yang berbatu di halaman rumahnya bisu seperti biasanya. Tuan Januario, mestisso paruh baya itu, merasa begitu asing ketika seolah ada suara yang membisikan sesuatu padanya yang bunyinya kira-kira seperti "Hai,ayo ucapkan selamat pagi". 

Comments

Popular posts from this blog

Di Bawah Sorotan Lampu

Arsip

Di Ujung Tahun