Ngobrol Film : Human Centipede (First Sequence)
Judul : Human Centipede (First Sequence)
Sutradara /Naskah : Tom Six
Aktor : Dieter Laser, Akihiro Kitamura, Ashley C. Williams, Ashlynn Yennie.
Tahun : 2009
Durasi : 92 menit
Seberapa gelap sisi “kebenaran” kita?
Dari membaca tulisan yang dibuat untuk film ini di http://www.imdb.com/title/tt1467304/, dapat ditemukan beberapa bagian unik tentang kebenaran, atau sekurang-kurangnya realita yang dipakai sebagai acuan dalam film ini. Mulai dari sang penulis dan sutradara yang terinspirasi dari ide kelakar antara dia dan temannya untuk menghukum anak yang nakal dengan cara memelester mulut si anak ke, maaf, pantat seorang supir truk yang gemuk. Berikutnya adalah penggunaan label "100% medically accurate" yang didapatkan setelah konsultasi dengan praktisi dan pakar bedah. Juga bagaimana komentar dari Roger Ebert,seorang krtitikus film bahwa "The film is what it is and occupies a world where the stars don't shine." Dengan cabang-cabang inilah film ini coba masuk ke apa yang anda dan saya dan mungkin orang lain percaya sebagai realita. Dari pengalaman pribadi, dari referensi standar tentang ketubuhan yang diperoleh dari pihak medis dengan kapasitas identifikasinya, dan komentar atasnya sebagai sebuah karya film yang dikatakan memberikan gambaran langsung ; apa adanya dan kebisaannya untuk (bila boleh dikatakan ) mereka ulang kenyataan dengan potensi-potensinya sebagai sebuah media beralaskan kekuatan kefiktifan.
Karakter si dokter,Josef Heiter, membawa kita pada referensi tentang dokter di era Nazi, sebagaimana informasi yang menyatakan bahwa nama karakter berasal dari gabungan (lebih bersifat referensial) nama Josef Mengele dan Fetter; yang pertama adalah penggiat metode penyiksaan pada para tawanan di Auschwitz dan yang kedua adalah seorang kriminal perang. Heiter dalam bahasa jerman berarti ceria.
Dalam pembahasan tentang film ini, saya mencoba mulai dengan melihat rumah, ruang kehidupan si dokter yang tertata dengan begitu baik dan rapi,menunjukan standar higienitas sang empunya yang punya latar belakang sebagai orang medis. Gambar atau lukisan yang terdapat di dinding-dinding rumah tersebut menunjukkan objek-objek yang tergabung dalam bentuknya yang nyaris abstrak. Karakterisasi ini memberikan gambaran bahwa tokoh dokter ini punya sejarah tersendiri dengan tubuh-tubuh yang tersatukan oleh,kalau bisa disebut ,alam. Bayi-bayi kembar siam yang lahir dalam keadaan menyatu. Si dokter, si ahli bedah yang sudah pensiun itu memiliki kapasitas yang telah terasah dalam karirnya sebagai pemisah kembar dempet. Dan tema film ini adalah sebuah kebalikan total dari sesuatu yang sudah ditekuni si dokter itu. Dia dikarakterkan memiliki obsesi untuk menyatukan,bilang saja, makhluk hidup. Semula anjing,kemudian manusia.
Anggap saja anda saya,dan siapapun sedang akan melihat film ini untuk pertama kali, dan kita menontonnya dengan cara pemilihan acak,dan dengan pengetahuan yang amat minim atau tanpa referensi apapun tentangnya. Apa yang akan kita pikirkan saat melihat adegan waktu si dokter sedih melihat foto anjing yang mungkin tidak bertahan hidup lama setelah ‘didempetkannya’?. Jawaban saya adalah kemungkinan besar isi pikiran kita sebagian besar akan sama ; mungkinkah itu diperlakukan pada manusia? Pada sisi inilah film ini mendapat ranjangnya yang paling empuk. Di sisi di mana realitas film puya koneksi pada kebertubuhan kita yang amat subjektif itu. Kulit-kulit wajah para karakter yang dijahit ke pantat dari karakter lain itu akan terasa kuat pada perasaan daya indra sentuh kita apalagi bila embel-embel “akurasi medisnya” kemudian bercokol di pikiran kita.
