MANUEL TAHU BESOK KIAMAT
Siang tengah segar-segarnya menjenguk penduduk kota seperti penjual es krim yang lewat di depan sekolah saat murid-murid sedang keluar main. Manuel da Gomez sedang mendengar radio sambil menunggu satu-satunya celana Jins miliknya kering di jemuran. Di saat itulah sosok itu datang kepadanya. Sosok dengan pakaian seperti pakaian kerja yang berkantong di sana-sini, bersepatu yang membuatnya terlihat mantap dan pasti saat bergerak dan memiliki wajah yang tegas sepasti kolom-kolom kategori dalam formulir-formulir administrasi pemerintahan.
“ Senor da Gomez, Selamat siang,
salam sejahtera…“ Ia mengucapkan beberapa lagi salam pembuka yang sangat
banyak, ada juga dalam bahasa yang
Manuel tak pahami satu katapun, butuh lebih dari 10 menit untuk salam pembuka
itu.
“ Saya langsung saja, saya juru
kabar” Ia menunjukkan semecam surat perintah, dan jarinya menunjuk ke salah
satu logo di bajunya. Ada banyak logo dan simbol-simbol di pakaiannya.
“ Bukannya yang biasa jadi juru
kabar itu malaikat?” Tanya Manuel.
“Mereka semua sedang sibuk, belakangan
memang ada pekerjaan-pekerjaan yang
besar”, Jawab sosok itu seperti sedang membaca dari teks.
“Dengan ini diumumkan bahwa besok kiamat”. Usai ngomong seperti ini, ia mengucapkan salam penutup yang kali ini sedikit lebih banyak makan waktu dibanding salam pembuka, lalu pergi dengan memanjat jendela merayap sampai atap dan hilang di bagian atas rumah yang tertutup bayangan.
Manuel bingung dan tidak tahu
harus melakukan apa dengan informasi itu. Ia membuka grup WA, dan menuliskan
tentang kabar aneh itu . Tidak ada satupun orang yang merespon. Ia hendak menemui
rohaniawan tetapi diurungkan karena sudah sekian lama ia tidak pernah sembahyang,
kecuali bila disuruh oleh orangtuanya. Ketakutan akan orang tuanya yang akan
sakit bila terus marah-marah menjadi alasan ia pergi untuk beribadah. Apakah
hal seperti itu layak di mata Tuhan? Ini ingin ia tanyakan ke orang suci
penjaga pintu surga kelak. Tapi besok kan kiamat. Dan siapa yang bisa
memastikan kalau ia akan bahkan sampai di depan pintu surga?
Ia kembali ke WA. Mengecek grup,
melihat siapa saja yang sudah melihat statusnya, mengirim pesan ke beberapa
kawan dan kembali melamun. Seperti biasa tak ada yang membalas pesan-pesannya,
dan Manuel sudah belajar dari pengalaman, ia tahu bahwa orang-orang hanya akan
cepat berkabar dengannya bila ada yang mereka mau.
Ada panggilan video masuk. Jose
de Madeira, teman karibnya.
“ Oi Bandido, kau baik-baik ka
tidak?”
Di layar tampak wajah Jose yang
tirus dan rambut gimbalnya
berjuntai-juntai.
Manuel menceritakan soal sosok dan kabar aneh yang baru diterimanya.
“ Ahh, kalau begitu kita harus
siap-siap”
“ Berdoa dan menunggu?”
“ Sudah, begini saja, habis ini
saya ke rumahmu,sapa tahu sosok itu datang lagi, tunggu ya… ini saya ada satu
botol juga, nanti saya bawa “
Dan dari ratusan nomor kontak yang ada, hanya seorang itu yang merespon kabarnya dan bahkan akan datang berkunjung.
Sambil menunggu kedatangan Jose, Manuel mengurus beberapa hal remeh yang kini sepertinya maknanya naik beberapa level, karena kan besok kiamat?
Ia mencuci piring, berak, menyapu, mengurus sampah yang sudah seminggu tak diangkut karena menurut supir truk pengangkut sampah mereka tak punya anggaran untuk bensin, menunggu air ledeng yang jalannya tak pernah lancar karena konon pengaturan sistem perairan di kota memang cukup rumit (meskipun tagihannya selalu lancar), mendengar omelan tetangga sebelah pada anaknya karena belum lancar membaca meski sudah duduk di kelas dua SMP, melihat pemuda-pemuda di lingkungannya yang duduk menganggur dari pagi hingga pagi lagi padahal di antara mereka ada yang bergelar sarjana ( sama seperti dirinya), melihat berita-berita yang isinya melulu tentang ketidakadilan yang satu ke ketidakadilan yang lain, dan semuanya itu seperti jadi bermakna lain, bermakna baru. Kabar kiamat rupanya telah membawa perubahan.
Rasa-rasanya ia mau keluar
dari rumah, menjenguk semua orang dan mengajak mereka semua pergi lapangan voli
tempat mereka biasa berlomba antar RT lalu menari, menyanyi, dan bersama-sama
menyambut esok yang kiamat.
Berulang-ulang kesadaran itu
muncul di pikirannya. Ia mondar-mandir
di dalam rumah, saat berada di depan cermin ia tertegun cukup lama. Seolah ia
mendengar ada suara orang, semacam narator yang berkata,
“ Manuel da Gomez kini tahu kalau
besok adalah kiamat, dan itu membuat perasaannya
campur aduk. Beberapa kali ia bercermin. Melihat wajah kurus dan sosoknya yang
kini dirasa begitu celaka. Melihat kumis dan janggut keritingnya. Kumis dengan nuansa
Orde Baru, kumis yang membawa suasana “ Hei kamu! Melawan ya!? Ayo ikut ke
kantor! “”.
Dan masih banyak lagi yang
dikatakan suara-suara itu.
Manuel masih saja terus melamun
dan Jose masih belum datang.
TAMAT
Kelapa Lima,15 September 2024
Comments
Post a Comment