Mereka Yang Terlambat

 

Ini minggu kedua aku berkerja di tempat ini ,perpustakaan kecil milik Fakultas. Jadwal kerjanya akur dengan jam kuliahku. Berada di masa-masa akhir kuliah dengan dompet yang selalu tipis, dan waktu luang yang banyak membuatku berujung  pada mencari penghasilan tambahan. Di antara beberapa pekerjaan lain yang pernah kuambil seperti memberi les privat, menerima bayaran untuk membuat tugas-tugas kuliah berupa makalah atau karangan,dan menempel poster konser atau acara seni, yang satu ini yang paling menarik, dan juga kerja dengan suasana yang paling tenang.

Hanya ada beberapa pengunjung ( Aku mendapat shift siang) yang hampir setengahnya akan tertidur setelah setengah jam mereka membaca buku. Tempat ini nyaman. Fakultas kami sepertinya sayang betul dengan ruang baca ini, pendingin ruangan selalu dirawat, koleksi-koleksi bukunya selalu bertambah, dan ada koleksi film-film bermutu bagus yang dijaga dengan baik dan masih dalam format DVD, bahkan VHS. Hal yang pernah menjadi primadona di tahun 80an itu. Dulu aku harus berdesak-desakan di rumah tetangga bila mau menikmati hiburan ini, menonton Chuck Norris menghabisi musuh-musuhnya, tetap penasaran meski film itu sudah belasan kali ditonton. Mungkin bukan filmnya, mungkin peristiwa menontonnya.

Usai merapikan buku, membuang sampah-sampah, menyusun kembali film-film, merapikan meja dan kursi yang entah mengikuti selera siapa dicat  dengan warna-warna yang terang dan menyolok, membawa barang-barang yang ketinggalan dan menaruh di rak khusus (biasanya  jurnal,binder,buku, tempat pensil, flashdisk, kunci kos ,kunci motor bahkan kadang jaket atau cardigan), aku bisa kembali larut dalam buku-buku lama koleksi tempat itu. Karya-karya tua  yang kisahnya sangat berhasil membawaku,meski sebentar, pergi dari semua ini. Biasanya di saat-saat seperti inilah, seperti sekarang ini, mereka datang, apa yang membuatku menyebut pekerjaan ini menarik,  mahasiswa-mahasiswa (kadang ada yang mahasiswi)yang datang ke sini karena terlambat masuk kelas lalu malas untuk pulang, atau alasan kemalasan lainnya.

Mereka tak pusing padaku, dan sepertinya pada siapapun di dalam ruangan. Berulang-ulang aku harus peringatkan mereka untuk menaruh tas di loker terlebih dahulu sebelum mereka bisa petantang-petenteng di dalam ruangan, tidur semaunya di atas karpet bagian tengah yang lowong sambil tertawa keras-keras. Mereka selalu bertiga, dua orang jangkung dan satu yang pendek kurus, sama kurusnya dengan dua kawan lainnya. Gaya mereka sama, rambut tak disisir yang panjangnya hampir sampai di bahu, selalu memakai kemeja ( kemeja militer, yang biasa dijual murah di salah satu toko pakaian bekas impor dekat kampus) yang tak pernah dikancing penuh dan pasti langsung dibuka bila sudah tak kuliah. Aturan resmi pakaian kuliah: bersepatu,celana tak boleh butut, dan baju berkerah.

Menarik mendengar mereka ngobrol. Seperti trio komedian. Yang pendek selalu yang paling tenang, dan lebih sering nyengir dari pada tertawa. Dia juga yang sepertinya paling ganteng di antara mereka. Dua yang jangkung, satu berkulit coklat, satu putih. Kadang yang putih membawa pacarnya ke tempat ini, dan mereka suka sembunyi-sembunyi berciuman.

 

“Mas, bantuin dong…” Si pendek datang ke tempat dudukku. Aku sedang pura-pura sibuk dengan komputer.

“ya, gimana?”

