Di Sudut Kantin

 

Di Sudut Kantin

Pagi.Tidak, ini sudah siang.Sial. Setiap kali aku sibuk dengan buku dan catatan-catatan, mencoba untuk tidak mengantuk dan hilang dalam teks-teks yang selalu saja terasa asing itu , selalu  saja tak sadar kalau waktu sudah berganti.

Kantin kampus. Aroma rokok dan kopi, suara blender pembuat jus,  bayang-bayang orang lalu-lalang, suara orang-orang berbicara yang serupa dengung panjang lebah-lebah pekerja. Mengundang rasa kantuk. Suara tawa, dan bisikan-bisikan. Bunyi-bunyi yang seperti menunggu diberi makna.Orang-orang sibuk dengan pikiran dan urusannya masing-masing.

Hari ini ada ujian.Saat aku berpikir tentang kesibukan-kesibukan belajar yang dibeli dengan uang yang tak sedikit ini, timbul pertanyaan; apa ini semua hanya akan menjadi sebuah romantisme kisah perjuangan menuntut ilmu? Keharuan membangun masa depan ? Sementara di luar sana, kenyataan mungkin tengah mendera orang-orang yang barangkali dulu pernah berada di posisi sepertiku sekarang. Atau mungkin juga tidak.

Sampai di mana bagian yang harus kuhafal tadi ? Tabel-tabel, grafik-grafik, dan ilustasi-ilustrasi berderet di lembaran yang kugenggam.

Aku duduk sendiri saja sejak datang tadi. Seperti biasa, mencoba senyaman mungkin pada meja di sudut yang agak jauh dari keramaian. Di depan sebuah kios yang  sudah lama tak terpakai. Dulu, dulu sekali, kios itu pernah disewa oleh sekelompok anak-anak muda yang memakainya untuk menjual buku-buku politik dan sastra. Kumpulan-kumpulan cerpen terjemahan dari negeri-negeri yang jauh. Kios buku yang mungil dan manis itu hanya bertahan tidak sampai satu semester. Pihak kampus melarang mereka berjualan, menutup kios, dan mencap kelompok itu sebagai biang onar karena demo-demo menentang kebijakan kampus biasanya dimotori oleh kelompok mereka.

Kios buku memang hanya jadi penampakan luarnya saja. Kelompok itu tak benar-benar mau berdagang, mereka sering membiarkan anak-anak kampus datang dan membaca buku lama-lama disitu, tanpa harus membeli. Mereka sering buat acara diskusi, membuat malam pembacaan puisi, menggelar konser musik kecil dan ngobrol santai ke sana-sini soal apapun. Beberapa dari mereka adalah penyair yang cemerlang,  pemuda-pemuda yang romantis, namun penampilan mereka terlalu dekil di mata pembuat kebijakan kampus yang ingin agar kampus terlihat modern, tertata, dan sesuai salah satu moto kampus: berbudaya.

Dan sepeninggalan kios itu kami mahasiwa-mahasiswi di sini tak terlalu merasa kehilangan. Apakah karena kami tak suka membaca? Belum tentu. Kami suka membaca. Kami suka membaca kutipan-kutipan puitis, ujaran-ujaran motivasi, atau hal-hal humoris di status atau gambar-gambar yang bertebaran di media sosial, kadang hal-hal itu buat kami berdebat,apalagi kalau sudah soal agama, dan kalau tak bisa lagi beralasan dalam berdebat kami mulai bertinju.Ya, barangkali kami suka membaca , tapi yang pasti kami tak suka membeli buku.

Beto datang, Ia lalu bergabung denganku. Ia seorang teman dari jurusan lain. Seperti biasa, setia dengan jaket kumalnya yang selalu Ia banggakan karena mereknya yang terkenal dan berhasil dia dapat dengan harga murah di pasar pakaian bekas.

“Mau ujian kau?” Ia bertanya, membuka tempat minumannya. Aroma kopi menyeruak.

 “Santai saja. Sebenarnya yang namanya ujian itu kan secara umum sudah cukup jelas dipahami seluk beluknya. Semua soal pasti diambil dari buku yang itu-itu juga. Hal yang diperlukan hanyalah menghafal, membuat sebuah skema besar yang didalamnya terdapat gambaran kemungkinan hal-hal yang akan ditanyakan. Logika dasar itu. Mudah bukan?”

