Film dan Kebudayaan : Sebuah Perbincangan Lepas
Film dan Kebudayaan :
Sebuah Perbincangan Lepas
Film: Untuk Apa?
Sebuah
film dokumenter produksi tahun 2014 “Why Horor” hasil karya penulis Rob
Lindsay, mengangkat tentang tema keberadaan film horor. Ia mempersoalkan
bagiamana konsep-konsep horor itu dibentuk, juga mengapa aliran film seperti
ini bisa sangat digemari dan tidak pernah kehabisan penonton. Apa yang membuat
orang menjadi begitu terhibur dengan apa yang disebut hal-hal yang tak
diketahui, tak dapat diduga, dan bisa saja disebut, nirmakna: tak dapat
dimaknai. Film berperan memuaskan kita untuk bersentuhan dengan hal-hal seperti
itu.
Slavoj
Zizek seorang pakar Lacanian-Psychoanalysis memakai sejumlah film, dari yang
punya nama besar seperti “Sound of Music ”(Roert Wise:1965)
hingga yang dari kelas terlupakan seperti “They Live”(John
Carpenter:1988). Film-film itu dibahas dengan cara memaparkan bagaimana mereka
dengan sangat baik menunjukkan cara kerja sisi kejiwaan manusia atau
masyarakat. Terangkum dalam judul “ The Pervert Guide to
The Cinema” (Sophie Fiennes:2006), terbumbui dengan parodik-parodi yang
kreatif, dokumenter tersebut menendang dengan kesimpulan besar yang langsug
disajikan di bagian awal, “ Film mengajari orang bagaimana cara berhasrat”.
Ini
kredo utama bagi orang-orang Psikoanalisa ; hasratlah yang menggerakan manusia.
Hasrat yang menggerakan masyarakat, bahkan yang menggerakkan kehidupan.
Dan semuanya tentu saja bemuara pada apa yang kita sebut sebagai usaha tak
henti-hentinya untuk memaknai kehidupan ini, sesuatu yang kita kenal juga
dengan nama : Kebudayaan.
Ciri khas,Karakter, Imaji Diri
Berbicara
tentang film dan citra kebudayaan yang ada di dalamnya tak akan lepas dari
kesan-kesan, tipikalisme, hingga stereotip yang kadang dapat menjadi acuan yang
unik. Jerman terkenal dengan tim sepakbolanya yang “lambat panas” dalam
bertanding, sudah nonton film Jerman (waktu itu masih Jerman Barat)
berjudul “Das Boot”( Wolfgang Petersen :1981) ?, durasi film
itu hampir 2,5 jam, dan makin ke belakang konfliknya makin panas. Jepang
terkenal dengan budaya keteraturan dan disiplin yang ketat dan bahkan kadang
lebih penting dari kehidupan itu sendiri, sudah nonton “Godzila:
Resurgence” (Hideaki Anno, Shinji Higuchi :2016)? Kesannya seperti
melihat panduan bagaimana membentuk sebuah birokrasi yang rapi, disipilin, dan
cepat-tanggap saat ada “monster” menyerang. Bagaimana dengan film-film
Bolywood? yang seperti ciri kuliner dan juga tata-cara percintaan kama sutra
mereka yang tersaji dalam beragam gaya,bentuk ,warna,dan rasa namun terkunci
dalam tatanan protokoler yang tak bisa dibilang tak ketat.
Kita
bisa belajar tentang film sebagai cermin, atau gambaran, atau hasil dokumentasi
dari masyarakat kita dengan melihat pada kutipan dari sebuah essai dari situs
perpustakan perfilman nasional berikut:
“Dari
sisi lain, film juga merupakan koleksi local content (muatan lokal) yang sangat
khas. Jika buku dapat diterjemahkan dengan persis ke dalam berbagai bahasa
tanpa mengubah isi dan maknanya, maka film tidak mungkin melakukan itu. Sebuah
film asing misalnya, jika disadur menjadi film lokal dan dimainkan oleh artis
lokal, maka isi dan maknanya pasti berubah, sekalipun tidak ada teks yang
diubah. Hal ini dapat terjadi karena kesan dan pesan dari sebuah cerita dalam
film akan sangat tergantung pada cara pemain memainkannya[1].”
