Catatan atas Arte Publiku : Sepotong Proses Budaya Festival Seni di Timor Leste
Selama kurun waktu lebih dari satu
minggu, di pertengahan Agustus tahun 2014, suasana pekarangan di dalam
lingkungan Komunitas Seniman Arte Moris di bilangan Comoro Dili terlihat
berbeda. Pada pekarangan sekolah seni tersebut penuh dengan orang-orang dan kursi-kursi yang tersusun secara berkelompok
yang juga telah tertata dengan beberapa meja meja panjang. Kelompok yang
menyerupai “kelas di luar ruangan” itu berjumlah sekitar tiga atau empat
kelompok, berbagai bahan beraneka warna memenuhi meja-meja pada kelompok itu,
kebanyakan adalah alat-alat menulis, melukis, atau alat untuk membuat kerajinan
tangan. Di dalam kelompok-kelompok yang meja dan kursinya terisi dengan
orang-orang itulah kegiatan Work Shop tengah berlangsung. Kegiatan yang
dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian festival seni yang acara utamanya di
selenggarakan di Dili, Timor Leste pada 28 sampai 31 Agustus 2014, yaitu Festival
Seni Arte Publiku.
Kesan Serba Pertama
dan Proses tak Kenal Lelah
Kesan “serba pertama” terasa di dalam
pelaksanaan kegiatan ini. Dalam Workshop teater yang menghadirkan seorang artis
seni pantomim, Andhy, dari Yogyakarta- Indonesia, terlihat adanya penekanan
oleh panitia pelaksana tentang kenyataan, yang menurut pendapat mereka, bahwa
pementasan seni pertunjukkan jenis pantomime ini baru pertama kali diadakan di
Timor Leste. Pada tingkatan yang lebih luas, sebuah bentuk pelaksanaan kegiatan
dalam bentuk festival yang memiliki ciri-ciri berupa kemajemukan seniman, serta
bentuk seni yang ditampilkan dan dilaksanakan dalam rentang waktu beberapa
hari, adalah juga, untuk pertama kalinya dilaksanakan di negara ini.
Dari segi nama Arte Publiku secara
gamblang menunjukkan fungsi seni yang bersifat umum, sebagai sesuatu yang
datang dari masyarakat dan kembali diberikan kepada masyarakat. Pertanyaan yang
harus terus disuarakan ialah apakah masyarakat Timor Leste telah secara
langsung bersentuhan dengan bentuk seni yang secara sengaja diarahkan untuk
mereka? Apakah bentuk seni yang dihadirkan di dalam festival ini bicara atas
nama masyarakat? Dan apakah dampaknya nanti bagi masyarakat?
Pertanyaan di atas akan membuka
banyak ruang diskusi tentang kegiatan seni, akan tetapi pembicaraan di dalam
tulisan ini akan dibatasi pada persoalan tentang sebuah budaya baru yang telah
hadir pada negara-negara yang mulai memberi ruang cukup besar bagi dunia
apresiasi seni, sebuah budaya yang menjadi tanah subur untuk tumbuhnya semangat
berkarya, kesempatan untuk saling mengenal dan membangun jaringan di antara
seniman, sebuah budaya pelaksanaan kegiatan festival seni.
Berbicara tentang sebuah kegiatan festival seni berarti berbicara
tentang sebuah proses pekerjaan yang meliputi bentuk-bentuk kerja yang kompleks
baik menyangkut masalah teknis manajemen organisasi yang praktis dan presisi
maupun proses kreatif artistik yang cenderung personal dan kontempolatif.
Berbagai bentuk dialog dibangun, dan berbagai bentuk komunikasi lahir dari
banyak pihak, seperti antara seniman dalam sebuah kelompok maupun antar sebuah
kelompok seniman dengan kelompok seniman yang lain.
Posisi Arte Moris di dalam Arte
Publiku cukup signifikan. Sebagai sebuah komunitas seniman dengan track record yang tinggi dalam bidang
penciptaan karya maupun penyelanggaraan kegiatan, Arte Moris menjadi sebuah
jalan besar atau ruang utama di mana dialog antara seniman dapat terbangun. Hal
ini terlepas dari perbedaan pandangan dalam dunia seni yang tak dapat diingkari
akan selalu ada demi keberlangsungan hidup seni itu sendiri. Kegiatan Arte
Publiku melahirkan jaringan kerja sama yang meliputi beberapa organsasi seni
yang ada di dalam Timor Leste maupun yang datang dari luar negeri.
Pada ruang pameran di studio milik
organisasi seni Gembel di Lecidere, dalam kurun waktu pelaksanaan Arte Publiku,
kita dapat melihat karya-karya dari beberapa organisasi, atau komunitas seni
seperti Arte Lospalos, Sanggar Matan, Afalyca serta beberapa karya yang
bersifat individual. Keberadaan dari karya-karya ini dengan keragaman latar
belakang individu maupun kelompok merupakan sebuah hasil dari komunikasi yang
dibangun oleh Arte Publiku, dan akan semakin baik bila adanya bentuk kuratorial
yang membuat pemaknaan dari keberadaan karya tersebut tidak akan hanya bersifat
perayaan semata tetapi akan lebih awet dan menjadi sebuah sumber evaluasi yang
berguna. Tentu ini bukanlah kerja yang mudah.
