Belalang dari Gudang Laut
Catatan kuratorial untuk pameran "Ti Te Pi Reme Ki" (Masih Ada Hari Esok) Refleksi Lezart Pada Tradisi Budaya Leva Nuang. 21-22 September 2023. Taman Budaya Gerson Poyk-Kota Kupang.N.T.T.
Lezart dan Pausnya
Dalam
pengembaraannya di dunia seni visual jalanan ,Dios atau Lezart memakai tanda berupa gambar ikan paus sebagai ciri
diri dan membawa gambar mamalia laut itu berenang di tengah gelombang dan
pasang surut kehidupan perkotaan. Berawal dari melihat bentuk paus sebagai patung penghias di gapura gerbang
masuk ke desa leluhurnya di Lamalera, ketertarikan, dan hubungan Lezart dengan
tanda ini menjadi semakin erat oleh keinginannya untuk mengarungi lebih dalam
dunia penangkapan ikan paus di Lamalera. Sebuah pengarungan yang dilakukan dengan
caranya sendiri sebagai seorang seniman visual. Sebagai seorang penangkap, pada
pameran ini, Dios membawa kita para penyimak karyanya, untuk bersama-sama
melihat peta-peta pelayarannya dan hasil-hasil tangkapannya.
Sebagai penyimak
kita dapat bertanya, apakah Dios hanya sekedar memindahkan sebuah kisah tentang
usaha sekelompok orang atas hal-hal kehidupan mendasar ini ke dalam
kanvas-kanvasnya? Seperti sebuah kerja mekanik dari mesin peniru dan pereka
bentuk? Paus seperti apa yang dapat kita temukan di dalam karya-karyanya?
Lamalera yang bagaimana yang terbentuk dalam
lukisan-lukisannya? Sebuah jejak dari masa lalu yang terkesan rumit
dalam hubungan antara romantismenya dan potensi-potensi ekonomi pariwisatanya
bila dilihat dari konteks masa kini? Sama seperti tanda paus itu selalu membawa
Lezart untuk mengarungi samudra pemaknaannya, kita sebagai penyimak akan
terbawa dalam nuansa yang sama, dan pemaknaan kita tentu akan lahir dalam
bentuknya yang tersendiri. Selamat datang, selamat menangkap!
Lamalera
Tuhan dalam
kepercayaan asli Lembata dikenal dengan nama
Ina Ama Lera Wulan
Tanaekan yang berarti Tuhan Pencipta ( Beding,B.M. dan S. Indah Lestri
Beding : 2006). Pulau Lembata merupakan tempat dengan kehidupan maritim dan
bercocok tanam yang telah berakar kuat. Tanahnya subur dan perairannya kaya.
Desa Lamalera yang secara administratif dibagi menjadi Lamalera A dan Lamalera
B,merupakan bagian dari kecamatan Wulandoni, kabupaten Lembata. Nama Lamalera
telah dikenal dunia karena tradisi penangkapan ikannya, terutama ikan paus.
Sebagai orang
laut, kisah asal-muasal orang Lamalera berkaitan dengan pelayaran dan pengarungan
di lautan. Orang Lamalera percaya bahwa mereka berasal dari Luwu (Sulawesi
Selatan). Dalam perjalanan waktu dan perpindahan-perpindahan yang terjadi,
mereka pernah mendiami sebuah sebuah tempat bernama Lepambatan. Tradisi
menuturkan karena sebuah bencana besar Blebu
Lebu Eke, Ata Plae Pana (Air Bah, orang-orang berlarian) mereka
meninggalkan Lepambatan, dan secara
bergelombang dengan perahu mereka mencapai tempat seperti Lembata,Solor,
Adonara, hingga Flores Timur.
