Wisata Air


Tak ada apapun yang terdengar di kamar itu kecuali suara radio itupun hanya pelan dan terasa sangat lemah dalam ketakputusannya berbunyi. Aku merasa kehabisan sesuatu,seperti perasaan bingung,entah apa yang dapat aku lakukan sekarang. Tugas-tugas untuk hari ini sudah selesai. Dan di luar kamar ini dapat terdengar suara dari luar, jalan-jalan dan gang-gang kecilnya yang bisu tetapi seperti punya mata yang tak pernah terpejam. Hari seperti sebuah pentas di panggung teater yang baru saja selesai dimainkan, tikar-tikar penonton digulung dan orang-orang bersiap untuk pulang setelah dengan tidak terlalu serius berbincang ala kadarnya dengan kenalan mereka. Asap-asap rokok menggantung acuh dan akan hilang seperti hal-hal remeh yang mereka bicarakan di saat itu.
Hari ini adalah hari pertama aku tidur di tempat Kara. Temanku itu pergi, mudik ke kampungnya. “Aku pamit mau pulang sebentar ke udik, ayahku sakit” begitu katanya kepadaku. Aku pernah dengar dari cerita yang sekilas tentang ibunya yang sakit-sakitan. Aku tak tahu kalau ayahnya juga begitu. Tapi kemudian dari beberapa kenalan lain aku tahu kalau ada masalah lain di rumah Kara, di udik itu, semacam perselisihan dalam keluarga. Mungkin beberapa perkelahian telah terjadi, dan juga ada yag sudah jadi korban. Entahlah. Kara pulang ke sana kemarin sore,dan berangkatnya yang mendadak itu membuat aku jadi mendapat bagian untuk beberapa urusan yang belum selesai. Urusan-urusannya.
Rasa gelisah membuatku menyulut lagi sebatang rokok. Tadi sore urusan yang pertama yang juga harus dikerjakan hari ini selesai aku atur. Sepulang kursus aku menghubungi orang yang punya urusan dengan Kara itu. “Mario, ini temannya Kara, dia tidak bisa datang. Urusannya bisa dengan aku saja,aku tunggu di Hall kampus”. Dan ini juga adalah kampus Kara. Aku lebih sering berkepentingan di kampus sebelah, aku ikut kursus di situ. Hanya itu kesibukanku belakangan di seputaran lingkungan dua kampus ini, dan itu juga yang membuatku sering bertemu Kara.
Di Hall kampus aku duduk menunggu. Merokok, memandang orang-orang yang lewat. Masih ramai saja tempat ini meski sudah sore. Aku berpikir apa yang bisa aku lakukan di kamar Kara nanti malam. Ia punya banyak buku di raknya, kasurnya yang empuk, bahkan baju-baju di lemarinyapun bagus-bagus. Aku hanya perlu mengisi bensin untuk motornya dan sedikit mengatur kamarnya maka satu minggu ini aku bisa hidup nyaman dan santai di situ. Ia berangkat buru-buru kemarin, pipinya cekung dan wajahnya pucat karena kurang tidur, barang-barangnya berserakan tak karuan. Ia memberi beberapa lembar kertas yang isinya catatan tentang urusan-urusannya.
”Tak ada sinyal di udik sana, dua hari sekali aku ke kota dari sana baru aku bisa nelpon atau sms kamu. Aku titip kamar,dan motor juga catatan ini. Kau tidur saja di sini, pake apa yang kau perlukan”
Ia hanya agak khawatir dengan ikan-ikan di akuarium kecilnya. Aku tidak tahu apa aku akan cocok dengan binatang-binatang itu. Ia memberiku uang, untuk urusan-urusannya itu,dan kunci kamar serta kunci motornya. Aku memutuskan untuk menyewa beberapa film dan membeli beberapa botol bir. aku bisa nonton sambil minum-minum sampai pagi, tidur sepanjang siang dan bangun hanya untuk makan malam. Yah, paling tidak itu untuk malam nanti. Dan untuk Kara,semoga urusannya di sana berjalan baik.