Sebuah energi dan perhatian yang
besar diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan seperti Arte Publiku ini. Sebuah
festival seni merupakan suatu kegiatan massal yang melibatkan kerapihan kerja
manajerial dan keefektifan tata kerja yang harus dimiliki oleh semua bagian
dari panitia kerja tersebut. Budaya kerja massal dan komunal telah memiliki
dasarnya di dalam aspek sosial masyarakat Timor Leste. Pelaksanaan acara
adat-tradisional biasanya dapat memakan waktu berhari-hari melibatkan banyak
pihak, memakan banyak materi,dan tentu saja tenaga yang tak sedikit.
Orang-orang dalam upacara adat tertata berdasarkan posisi adat mereka, di mana
tiap-tiap posisi memiliki bentuk aturan tersendiri untuk melakukan sesuatu atau
untuk dialamatkan sesuatu. Aturan adat yang tak tertulis mengatur hampir semua
hal hingga pada kesalahan-kesalahan prosesi yang bisa saja muncul. Semuanya tak
kalah kompleks dan rumit dibandingkan bentuk kegiatan massal modern. Sehingga
dapat dikatakan lewat budaya festival ini terjadi juga sebuah proses, bila
dapat ditujukan secara langsung, tentang bagaimana menjadi orang Timor Leste di
era seni kontemporer yang dimanifestasikan dalam kegiatan festival.
Tarian Masa Lalu di
Panggung Masa Depan
Secara umum
tema yang diangkat di dalam karya-karya yang ditampilkan di Arte Publiku sangat
beragam, isu identitas nasional, kritik sosial, dan kelestarian alam
(pemanfaatan barang bekas dalam berkarya) berpadu dalam festival tersebut.
Dasar berupa identitas nasional tak dapat disangkal menjadi wadah utama dari
tema-tema tersebut, dikuatkan dengan arti gamblang dari Arte Publiku yaitu seni
untuk umum. Maka inilah corak yang kita tangkap dari festival ini. Para seniman
Timor Leste baik secara individu, maupun kelompok megolah tema indentitas
nasional melalui narasi sejarah, tokoh-tokoh bangsa dan simbol-simbol
kenegaraan. Sebuah lukisan di studio Gembel mengambil figur Xanana Gusmao saat melukis di LP Cipinang (
Lukisan karya Serpa, dengan judul: Xanana
Cipinan), dan beberapa pelukis memakai simbol seperti bendera dan peristiwa
bersejarah ( Lukisan Jhony berjudul Independence
Day serta sebuah lukisan yang menggambarkan tragedi Santa Crus).
Sebuah ciri
khas Arte Publiku yang akhirnya lahir dari kegiatan ini adalah hadirnya dua
boneka raksasa yang mulanya dipakai sebagai bagian dari kegiatan pawai, Artista Marsa Tuir Dalan pada 28 Agustus
2014. Dua sosok buatan, Avo Mane dan Avo Feto yang digambarkan sangat
domestik dengan memakai pakaian tradisional, kebaya dan tais ini menjadi
primadona dalam acara pawai dan juga acara-acara pertunjukkan berikutnya. Dapat
dikatakan inilah arti sebenarnya dari aspek “umum”, publisitas, yang diusung
Arte Publiku. Seni yang ada di dalam Arte Publiku diarak dan diusung agar dapat
terlihat bagi semua orang, sebuah seni yang menari, bergerak, dan hadir dengan
maksud untuk memberikan sebuah hiburan atau kesenangan. Sebuah seni yang tak
jauh-jauh bercerita tentang keadaan sederhana orang Timor Leste. Kenangan yang
diwariskan dari nenek moyang saat mereka menari merayakan panen yang telah tiba
dan akan menjamin kelangsungan hidup mereka. Pada titik inilah seni menjadi
hidup, karena kebahagiaan dan kehidupan sesungguhnya selalu hadir dalam bentuk
yang sederhana. Sebuah tarian sederhana dari masa lalu yang (semoga akan
selalu) ditarikan pada panggung di masa depan.
Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa kegiatan Arte Publiku tidak hanya sampai pada sebuah proses permulaan
tetapi dapat dikatakan juga sebagai sebuah usaha jangka panjang dan terus
menerus yang tentu saja akan meminta banyak tenaga, perhatian, dukungan finansial,
kecakapan manajemen pertunjukan, semua ini demi sesuatu yang disebut sebagai
kepuasan dalam menciptakan, menikmati dan dan mengapresiasi sebuah karya seni.
Sampai bertemu dalam festival-festival seni lainnya.
(Tulisan ini telah diterbitkan pada harian Suara Timor Lorosae Edisi No.9537.Kuarta,10 Setembru 2014)
Comments
Post a Comment