“Bisa tolong donlod lagu-lagu ini? Pake komputernya masnya ya, komputer-komputer lain di sini lagi dipakai semua” Ia menyodorkan kertas dengan daftar dan sebuah flashdisk dan tentu saja cengirannya.

“Oke,gampanglah…eh kalian tidak kuliah?” tanyaku.

“Tadi mau kuliah, tapi telat, gara-gara ini motornya dikira hilang” Ia menunjuk si putih.

“Dikira hilang?”

“Iya, aku kan dijemput sama mereka berdua, nah waktu di kosku dia mungkin maksudnya mau ngerjain aku, pas keluar dia teriak-teriak, motorku hilang! Motorku hilang! Ramelah sudah, dekat kosku kan ada pangkalan becak, datang semua itu bapak-bapaknya, ibu kosku sama anak-anaknya juga keluar semua. Kita semua langsung cari-cari motornya di mana.”

“lha, memangnya jadi hilang betulan?”

“Iya motornya nggak ada di luar”

“Beneran kemalingan?”

“Nggak ada yang kemalingan”

“Lha?”

“Mereka berdua datang ke kosku jalan kaki. Motornya ada di parkiran kampus.”Kali ini dia tertawa.

Dua temannya duduk di karpet bagian tengah ruangan. Tempat favorit mereka. Yang putih bersandar pada meja kecil, membuka-buka ponselnya, jarang sekali dia datang untuk membaca. Yang coklat sedang menelpon. Pacarnya yang ditelepon barangkali.

“Halahh,…kamu, kayak gini aja bilang nggak kangen, nanti kalau habis ketemuan pas aku pamit pulang mulai deh nangis-nangis (Ketawa keras-keras sampai matanya menyipit),…halahh…ihhh kamu, Iya aku lagi kuliah, ini lagi di perpus sama ( Ia menyebut nama dua temannya), ya udah nanti aku ke kos ya,…baju-bajuku udah dicuci kan? Biar sekalian kuambil..ihhh (mulai mengeluarkan godaan-godaan yang mesum dan agak jorok)” Ia tertawa lagi sebelum menutup telepon, mulutnya terkuak lebar, gigi-giginya kuning, beberapa bahkan sudah menghitam dan ompong. Seperti apa ya pacarnya?

“Mas, tutup jam berapa nanti ya?” Si pendek bertanya padaku.

“Sore” jawabku

“Iya, jamnya?”

“Setengah tujuh”

“Yee itu mah malam.Nggak,...gini soalnya nanti aku mau ada konseling, jadi mungkin nanti di sini saja, rencananya jam limaan gitulah.Aman deh, masih buka”

Ia bercerita bahwa seorang biarawan yang kuliah di jurusan calon-calon psikolog atau sejenisnya memintanya untuk menjadi orang yang bersedia diberi pendampingan. Katanya untuk latihannya si biarawan. Ia sendiri senang, karena akhirnya ada orang yang mau mendengarnya bercerita tentang mimpi-mimpinya. Ia punya jurnal tersendiri untuk mimpi.

“Mas mau lihat?” Tanpa menunggu jawabanku ia mengeluarkan sebuah buku notes polos yang cukup tebal dan kumal, dengan sampul kuning yang bergambar monyet merah sedang jongkok. Ia membuka-buka dan menunjukkan isinya.

“Nah ini mimpi-mimpiku waktu semester satu, ( tulisan-tulisan satu atau dua pragraf yang panjangnya bervariasi dan gambar sketsa manusia-manusia setengah kuda, setengah gajah dan setengah jerapah), aku dulu sering banget mimpi soal masa SMAku,…kayak yang ini (gambar seorang anak lelaki berseragam SMA sedang di depan jalan bercabang), mimpi itu soal aku lagi lari dari tsunami tapi berhenti karena di depanku ada jalan bercabang, jadi bingung mau pilih yang mana.”

 Masih banyak lagi isi di buku itu, gambar-gambar maupun tulisan. Ada gambar perempuan dengan pipi yang berbekas luka, dan sketsa-sketsa motor-motor lama,anatomi serangga (serangga utuh,bukan setengah manusia) serta puisi-puisi tentang kesepian,dan rasa terasing. Pantas saja, di antara mereka bertiga dialah yang tak pernah ada tanda-tanda punya pacar.