Mario tiba di Hall. Ia menyapaku,setelah aku menjawab panggilannya lewat HP. Ia seorang lelaki ramping. Bercelana jeans coklat dan memakai kemela flannel hijau tua yang lengannya digulung.
“Hai,aku Mario, Kara tidak bisa datang ya?” tanyanya. Matanya bersinar akrab dan tampak betul-betul memperhatikan lawan bicaranya.
“ya. Tak apa,kau bisa atur semuanya lewat aku” jawabku.
“Baik,ikut aku kita ke tempatku saja”
Kami pergi ke sebuah tempat. Sebuah kamar kontrakan, kelihatannya seperti sebuah kamar murah dan kotor tak terawat dengan baik. Aku ragu kalau itu kamarnya, tak ada apapun di kamar itu kecuali tempat tidur dan sebuah tikar yang sudah terlihat amat tua. Di atas tikar terdapat dua buah tas bepergian ukuran sedang.
Mario dengan cekatan membuka salah satu tas itu.
“Ini dia,parfum pesanan Kara,edisi khusus,orisinil, lihat ada tanda air di labelnya?”
Aku mendekat bukan karena paham atas apa yang dikatakannya tetapi lebih karena tertarik dengan apa yang ia punya dalam tas-tas itu.
“Kamu jualan parfum?” tanyaku
“Juga jual macam-macam,..ini barang asli aku dapat dari orang-orang dalam,kamu bisa beli dengan harga murah kalau beli dari aku..Kara biasa beli barang-barang dari aku, biasanya parfum atau perhiasan,..kau mau beli sesuatu?”
“Kau punya apa saja?”
“Macam-macam, DVD yang kopian dari original, pesanan sablon kaos, alat motor,alat elektronik,…hmmm,kamu tertarik dengan apa?”
“Hmmm,apa ya?” aku sekedar menjawab dan masih saja mataku liar melihat isi dalam tasnya.
“Kau punya buku?” tanyaku
Ia tertawa kecil “Ya, bisa aku usahakan,atau mungkin kau perlu skripsi? hard atau softcopy?,…kalau buku biasanya aku sering terima tawaran untuk mencari yang lama-lama, yang antik…buruan para kolektor”
“Mungkin kau butuh yang lain?” ia bertanya sambil menyodorkan tiga botol parfum yang berwarna oranye terang. Aku membuka catatan dari Kara dan memberikan uang yang sudah dititipkan. Udara kamar itu pengap, sebuah jendela yang kacanya begitu kusam hanya memberikan sedikit cahaya yang masuk. Dan di luar sepertinya sudah mulai mendung. Akan hujan.

“Mungkin kau butuh minuman, Jack Daniels,Whisky,Vodka, aku bisa usahakan itu”
Aku lalu merokok. Ia pun merokok. Sebuah cerutu dikeluarkan dari kotak rokok yang disimpan dalam kantong kemejanya.
“Ini Cohiba teman” katanya dengan wajah meringis dan cerutu terpasang di antara giginya. Kamar itu segera dipenuhi bau asap cerutu. Aromanya kuat dan berat.
“Mungkin kalau aku butuh kamar kontrakan yang baru,aku akan hubungi kamu” jawabku.
“Yah.tentu.itupun bisa. Ini kartu namaku” Ia menyodorkan padaku sebuah kartu nama berwarna hijau muda. Warna yang terang. Kemilau tinta-tinta emas membentuk nama, nomor HP,dan e-mail di atas kartu itu. Hujan di luar turun begitu saja. Langsung dan deras seolah-olah seorang nyonya angkuh yang sedang marah-marah.
“Kau tahu aku bisa usahakan kamar yang baik,kamar mandi dalam,akses masuk keluar dua puluh empat jam, lingkungan yang mendukung?”Kami berdua duduk dan melihat hujan yang turun dari jendela.