Siapa Di balik Kamera ?
Dan
film tidak muncul begitu saja. Proses panjang yang tidak hanya soal-soal
estetika dan teknis, namun juga politik dan kebudayaan. Hitler dengan begitu
anggun membangun imaji Jerman yang agung lewat film-film yang diciptakan
departemen propagandanya. Satu bangsa terbakar dan bergerak menuju satu arah,
satu mimpi. Ada hubungan kuat antara imaji yang hendak dibangun, dan imaji yang
tanpa sadar terekam. Film sebagai media pembangun dan perekam, dan kehidupan
terbagi menjadi beberapa bagian, yang ingin kita lihat dan tampilkan, dan yang
ingin kita sisihkan namun suatu waktu akan terbaca.
Film
legendaris “The Godfather”(Francis Ford Coppola:1972) punya cerita yang
cukup menyeramkan dibalik pembuatannya, kaum mafia tidak setuju karena mereka
berasumsi film itu akan membawa pandangan tertentu tentang mereka yang
“rahasia” namun sangat berkuasa. Produser film diteror, ijin penggunaan lokasi
dipersulit meski akhirnya pegambilan gambar dapat dilakukan. Lucunya, ketika
film ini sukses ( penghargaan dari Golden Globe Awards ke 30, dengan kategori
Best Screenplay, Best Director, Best Actor - Drama, Best Original Score, dan
Best Picture – Drama ) kaum mafia justru meminta diadakan pemutaran khusus
untuk mereka, dan bahkan memakai gaya-gaya bahasa, tata cara, dan hal lain
(dengan kenaifan seorang maniak film) dari film itu untuk menegaskan kemafiaan
mereka.
Dan Bagaimana di Indonesia?
Kajian
film di negara kita sudah berkembang dengan baik, terimakasih untuk internet
dan semua teknologi bawaannya. Film-film lama bisa diakses di situs-situs yang
menyediakannya. Analisa dan debat dapat disimak di ruang-ruang ngobrol maya.
Wajah perfilman kita dapat kita susun dan bisa kita baca dari banyak sisi. Dan
selalu saja ada muara yang membawa kita untuk berkesimpulan; seperti ini rupanya!
wajah komunitas, karakter suku, dan sifat sebuah bangsa dari kesan paling kabur
sampai detail paling terang yang dapat diberikan oleh media film. Kesempatan
kita yang ada pada kita sekarang adalah membicarakannya dengan semua sisi yang
mungkin untuk dibahas.
Hal
itu bisa dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan ; Mengapa film komedi begitu
banyak diproduksi di era di mana kebebasan berpendapat dikebiri? Mengapa tokoh
“Sundel Bolong” yang diperankan Sussana sebelum kembali ke alam gaib
bisa-bisanya berpesan tentang pentingnya mengabdi pada bangsa dan negara?
Mengapa Inem Pelayan Seksi (1976), diharuskan berganti judul dari judul semula
“Inem Babu Seksi”, dan mengapa Suster Keramas (2009), diprotes oleh Majelis
Ulama Indonesia karena dianggap mengusik perasaan susila
masyarakat? Mengapa Kanan Kiri OK (1989), diharuskan berganti judul dari
“Kiri Kanan OK” karena kata 'Kiri' memberi kesan PKI.
Karena
film punya daya, dan dari situ kita bisa mulai bicara.
hal-hal yang sifatnya
informasi didapatkan dari berbagai sumber, dan tulisan ini disiapkan untuk
pemantil pada Sekolah Musa Angkatan 6 - Kelas Film, Mei 2017.
[1] Lihat
http://perfilman.perpusnas.go.id/artikel/detail/106
Comments
Post a Comment