Tulisan-Tulisan Tak Terbaca
Bagian Satu : Andai dari Tanah Tak Tumbuh Tanaman
Pohon itu besar sekali. Dan sampai
kapanpun ingatan Santiago tentang pohon itu adalah soal kebesarannya. Di hari
naas itu, di bawah teduh pohon itu dia mendapatkan berita tentang kematian
keluarganya di rumah sakit. Sebuah penyakit datang ke kota seperti hujan
beracun yang turun tengah malam dan menghabiskan hampir lebih dari separuh
penduduk ketika sore keesokannya tiba. Penyakit yang kemudian dengan senyap
berjaga-jaga di sudut kota dan senantiasa siap menelan korban. Konon mereka
yang mau selamat melarikan diri ke hutan-hutan.
Di bawah pohon itulah Santiago
merasa kesedihan dan kebencian sekaligus. Kesakitan dengan rasa dirampas yang
dalam. Gabungan perasaan itu yang membuatnya mulai mengutuk segalanya. Mulai
dari penyakit jahanam itu, dirinya dan semua ketidakmampuannya, lalu hampir
apapun termasuk pohon yang di bawah teduhnya ia tengah bernaung. Kata-katanya
basah oleh air matanya sendiri,
bercampur ingus dan air liurnya. Masih dapat terdengar di tengah sesengukan
tangis dalamnya, bagaimana ia mengutuki tanah itu dan berdoa setengah gila
bahwa bila saja tanah itu tak menumbuhkan apapun, dunia ini tak menghadirkan
apapun, termasuk dirinya, maka kesakitan seperti ini tak akan pernah ia
rasakan.
Bagian Kedua : Makan Untuk Hidup
Di sebuah kantor. Hari ini adalah
hari wawancara kerja. Santiago datang dengan perasaan aneh. Beberapa
surat-surat sudah dia bawa. Baik yang bahasanya dia pahami maupun yang sama
sekali tak dikenalinya satu abjad pun. Sama seperti semua orang di kota ini surat-surat
itu dibelinya.
Dia duduk di depan seorang
pewawancara yang lebih banyak melihat telepon genggamnya dari pada mendengarkan
jawaban dari Santiago usai memberikannya pertanyaan. Ia bertanya dan kadang berkomentar sendiri
tanpa peduli dengan jawaban Santiago. Orang-orang lain, para pelamar yang sama
seperti Santiago, berdiri di lorong membawa map. Para pekerja di kantor itu
hilir mudik. Sibuk atau sengaja membuat diri terlihat sibuk. Ada yang sudah
tua, dengan kepala botak dan lidah yang menjulur-julur hampir sampai lantai.
Air liurnya menjejak ke mana-mana. Yang model begitu paling suka dekat dengan
perempuan. Baik yang di kantornya sendiri maupun para pekerja yang sedang
datang melamar. Mereka nyelonong harbabiruk mencari perempuan muda yang
rata-rata berdandan secantik mungkin untuk wawancara di hari itu.
“ Yak, jam makan siang!” seru
pewawancara kerja. Ia berdiri dan pergi begitu saja tanpa bicara apapun pada
Santiago. Para pelamar merasa nasib mereka makin semrawut di siang yang panas
itu, di dalam kantor yang lebih mirip rumah tinggal dengan kamar-kamar yang
dipermak seadanya. Botol-botol plastik bekas air minum tergeletak di beberapa
pojok ruangan. Di sebuah tempat sampah tampak lalat berkerubung dan aroma makanan
basi pelan dan menjengkelkan menjenguk hidung semua orang. Membuat gatal di tenggorokan.
Beberapa pegawai mencegat tukang bakso yang lewat. lalu makan sambil
tertawa-tawa di teras kantor. Kumpulan pelamar yang antriannya mengular dari
ruang tamu hingga halaman depan menelan ludah mereka sendiri. Rata-rata mereka
datang tanpa sarapan pagi.
Suasana begitu tak menyenangkan,
sehingga orang bisa membuat makian dengan kata-kata yang paling kudus
sekalipun.
“Oke, mari mulai lagi”
Para pekerja itu sudah kembali
dari makan siang. Beberapa bersendawa keras-keras, yang lain mendesis-desiskan
mulut lalu meludah banyak-banyak. Seorang pekerja tua yang botak mulai mendekati
salah seorang perempuan dalam barisan dan mulai bicara soal indahnya puisi , tentang
pentingnya menjadi warga negara yang taat bayar pajak dan bagaimana dia selalu
mengikuti ibadah secara teratur, dan punya perencanaan hari depan sebagai orang
yang kaya punya banyak rumah, mobil, dan bisa berlibur ke Eropa.