“Aku harus mengantar beberapa barang lagi,..tapi hujan begini” Ia melihat keadaan di luar dengan mata yang melamun.
Susana sunyi.
Aku pamit pergi. Ia lalu menghilang lagi ke dalam gang-gang di perumahan itu sambil menenteng dua tasnya. Motor Kara ada di kampus tadi aku sengaja tidak membawanya. Kini aku harus ke jalan besar,naik bis untuk pulang ke kampus. Sebentar-sebentar aku berhenti untuk berteduh. Jalan besar selalu terasa dekat tetapi setiap kali kupkir aku sudah sampai aku harus memutar atau masuk sebuah gang lagi. Di kiri kananku beberapa warung makan terlihat penuh, beberapa orang bahkan harus antri untuk memesan makanan. Beberapa perempuan lewat dengan daster batik mereka yang tidak terlalu panjang. Di bawah payung yang cukup lebar mereka asik bercerita. Seolah hujan adalah sebuah bagian yang baik dari sebuah hari. Tak ada kesan muram, dan langit memang agak biru terang tidak terlalu mendung. Aku pikir seharusnya mendung saja. Rumah-rumah di tempat itu begitu terlihat mungil. Teratur dalam kesan tumpuk-menumpuk satu sama lain. Pintu-pintu dan jendela yang berbingkai kayu dengan warna cat yang telah pudar seperti setia berada pada tembok-tembok yang tak lagi bercat dan ditutupi lumut. Semakin tersembunyi saja semua bangunan-bangunan itu dengan tetumbuhan yang menumpuk rapat dalam barisan pot berbagai ukuran dan juga jenis lain yang merambat dan menutupi hampir separuh dari tembok rumah. Antena-antena TV menjulang, dan suara televisi serta radio atau lagu-lagu dari VCD bersama menyebar ke lorong-lorong.
Sepertinya aku cukup kehujanan. Di sebuah gang sempit yang kukira adalah sebuah gang buntu aku berhenti. Berteduh lagi. Ada sebuah warung Burjo di situ. Aku masuk. Rambutku sudah lumayan basah, untunglah bajuku tidak seberapa. Hujan menerpa atap warung itu begitu kencang. Aku harus agak teriak waktu meminta teh hangat dan mie rebus. Tak terdengar apa-apa, hanya suara hujan di atap seperti gemerincing tumpul yang tak mau berhenti.
Aku sudah di kampus.Lagi. Beberapa orang yang aku kenal tengah duduk bersama di lorong-lorong kampus. Aku bergabung bersama mereka sebentar. Berbincang dan merokok. Beberapa pergi setelah dihampiri oleh perempuan-perempuan yang mungkin adalah pacar mereka. Tinggal aku dan dua orang. Seorang kemudian mengeluarkan sebotol minuman dari dalam tasnya. Vodka. Minuman itu kami hirup bergantian. Rasa hangat dari leher turun pelan seperti malu-malu ke dalam perut. Aku lalu pulang, kulit wajahku terasa kebal.
Kini sudah betul-betul gelap. Malam. Kara tadi meneleponku.
“Woy,sudah kau dapat parfum-parfumnya?,baguslah. Besok tolong kau bayarkan tagihan internetnya. Juga kalau Galonnya habis ya isi saja…ikan-ikanku baikkan? Kasih makan saja seperti yang sudah kupesankan itu. Kenapa? Di sini? Yah, ada sedikit masalah. Aku harus mengurus anak pamanku,sepupuku, ia tak mau pulang. Ini aku lagi nyariin dia.kasihan pamanku itu. Anak itu suka melaut, katanya mau mancing saja, ga mau sekolah. Ini aku nyariinnya sambil bawa seragam sekolahnya,begitu berhasil dibujuk langsung dibawa ke sekolah. Langsung beresin masalahnya dengan sekolah. Lho iya?! Kan mereka lagi ujian sekarang, ini dia malah bolos. Pamanku sudah tua,kemarin berkelahi dengan ayahku, yah biasalah orang tua. Ini aku pulang supaya bisa bikin suasana lebih dingin,…hmmm,urusan paman beres sekarang urusan anaknya. Di laut terus aku sekarang,”
“Tinggi ombaknya?”
