Menemukan Kupang yang Subur : Sebuah Usaha Diskusi Seni Visual di kota Kupang

                                           

Kotong Bagambar-Bagambar ni untuk Sapa yang Mau Liat?

Soal menggambar, melukis, dan aktifitas seni visual lainnya di kota Kupang melalui sudut padang tertentu (yang dominan) adalah tentang membuat ,bagambar, karya yang tema-temanya berupa identitas tradisional. Penekanannya pada simbol-simbol visual dari kebudayaan-kebudayaan ragam etnis yang ada di kota Kupang sebagai ibu kota provinsi. Pemakaiannya yang berulang-ulang dan telah cukup lama membuatnya menjadi semacam suatu tradisi yang mapan. Ya, tentu saja ini hanya sebuah pendapat, dan ya ini bukan satu-satunya tema yang ada di suasana berkarya di kota ini. Paling tidak ini yang terasa di dalam lingkar aktifitas seni visual yang terjadi dalam medan berkarya para komunitas seni di kota Kupang. Tema yang su kena sebut di atas bisa diperkirakan lahir dari maraknya program-program kepariwisataan bagi daerah kita, atau juga ingatan kolektif masyarakat yang sudah sejauh ini dibentuk oleh gambaran gambaran tentang “kita” pada media-media komunikasi modern yang ada. Coba pi liat tayangan di kotong pung stasiun televisi nasional atau regional pas dong baomong tentang seni-budaya di sini, coba liat karmana bandara,sebagai pintu masuk kota ini, didekorasi, coba pi liat bagaimana gubuk-gubuk pameran dari tiap kantor pemerintahan menghias diri saat acara pameran pembangunan tahunan. Lihat bagaimana cara kotong menampilkan diri sebagai orang Kupang, sonde pernah jauh-jauh amat dari simbol-simbol kebudayaan etnis. Entah yang diusahakan untuk tampil secara murni, sengaja ingin kreatif dengan coba-coba bereksplorasi campur sana-sini, atau “asal ada saja” yang penting ikut aturan resmi atau perintah dari pemberi arahan.

Untuk Siapa Kotong Berdandan? Dan Kenapa Dia Pung Cara Begitu?

Tentu saja para seniman visual di kota Kupang su garap ini tema dengan banyak sudut pandang, su lahir banyak interpretasi, mulai dari glorifikasi simbol-simbol etnisitas itu, hingga pembongkaran aturanaturan umum dengan memainkannya dengan hal-hal yang modern dari luar. Dari segi teknik juga telah ada eksplorasi-eksplorasi. Para penganut realisme, dan penyuka tema keindahan bentuk alam sudah menghasilkan karya-karya yang memanjakan mata. Semacam: “Kupang pung Manis”, barangkali sebuah usaha menghadirkan kemolekan universal yang dibungkus cita rasa lokal. Para pemakai media digital, generasi yang punya referensi bentuk yang cukup beragam, yang karena dukungan teknologi bisa “main lebih jauh”, memainkan tema ini dengan cara mereka tersendiri. Dan kadang mungkin mereka menemukan bahwa sejauh apapun pergi bermain, ada saat-saat di mana harus pulang juga. Kanapa begitu?

Kemungkinan Lain (Bagaimana Menuju ke Sana?)

Dalam beberapa tahun terakhir di kota Kupang telah lahir beberapa komunitas seni visual dengan dia pung karakter masing-masing. Grup-grup Whassap terbentuk dan sebagian besar menjadi sarana utama untuk media komunikasi anggota komunitas, bahkan dimasukannya seseorang dalam grup menjadi salah satu penanda bahwa ia telah diterima dalam komunitas. Tak hanya di bidang seni gambar, hubungan juga terjalin dengan komunitas seni yang lain seperti sastra, film, dan komunitas literasi.

Beberapa acara seni-budaya sudah pernah dibuat yang ada bakumpul rame, keterlibatan dan kerja sama sejumlah komunitas lintas bidang seni. Tradisi kerja sama dan bikin apa-apa sama-sama sudah ada. Ini bisa jadi peluang untuk melihat diri sendiri. Seperti kata filsuf, makna hadir karena perbedaan. Diri bisa makin dikenali dengan adanya orang lain. Sekarang, kotong tinggal baator? Memakai ini kebersamaan untuk baliat satu deng satu pung karya, mulai untuk bacarita dan baomong tentang karya dengan cara-cara yang mangkali sedikit bikin berpikir tapi hasilnya sonde mengecewakan, atau mangkali akan mengecewakan tapi semata-mata sebagai efek untuk membangun kesadaran tentang kenyataan yang lebih tarang.

Kenyataan. Kenyataan jadi penghubung penting tentang alasan seniman membuat gambar dan cara-cara, tema-tema yang dipakainya dalam bikin gambar. Apa kotong siap berkompromi untuk menemukan ini kenyataan? Apa kotong bisa tetap sonde kehilangan kekupangan meski sonde bagambar pake simbol-simbol etnis? Seberapa penting untuk menjadi dan hadir sebagai seniman Kupang dalam berkarya? Kenyataan apa yang kira-kira akan muncul? Kalau kotong samua sama-sama mau berkompromi untuk masuk lebih dalam, terutama ke diri sendiri, mangkali itu bisa bikin kota Kupang jadi lebih subur dan kasi babuah banyak karya-karya yang baik, jujur,dan tentu saja yang akrab dengan kotanya sendiri.

Kelapa Lima, 28 Maret 2023

Comments

Popular posts from this blog

Di Bawah Sorotan Lampu

Arsip

Di Ujung Tahun