“ Ingat, Eropa ya nona! Harus Eropa,
jangan ke Afrika. Anak saya Lima. Perempuan semua. Tiap hari saya suruh bangun
pagi. Mereka harus rajin berdoa, senam pagi, dan nanti mereka akan jadi orang
kaya. Hidup sekarang ya harus kaya. Curang-curang sedikit tak apalah, asal
kaya. Iyakan, hahahahaha…oh ya nona sudah punya pacar?”
Si botak tertawa makin keras dan
lidahnya yang panjang terjulur sampai lantai itu terayun ke sana-sini, ludahnya
menghujani seisi ruangan. Orang-orang bergerak-gerak menghindari cairan tak
sedap itu dengan menutup hidung.
“ Yak, jam tidur siang” seru
seorang pekerja.
Semua pekerja menuju ke kamar-kamar
di rumah yang disulap jadi kantor itu. Dengan jumlah yang tak seragam
kamar-kamar itu mereka masuki. Lalu dikunci dari dalam. Antara beberapa bentar
terdengar suara orang mendengkur, suara musik dari game atau situs porno, dan
situs judi on-line, dan suara orang tertawa terkikik-kikik, juga ada suara lagu
rohani dan pemimpin agama sedang memberikan ceramah,
Para pelamar saling menatap, dan
pasrah atas nasib mereka yang kelabu. Beberapa sadar, mimpi-mimpi buruk lebih
mudah untuk jadi kenyataan.
Bagian Ketiga : Roda-Roda Yang Berputar
Sudah dua puluh lima tahun
berlalu, sejak Santiago diterima bekerja di kantor itu. Ia dan sekitar lima pelamar
lainnya. Tugasnya adalah menjadi pesuruh. Ada pekerja perempuan yang menjadi sekretaris
dan beberapa lain menjadi petugas lapangan. Rutinitas pekerjaannya selalu sama.
Masuk pagi, jam makan siang, jam tidur siang, lalu jam pulang di sore hari.
Kini ia menjadi bagian dari
keseharian di kantor itu. Hal-hal terjadi. Hal-hal berganti. Ada pekerja yang pensiun,
ada pekerja yang keluar, ada yang dipecat karena ketahuan mencuri atau menipu, ada
yang pekerja baru yang masuk. Berulang seperti itu.Ada hal-hal yang tidak
pernah berubah. Seperti misalnya,jam tidur siang di kantor itu. Saat jam tidur
siang suasana seperti berganti rupa, setelah pintu-pintu terkunci beberapa
saat maka mimpi-mimpi para pekerja akan keluar dari lubang kunci di tiap pintu.
Bentuk mimpi-mimpi itu seperti asap dengan warna yang berbeda-beda. Asap-asap
itu lalu bergerak dan seolah saling menyapa satu sama lain. Mereka mulai
mengobrol, berdebat, dan akhirnya baku hantam, di saat jam tidur siang akan
usai para mimpi itu sudah saling mengencingi dan memberaki satu sama lain. Tak semuanya
saling benci, ada juga yang ke pojok ruangan dan bermesraan sejadi-jadinya.
Kantor ini pernah tutup dan
bangkrut sekitar tujuh belas kali. Lalu selalu saja bisa bangkit dan berjalan
kembali. Di saat-saat ketika kantor itu tutup adalah saat-saat yang mengenaskan
bagi Santiago, ia hidup seperti belatung. Ia bertahan dengan banyak hal-hal
ajaib yang menurutnya entah diatur oleh siapa, hingga kantor buka dan memanggil
para pekerjanya kembali. Keadaan-keadaan seperti itu membuatnya terbiasa untuk
susah dan punya cara sendiri dalam melihat harapan.
Bagian keempat : Jam Pulang
Di jalan itu, sore dengan geram
memberangusnya, dan Santiago merasa tubuhnya yang tua makin renta dan merana.
Suara di dalam dirinya bergema pelan, “Aku sudah melihat semuanya. Kesakitan,
pupusnya harapan, pemfitnahan,ketidakadilan, kecurangan, korban-korban yang
muram yang tahu bahwa hari depan mereka sekelam mimpi pada demam mereka yang
belum lagi sembuh, Aku sudah melihat semuanya…”. Dan dengan gontai disusurinya
jalan itu. Ia merasa dirinya membusuk.
Tanpa disadarinya ia selalu menolak
berjalan di bawah teduh bayangan pepohonan yang ada di sepanjang jalan.
TAMAT
Kelapa Lima, 8 September 2024
Comments
Post a Comment