“Kalau semudah itu, harusnya kau sudah lulus sejak dua tahun yang lalu” Aku menjawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang kubaca.  Kami berdua tertawa.

Beto sebenarnya tak terlalu berminat kuliah. Ia di sini karena memenuhi keinginan orang tuanya yang mau agar anaknya jadi sarjana. Orang tuanya tak peduli apapun jurusannya, yang penting suatu saat nanti Ia akan wisuda. Sebuah posisi  di salah satu instansi pemerintahan sudah disiapkan orang tua Beto lewat jaringan-jaringan keluarga mereka.Barangkali seorang istri yang manis juga telah disiapkan. Ia kuliah di jurusan yang tak terlalu rumit. Asalkan rajin masuk kelas, pandai menyalin tugas dari internet, dan sesekali membantu urusan-urusan pribadi dosen maka semua akan baik-baik saja.Menyenangkan mengobrol dengan Beto. Ia seperti sudah selesai. Tuntas dan jelas.

“Kau sebenarnya mau jadi apa, Beto?”

“Untuk apa? Semua dari Presiden sampai sampai Ketua RT sudah ada” urai Beto.

Ah, sampai di mana tadi materi-materi yang kubaca.Sial.

Sepasang kekasih lewat dan mampir ke meja kami. Si lelaki adalah teman sekelas. Melihatku yang serius dengan materi-materi ujian, Ia basa-basi bertanya tentang topik-topik itu. Pacarnya seperti tak menganggap kami ada, sibuk terus dengan telepon genggamnya. Kemudian si lelaki mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya.

“ Aku dapat bocoran  nih!” katanya sambil tersenyum.

“Dari siapa?”

Ia tak menjawab. Masih tersenyum, dan langsung pergi begitu saja dengan pacarnya.Mereka berdua selalu begitu. Selalu terlihat pergi terburu-buru apalagi saat kelas usai. Si lelaki itu paling ahli dalam menemukan jalan pintas untuk tugas atau ujian. Ia diketahui sering membayar seorang kawan mahasiwa kami yang pintar untuk mengurus tugas-tugasnya. Mahasiswa pintar itu pun konon sudah mulai menyiapkan tugas akhir si lelaki. Bukan hanya lelaki itu, beberapa mahasiswa lain juga  sudah membayar  agar skripsi mereka dikerjakan oleh si pintar.  Kabarnya kelompok pembayar itu punya grup WhatsApp sendiri, tapi aku tidak tahu apa namanya. Lulus Cepat Kita Bisa? Cuma Skripsi kok Repot? Apa yang mereka bagikan di grup itu foto dan video-video motivasi? Ahh...Selera humorku memang buruk.

Waktu ujian makin dekat. Materi-materi yang kubaca masih belum lagi lebih dari setengah dari yang kuperkirakan akan diuji.

Seorang teman datang bergabung. Kami akan sama-sama ujian. Ia tampak tak pusing dengan urusan tes nanti. Si teman ini menyulut rokok, meminta kopi Beto,memuji nikmatnya kopi itu,yang hanya akan membuat Beto mengulang lagi cerita soal asal-usul bekal kopinya, mengeluarkan buku dari tasnya dan mulai membaca.

“Kau sudah belajar ya?” tanyaku saat menangkap judul buku yang dibacanya, sama sekali bukan buku mata kuliah yang akan ujian hari ini.

“Ikut ujian kan nanti?”sambungku.

“ Iya ikut..buku bagus ini,baru kupinjam dari perpus” jawabnya. 