Metode penangkapan
paus oleh berbagai suku bangsa di dunia yang dilakukan secara tradisional untuk
memenuhi kebutuhan sendiri dikenal dengan nama aboriginal subsistence whaling. Orang-orang di Greendland (
Denmark), Siberia (Rusia), Bequia (Negara Kep. Saint Vincent and The
Grenadines), Alaska (A.S. dan Kanada) dan Kepulauan Faroe memiliki tradisi
penangkapan paus yang diatur dalam perundang-undangan negaranya. Di lain pihak,
Jepang juga dikenal sebagai negara yang melakukan penangkapan paus namun dari segi
metode dan tujuannya tidak termasuk dalam kategori di atas.
Seperti yang
dituturkan dalam buku Pesona Lembata
Tanah Baja ( Nusa Indah, 2006) yang ditulis oleh B. Michael Beding dan S.
Indah Lestari Beding (keduanya adalah orang tua Dios), kenelayanan bagi
orang-orang Lamalera disebut Leva Nuang.
Musim penangkapan. Leva Nuang terjadi
pada masa antara bulan Mei sampai Oktober yang ditandai dengan berbagai ritus.
Di masa inilah, para pelaut Lamalera memakai perahu tena yang disebut juga peledang
untuk menangkap paus yang lewat di perairan mereka. Tugas penting penangkapan
ini berada di pundak penombak yang disebut lama
fa yang biasanya mengambil posisi di haluan tena. Paus sperma (Physeter
macrocephalus) merupakan jenis yang paling sering ditangkap, dan biasa
disebut dengan nama lokal kotekelema.
Lamunan seorang Lama Fa
Dalam salah satu
lukisannya, Dios menggambarkan dirinya sendiri sebagai seorang lama fa yang sedang berada di atas tena dan tengah mendekati seekor kotekelema. Alih-alih berada dalam
posisi siap untuk melemparkan tombak, lama
fa Dios ini malah tertegun, terduduk dan terpesona dengan makhluk laut raksasa itu. Ketertegunan
ini yang dapat dikatakan menjadi jiwa dalam pengembaraanya membawa “paus-paus”
tangkapannya. Hal yang dimulai dari kisah-kisah penangkapannya di laut hingga
kisah bagaimana tangkapan ini begitu punya arti kehidupan bagi orang Lamalera
di darat.
Tema-tema
lingkungan dan pengaruh modernitas menjadi hal yang juga diangkat dalam
karya-karya Dios di pameran “Tite Pi Reme Ki” ini.
Sampah plastik yang keberadaannya sudah cukup mengancam di lautan
menjadi masalah dan bahaya bagi makhluk laut seperti paus. Dalam beberapa
lukisannya kita dapat melihat bagaimana darah dan daging segar paus tangkapan
yang disembelih seperti menyimbolkan kemakmuran dan keberhasilan. Suatu bentuk
kehidupan yang menyokong bentuk kehidupan yang lain. Paus dan penangkapnya
digambarkan pernah bersatu, dan mereka akan bersatu kembali. Energi hangat yang
mengalir dan akan membuahi harapan-harapan dari para pendayung tena. Dan distorsi hadir ketika ada
plastik yang ditemukan dalam lapisan-lapisan daging itu.
Berbicara tentang
modernitas, bisa dengan sangat gamblang bila memakai atau menyebut media. Lamalera yang popularitasnya sudah
berada di tingkat global tak pelak lagi memiliki hubungan kuat dengan media
yang tentu saja berkaitan pula dengan motif-motif kepentingan yang ada di
belakangnya. Dios mengangkat ini pula dalam lukisannya yang menggambarkan
proses peliputan berita penangkapan kotekelema.
Sebuah pengingkaran dapat diartikan melalui garis sensor merah yang semakin
mendekatkan imajinasi kita kepada darah dan kontradiksi yang bersifat keras.
Media dan kepentingannya yang tentu saja bagi keuntungan-keuntungan pasarnya
sendiri membawa pengaruh buruk bagi tradisi Leva
Nuang. Meskipun di sisi lain, media punya potensi pada aspek dokumentasi
dan sumber kajian untuk agenda-agenda pelestarian.