Kontsruksi seperti apa yang telah membentuk karakter si dokter untuk sehingga akhirnya memiliki obsesi untuk melakukan hal yang adalah kebalikan dari apa yang telah lama dikerjakannya. Si dokter tersebut bahkan dari suatu sudut pandang tertentu menjadi si sakit yang berkebalikan dengan sisi lain diri dokternya. Tapi, coba kita masuk jauh lebih dalam lagi dari susunan dokter-pasien, disatukan-dipisahkan. Tentunya apa yang seringkali coba dicapai dengan satu makna tunggal :kebenaran. Apa yang dilakukan si dokter adalah versi tersendiri dari kebenaran miliknya. Kelainan,penyakit,dan identifikasi-identifikasi medis lainya dilanggar sendiri oleh seorang medis. Membawa kita pada pertanyaan, wacana seperti apa yang membuat para kembar dempet itu memiliki makna keberadaan lain sehingga pada mereka harus dikenai sebuah tindakan lanjutan tertentu? Mereka terlahir berbeda itu “salahnya”. Dan tokoh si dokter menjadi ujung tombak dari identifikasi tentang bagaimana seharusnya terlahir “benar”. Lalu bagaimana si dokter tersebut bisa sampai pada sebuah titik di mana dia memiliki kenikmatan untuk “sepertinya” menikam balik pada sang pemegang kuasa pemaknaan ?. “Aku sudah memisahkan yang terlahir dalam keadaan menyatu dalam pekerjaanku, kini aku akan menyatukan yang terlahir dalam keadaan terpisah (atau sendiri) di masa pensiunku”.Monolog itu buatan saya sendiri dari pembacaan saya atas film tersebut. Secara pragmatis kita bisa bilang bahwa apa yang dilakukan dokter itu mungkin saja adalah sebuah bentuk terapi. Untuk ini anda bisa membaca karya Viktor Frankl seorang pakar Logotherapy. Frankl (seorang Yahudi-Jerman) pernah mempunyai seorang pasien yang bekerja sebagai juru tulis. Si juru tulis ini punya masalah, dia takut dan sama sekali tidak bisa menulis karena membayangkan dia akan membuat kesalahan pada tulisannya (mungkin ini juru tulis di masa tertentu yang profesinya menuntut kemampuan membuat tulisan tangan yang baik). Metode yang diberikan Frankl pada pasien adalah metode kebalikan. Si juru tulis diminta menulis semaunya,membuat tulisan sesalah mungkin yang dia bisa. Metode Frankl memberikan ruang untuk ketakutan pasiennya, untuk meneruskan rambatan keinginan yang sumpek dalam saraf dan menjadi beban dan akhirnya bahkan melumpuhkan. Si pasien berhasil sembuh dengan metode ini. Dan apakah dokter Heiter sembuh setelah terapi ini? Atau mungkin si dokter tidak sedang menterapi dirinya, dia hanya sedang menunjukan sebuah pola dari hal yang mungkin terjadi bila seseorang atau sebuah hasrat dikekang oleh kuasa pemaknaan. Hasrat yang berada di ruang gelap yang sudah dingkari sejak pemaknaan pertama atas keberadaan kita dibuat.
Ruang ini yang kalau boleh saya sebut adalah satu lagi kebenaran. Kita semua bisa saja punya sisi ini. Sisi-sisi yang harus kita eliminasi, sisi yang harus kita tekan. Mereka ada di sana, berada seada-adanya mereka mungkin untuk ada. Kadang semakin jauh dan dalam kita menguncinya dalam tempat tertutup yang untuk dilupakan, semakin “lainlah”dia. Semakin gelaplah dia, hingga di suatu titik ada sebuah hasrat kenikmatan yang membuat kita bisa berbalik, merangkulnya dengan langsung dan sadar atau malah ditungganginya dalam kebutaan menuju sesuatu yang serba berkebalikan. Seberapa gelap tempat mereka yang tersangkal itu? Seberapa benar kebenaran-kebenaran itu? Siapa yang membuat kita menyangkalnya?
Saya pikir hal itu bisa dijawab, yang ingin saya kemukakan adalah saat bagaimana ruang itu kita buka, atau akhirnya kita terbawa ke ruang itu dan menuruti apa yang selama ini kita coba tekan. Di situlah,pada saatnya nanti sebuah kenikmatan akan didapatkan. Sebuah perayaan,seperti saat si dokter dengan begitu antusias, mabuk oleh kebahagiaan memotret “hasil karyanya”. Apa mungkin kebahagiaan seperti itu tak pernah ditemuinya saat ia berhasil memisahkan para kembar dempet? Apa kita semua bisa sebahagia itu saat berhasil mencapai apa yang selama ini kita suka tapi harus disangkali?Jadi bagaimana ini? apa kita benar-benar tahu apa yang kita mau? Akan ada sebuah hasrat yang memimpin kita ke sana. Hasrat yang menjanjikan sebuah kepuasan yang hebat. Bisa saja antara apa yang kita akui dan sangkali sebenarnya hanya objek-objek nirmakna yang terapung ke sana-sini, kitalah yang membatasinya lalu terjebak sendiri dalam kotak-kotak yang kita buat atas mereka. Sungguh,apa kita betul-betul tahu apa yang kita mau?
Dari sisi kemungkinan akan kenyataan yang bisa dibuat, film ini sudah berhasil “menghibur” penonton. Memberi jawaban visual untuk imajinasi para penyimaknya. Dan seperti padasequence dari film ini, jumlah memiliki peranan penting. Untuk sequence kedua dihadirkan lebih dari tiga manusia yang digabungkan,dan si sutradara menjanjikan lima ratus orang untuk digabungkan pada sequence ketiga dari film ini. Betapa kita adalah makhluk yang tergila-gila dengan jumlah.
Comments
Post a Comment