“Lumayan. Kering jadinya kulitku nih. Tahu sendiri udara laut kayak apa. Sekarang lagi musim rumput laut di sini. Orang-orang pada ngurus rumput laut. Rame pokoknya. Aku cari sepupuku ke beberapa kampung nelayan. Di mana-mana sama saja. Rumput laut semua. Tapi hasil laut lagi bagus-bagusnya ini. Aku tadi habis makan cumi. Makan mentah,hanya dicampur cuka dan air jeruk nipis.”
“Baik Kara,semoga ketemu sepupumu itu”
“Yah,baik jugalah di sana”
Aku duduk bersandar di tembok. Di televisi film komedi yang tadi kusewa sedang menunjukkan adegan seorang pria mengintip seorang perempuan yang sedang mandi. Botol bir itu sudah setengah habis. Masih setengah terisi. Udara hangat,rasanya kaos oblong tipis yang kupakai ingin kulepas tapi tidak jadi. Aku ingin tidur, atau tiba-tiba tertidur, atau entahlah. Tetapi sepertinya mataku masih ingin terbuka.
Di hari –hari biasa, aku akan bangun pagi-pagi meminum air putih yang banyak lalu ke Burjo dekat kosku, aku duduk lama-lama di situ. Menunggu Koran untuk hari itu, lalu bila sudah datang, aku membacanya sambil merokok dan melihat pagi yang datang perlahan. Pagi yang sepertinya begitu diam dan baik. Pagi yang sepertinya adalah sebuah bagian manis dari sebuah kisah panjang yang pilu dan menyakitkan. Pagi yang sepertinya tanpa perlu ribut dapat membuatku mengerti dan merasa tenang. Entah mengerti akan apa. Bila sudah selesai membaca Koran atau sudah puas duduk-duduk,aku kadang sarapan di situ, kadang juga langsung pulang ke kos. Tidur lagi atau menyapa teman-temanku di kamar-kamar sebelah. Ada yang baru pulang dari Warnet,begadang mencari bahan untuk tugas kuliah. Ada yang bercerita kalau Ia baru pulang Dugem,kadang teman yang satu ini membagiku minuman atau rokok-rokok dari luar negeri. Ia juga sering bercerita tentang bagaimana ia dan teman-temannya menggilir gadis-gadis yang mabuk. Biasanya mereka membawa perempuan-perempuan yang lemas dan tak bisa berjalan lurus itu pulang ke kamar kontrakan salah satu dari mereka di pagi-pagi buta. Dan baru akan mengantarnya pulang di siang hari. Ia sering tertawa bila menceritakan hal itu. Aku tak tahu harus tertawa atau tidak. Tapi,aku biasanya aku ikut tertawa juga. Ia suka berkelakar,salah satu leluconnya adalah tentang bagaimana ia membayangkan bila teman-temannya itu suatu hari akan menemukan foto mereka yang sedang tidur dengan seorang perempuan di situs-situs hiburan dewasa. Foto saat mereka sedang asyik dan tak sadar. Aku rasa aku tahu itu adalah lelucon yang baik untuk ukuran sebuah lelucon tapi aku tidak tahu harus tertawa atau tidak. Temanku yang lain lagi adalah seorang mahasiswa Manajemen,sekampus dengan Kara, yang menurutku cukup teratur kesehariannya. Orang itu selalu gampang tersenyum, ia sama denganku dalam soal bangun pagi. Biasanya di awal hari ia akan berdoa lalu sedikit bersenam di kamarnya. Aku sering ke kamarnya bila ada waktu atau bila bosan dengan tugas-tugas kursus yang sederhana tapi memakan waktu dalam pengerjaannya, biasanya ia kuajak bercerita tentang hal-hal mistis dan gaib. Ia biasanya bercerita padaku tentang pengorbanan para martir nasrani di negara-negara perang.