Di dalam
masyarakat Lamalera, bila Leva Nuang
adalah untuk kaum lelaki, maka bagi kaum perempuanya adalah penete atau peneta. Kegiatan ini berupa perdagangan hasil-hasil penangkapan
dengan cara dibarter ke daerah daerah pedalaman di Lembata (Ibid:2006). Kaum
perempuan membarter hasil tangkapan itu
dengan hasil panenan berupa padi, jagung, ubi, pisang, sayur-sayuran, dan
sejenisnya. Perjalanan penete ini
kadang bisa memakan waktu hingga hitungan hari. Imajinasi Dios tentang penete dapat dilihat dalam beberapa
karya lukisannya. Figur perempuan membawa daging paus hasil tangkapan. Suasana
barter. Semua itu menunjukkan bagian dari komposisi kehidupan orang Lamalera
pada bagian peran perempuan.
Proses berkarya
dan pengalaman yang telah Lezart lewati sebagai seorang seniman jalanan turut
menyumbangkan bentuk atas caranya memaknai tradisi Leva Nuang ini. Goresan-goresan bergaya tagging dapat dilihat pada beberapa karyanya. Tanda paus yang dipakainya
di ruang terbuka yang
cenderung merupakan bagian dari tatanan
masyarakat perkotaan yang modern dapat diartikan sebagai sebuah tanda
pernyataan dan pertanyaan tersendiri.
Gaya gambar tanda paus yang kadang dibuat cartoonic
itu cukup cepat kuat dalam menarik pandangan
para penyimaknya. Di kota Kupang yang merupakan Ibu kota provinsi dan dapat
dikatakan sebagai salah satu titik kumpul geliat gerakan seni visual di NTT,
tanda itu menjadi satu lagi tambahan dalam rangkaian panjang usaha para seniman
di NTT memaknai identitas kedaerahan mereka di tengah pusaran gerak masyarakat
yang modern dan punya cara (agenda dan kepentingan) sendiri dalam menyoal
identitas kedaerahan dan nilai-nilainya.
Dios dalam, suatu
sudut pandang, dapat dikatakan memiliki jarak dengan Lamalera, Ia tak lahir dan besar di sana. Jarak inilah yang
diisi dengan tanda paus itu. Sampai ke mana tanda paus ini akan membawa Lezart
dan perjalanannya?Kemungkinan-kemungkinan jawaban dari pertanyaan ini dapat
menjadi sebuah pengamatan yang menarik. Terkait dengan rasa keterikatan dengan
tanah leluhur, terdapat juga beberapa karya yang mengangkat kisah tentang nenek
moyang dan aspek spiritualitasnya. Aspek ini mewujud dalam lukisan yang
menggambarkan belalang dan orang-orang Lamalera yang tengah memusatkan diri
kepada roh leluhur. Dari tuturan Dios, diketahui bahwa berdasarkan tradisi
Lamalera, kehadiran belalang merupakan pertanda kehadiran roh nenek moyang.
Saat akan mulai
bekerja menyiapkan pameran ini bersama Dios dan tim, di dalam
perbincangan-perbincangan awal kami yang meliputi proses kreatifnya sebagai seniman jalanan, dan percobaan mengutak-atik tanda paus yang menjadi tanda favoritnya, terbawalah kami pada pembicaraan tentang
sebuah lukisan yang memiliki tulisan berupa inisial huruf G.L. . Dios menceritakan bahwa lukisannya itu dibuat berdasarkan
inspirasi dari sebuah lukisan lain hasil karya mendiang ayah dari Dios sendiri.
Termasuk inisial G.L. itupun diambil dari lukisan sumber inspirasi. G. L.
sejauh pengetahuan Dios merupakan singkatan dari Gudang Laut. Di dalam lukisan
tersebut ada gambar perahu (inisial G.L. tertera pada layarnya). Sebuah Pelayaran
yang turun temurun dan Dios menangkapnya sebagai sesuatu untuk diteruskan.
Dan pameran ini adalah
perwujudannya.
Comments
Post a Comment