 Hal yang paling kuingat dari teman ini adalah, Ia hanya akan masuk beberapa kali dalam satu semester masa kuliah. Ia datang di hari pertama untuk mendapatkan daftar materi, dan daftar buku-buku, lalu hanya akan datang lagi di waktu ujian-ujian. Saat kebanyakan kami ikut kuliah di kelas, dia lebih banyak berada di perpustakaan, membaca, mengunduh buku-buku,tulisan-tulisan atau video terkait materi kuliah, membuat catatan-catatan dari pembacaannya sendiri, dan menawarkan artikel-artikel, buku-buku versi pdf hasil unduhannya itu kepada siapapun yang merasa perlu. Nilai ujiannya jarang bagus,apalagi sempurna, bahkan kadang cukup rendah. Bila tak lulus, maka Ia akan mengulang mata kuliah itu lagi,atau kadang tidak. Terserah dia pokoknya. Ia tak peduli soal-soal seperti itu. Ia tak peduli soal akan tamat kuliah atau tidak. Ia lebih terkesima dengan pemahaman-pemahaman yang dia dapatkan dari proses belajarnya sendiri. Ia suka belajar.Ia cinta pengetahuan.  Jarang sekali Ia dapat ditemui di kelas, paling sering ya di kantin ini.

Namun, Ia tidak lantas menjadi seorang yang ahli dalam soal pelajaran. Biasa-biasa saja. Hanya kadang pendapat atau tindakannya mengejutkan kami. Ia pernah menyarankan agar kios-kios minuman di kantin berhenti menyediakan sedotan plastik. Para penjaga kios itu hanya bisa kebingungan mendengar penjelasannya soal pemanasan global. Ia vegetarian, dan percaya kalau meditasi bisa membuka jalan untuk berkomunikasi dengan makhluk-makhluk dari dimensi dan planet lain.Ia terlihat cuek, tetapi selalu menjadi kawan yang paling paham dan dengan bijak, dan tulus akan membantu bila salah satu dari anak di angkatan kami punya masalah.  Sebuah taman di sudut tersembunyi kampus ini penuh dengan kucing. Dialah penyebabnya. Di suatu waktu dulu, Ia membawa sepasang kucing ,jantan dan betina, yang dia dapat dari seorang kawan yang dilarang memelihara binatang di kamar sewaannya. Ia melepaskan mereka di taman itu. Pasangan kucing pun beranak pinak, kini keturunan mereka sering bergerombol hilir mudik di sudut-sudut kampus, mengaduk-aduk tempat sampah atau mengejar-ngejar kadal.

Sebuah paragraf uraian teori dengan lebih dari tiga referensi membuatku terpekur cukup lama, dan bolak-balik membaca ulang kalimat-kalimat panjang itu. Aku terlihat seperti sedang berdoa.

“ Jadi mudah saja, yang penting kau ingat rangkuman-rangkuman pentingnya” Beto berkomentar.

“Sebenarnya semua pengetahuan sudah ada dalam sebuah kesadaran yang universal.Kita hanya perlu masuk ke dalam kesadaran itu” si vegetarian seperti sedang mendaraskan kutipan dari kitab-kitab kuno.

Sepertinya aku benar-benar harus berdoa bila mau berhasil di ujian nanti.

Kawan kami, si pintar yang biasa dibayar untuk membuatkan skripsi, datang tergopoh-gopoh.

“Kalian sudah cek di grup W.A. kelas?”

“Belum, kenapa?”

“Ujian dibatalkan, kabar dari pak dosen. Dan dengar-dengar mereka semua dipanggil untuk rapat mendadak.”

“Kan bisa ujian diawasi asisten-asisten?” Tanyaku.

“Semua asisten juga dipanggil. Semua kelas kuliah dibatalkan hari ini. Ada heboh soal joki pembuatan tugas dan skripsi. Kabarnya, sudah tersebar ke medsos-medsos. Ada video mahasiswa-mahasiswa sini yang pamer skripsi bayaran mereka sambil joget-joget. Pak ketua jurusan sepertinya mau bikin pembersihan.”

Si pintar pergi. Raut wajahnya gugup.

Tinggal aku, Beto, dan si vegetarian duduk tanpa bicara apapun di meja itu. Di sudut kantin. Dari jauh kami bertiga pasti terlihat seperti sedang khusyuk berdoa. Seekor kucing lewat di bawah meja kami.

-Selesai-

Kupang,15 Februari 2022

Comments

Popular posts from this blog

Di Bawah Sorotan Lampu

Arsip

Di Ujung Tahun