Orang berjubah hitam itu datang ketika si coklat sibuk berdebat dengan si putih tentang besok mereka sebaiknya bolos atau tidak.

“ Ah mas bruder, datang juga” si pendek menyambut tamunya. “ Mari kita di meja yang sana saja”

Aku menegur si coklat dan si putih untuk tak terlalu berisik. Mereka akan patuh selama lima menit lalu akan mulai berulah lagi. Beberapa hari lalu si putih hampir kutampar karena nekat mau merokok di dalam ruangan.

“Ya aku kan ke sini buat kuliah?.. Bruder..”

Si pendek sepertinya sudah mulai konseling dengan biarawan. Mereka berdebat.

“Nggak…aku bukannya tidak punya tujuan yang pasti bruder, lha kuliah sastra memangnya ada pekerjaan yang pasti nanti? Memangnya nanti ada perusahaan sastra yang menerima lulusan-lulusan dari jurusan sastra? ”

Aku berusaha mendengar kata-kata bruder, tapi gagal, orang itu bicara pelan sekali, yang kutangkap hanya bisik-bisik seperti orang sedang mengaku dosa.

“Iya, aku tahu,…harusnya dua semester yang lalu aku sudah kelar kuliah, tapi skripsiku kan tentang teater,susah itu bikinnya!”

“Bukan..bruder jangan berpikir seperti itu, aku bukannya mau bergaya seperti anak seni pertunjukkan”

“Ini sastra bruder..sastra!! bruder tahu apa itu sastra!” Suaranya meninggi. Perdebatan sepertinya memanas.

“Orang-orang akan buru-buru mau tamat dari sini hanya untuk ijazah, aku bukan yang seperti itu, yah paling tidak menurutku”

“Menulis? Puisi-puisiku bahkan ditolak di buletin-buletin komunitas kampus yang bahkan tak punya pembaca sama sekali, dan diterbitkan sekedar untuk keamanan laporan penggunaan dana sumbangan.Kata mereka terlalu kelam, terlalu gelap, hanya tumpahan kesedihan.”

“Kita ini kan mau konseling, kok malah bertanya-tanya hal yang menggelisahkan begitu?”

“Ohh… ini buat penyembuhan luka batin? Ahh, Aku sudah galau dari lahir”

“Ahh…terserah apalah itu, aku masih mau jawaban dari bruder, bruder tahu apa itu sastra?”

“..yah sama, aku juga tak tahu-tahu amat..”

Bruder itu mengatakan sesuatu, entah apa. Agak lama ia bicara. Mereka berdua lalu  tertawa. Pedebatan seperti sirna. Pembicaraan menjadi lebih lepas dan santai.Entah kenapa suasana di tempat itu seperti ikut terbawa. Mendadak ada ketenangan aneh. Hening dan membuat betah. Hebat juga konselingnya biarawan itu. Si putih dan si coklat masih tak bisa diam satu sama lain hanya kali ini mereka saling sikut-sikutan seperti anak kucing, bisu dalam tingkah-tingkah tiada henti mereka.

Aku kembali ke buku-buku lama, dan tenggelam di dalam cerita-ceritanya. Sebentar lagi baru akan kuurus permintaan unduhan si pendek tadi. Kini, tak ada lain yang kulakukan, selain menunggu hingga tiba waktunya untuk merapikan buku, membuang sampah-sampah, menyusun kembali film-film, merapikan meja dan kursi yang selalu membuatku berpikir atas selera siapa mereka   dicat  dengan warna-warna yang terang dan menyolok, membawa barang-barang yang ketinggalan dan menaruhnya di rak khusus, lalu kembali lagi membaca buku hingga jam jagaku usai.

SEKIAN

Kelapa Lima, 9 Maret 2022

Comments

Popular posts from this blog

Di Bawah Sorotan Lampu

Arsip

Di Ujung Tahun