Tak banyak yang bisa dilakukan. Biasanya sepulang kursus aku tidur sampai tengah malam, lalu bangun untuk makan di Burjo. Setelah itu ngobrol dengan beberapa teman yang belum tidur. Bila punya cukup uang kami akan minum-minum atau mereka sering juga menyewa playstation. Aku tidak terlalu menikmati playstation jadi biasanya aku main di kamarnya si martir . Ia punya TV di kamarnya. Setelah itu aku biasanya jalan kaki, dengan jumper menutup kepala dan tangan di dalam saku, ke Warnet. Waktu Happy Hour itu kadang menguntungkan juga. Aku suka melihat situs tentang tempat liburan. Pernah suatu kali aku membaca artikel di sebuah majalah tentang tempat liburan di Yunani. Bersama artikel itu ada sebuah foto kecil yang menggambarkan bangunan-bangunan besar,pegunungan yang berbatu dan turis-turis yang sedang mengunjunginya. Sepertinya rombongan sebuah keluarga yang sedang berwisata. Itu yang menjadi awal ketertarikanku. Setelah merasa cukup di Warnet aku pulang dan tidur sebentar untuk bangun tak lama sesudah itu. Di pagi hari aku akan main ke kampus Kara, makan atau sekedar duduk-duduk di kantin kampusnya atau ikut dia dan teman-teman kuliahnya. Kadang mereka dapat juga melakukan hal-hal menyenangkan, selain minum atau mengerjai salah satu dari teman mereka habis-habisan. Ya begitu saja. Bermain tak jelas sampai sore ketika waktu kursus tiba. Lalu aku akan melenggang ke kampus di sebelah kampus Kara. Menenteng tas samping yang berisi buku catatan dan buku-buku teks. Berjalan di lorong-lorong yang dilewati mahasiswa-mahasiswa yang akan kuliah sore atau yang baru akan pulang. Taman-tamannya dipenuhi orang yang duduk melingkar dan berdiskusi, dan suara bola dipantulkan terdengar dari ruang olahraga. Ramai. Harapan menumpuk di dalamku,biasanya,ketika aku mulai ikut kelas kursus ini. Dari jendela kelas dapat aku lihat daun-daun pohon dan atap-atap dari rumah-rumah di sekitar kampus itu. Begitu kecil tapi rasanya begitu dekat. Pemandangan kota di luar itu seperti sedang berbincang-bincang dengan angin.
Kupikir aku sedang tidak di hari yang biasa. Malam ini. Aku di kamar Kara. Merasa harus tidur meski selalu sadar bahwa aku tidak terlalu perlu itu. Temanku itu sedang di sana,di udik, aku tidak tahu apa Ia menikmati waktunya di sana. Ia dan perjalanannya di pantai-pantai itu dan aku di sini di dalam sebuah kamar di kota dengan hari-harinya yang selalu berhujan. Ya,Mungkin kami sedang tidak berada pada hari-hari yang biasa. Rasanya kota di luar sedang berpelukan dengan malam.
# # #
Mario mengirim SMS ; ”Hai,ini Mario mungkin kau perlu pacar.Aku bisa usahakan itu.Aku bisa kasih informasi tentang orang yang ingin kamu dekati,lengkap, atau mungkin kamu sedang suka sama seseorang,dan udah gak ada peluang lagi.Aku bisa carikan cewek yang mirip selama kamu punya fotonya dan kamu ceritakan soal kepribadiannya. Bisa aku atur. Atau mungkin kamu suka replika senjata api. Ukuran dan berat sama seperti asli. Barang yang lagi ada itu Magnum 44,sama AK 47.oke.jangan ragu-ragu kalau tertarik.”

TAMAT
WaringinSari, 12 Februari 2011

Comments

Popular posts from this blog

Di Bawah Sorotan Lampu

Arsip

Di Ujung Tahun