Senyuman Tanpa Wajah

Catatan Kuratorial untuk pameran NAMLIA.Kontemporer : Kelahiran Baru. 27-30 September 2023. De Museum Cafe JKK. Kota Lama. Kupang.N.T.T.

Bayang-bayang adalah sebuah antara. Ia kehadiran yang bukan kehadiran. Ia kehadiran yang bukan kehadiran. Ia lahir karena pertemuan cahaya dan benda-benda. Ia tak terhambat, tapi lahir dari hambatan.” (Matahari,Avianti Armand,2011)

“Jadi karya kontemporer itu aneh-aneh, ada seniman yang pameran karyanya berbentuk tumpukan gardus. Dia sembunyi di dalam situ, dan pas orang ada nonton dia lompat keluar”  semua seniman yang hadir di rapat persiapan pameran NAMLIA : Kelahiran Baru, tertawa mendengar tuturan dari salah seorang seniman peserta pameran saat obrolaan masuk ke topik kontemporer. Dan dari saat itu, sepertinya secara halus, tak terasa, namun ada bayang-bayang tentang kontemporer selalu bersama-sama mereka. Ia seperti menunggu untuk mengejutkan mereka dari sudut- sudut dan di waktu-waktu yang tak terduga. Seberapa jauh para seniman ini akan kaget?

Kontemporer, sejauh yang para seniman NAMLIA diskusikan, adalah perpaduan ragam media dan ragam kemungkinan untuk mewujudkan sebuah karya. Lintas ilmu, lintas wacana, dan barangkali lintas rasa. Dan mereka sepakat untuk memakai pendekatan ini sebagai cara melihat sesuatu yang paling dekat yaitu diri  mereka sendiri untuk mencipta karya.

Ilustrasi pencarian ke dalam diri ini dapat dibayangkan dengan menyimak cerita Dewa Ruci. Alkisah, di cerita Dewa Ruci, dalam perjalanan mencari air kehidupan Bima bertemu dengan seorang dewa kerdil bernama Dewa Ruci yang wajahnya menyerupai Bima sendiri. Ukuran Dewa Ruci tidak lebih besar dibanding telapak tangan Bima. Dewa Ruci memerintahkan Bima untuk memasuki telinga kirinya. Dengan sebuah keajaiban Bima berhasil masuk ke telinga dewa kerdil itu, dan di dalamnya Bima mendapati dunia yang mahaluas. Dewa Ruci mengatakan bahwa air kehidupan tidak ada di mana-mana, sebab air kehidupan berada di dalam diri manusia itu sendiri. Bima paham Dewa Ruci sesungguhnya adalah representasi dirinya sendiri. (Aris Wahyudi :2012).

Seniman-seniman di NAMLIA telah berjalan jauh. Dan mereka berjalan ke dalam diri mereka sendiri-sendiri.

Penemuan: Beberapa Pertanyaan Tentang Seni

Keragaman adalah salah satu ciri khas dari NAMLIA. Setiap seniman memiliki corak yang spesial dalam karyanya masing-masing, baik dari segi teknik maupun tema.NAMLIA bermaksud agar suasana kebersamaan dalam berkarya dapat menciptakan sebuah iklim yang subur. Seperti orang yang sedang mengolah tanah untuk bertani, berbagai macam hal tak terduga dapat ditemui. Membuat karya seni ternyata adalah juga proses membongkar realita yang terdiri dari banyak lapisan. Beberapa pertanyaan berikut ini, adalah hal-hal yang ditemukan. Bagaimana hubungan seniman dan masyarakat tempat mereka hidup? Apa fungsi seniman dalam masyarakat? Sebagai pembuat perhiasan/aksesoris dan tukang dekorasi? Sebagai bagian (penting) untuk program-program dari instansi pemerintahan yang diarahkan untuk mengurus kesenian? Seniman di masyarakat kota Kupang ini selalu dilihat seperti apa?Apakah seni bisa menjadi pilihan untuk hidup? Bagaimana hubungan antara seniman, dan pasar seni? Di sebelah mana letak pasar seni di kota Kupang? Mana yang lebih nyata imajinasi dalam berkarya atau fakta tentang bagaimana sebuah karya ditanggapi atau dihargai? Apakah pertanyaan-pertanyaan ini mengganggu?

 

Lahirnya Senyuman

Seniman-seniman di NAMLIA berasal dari berbagai latar belakang.  Sebagian besar adalah orang-orang dari Nusa Tenggara Timur, dan ada juga beberapa yang berasal dari tempat lain. Muatan identitas ini cukup berpengaruh dalam berkarya. Beberapa waktu lamanya tema-tema identitas budaya daerah menjadi aroma yang cukup kuat yang dihirupi baik oleh seniman sendiri mapun lingkungannya. Ini semacam abecede bagi orang-orang yang mau berseni di Kupang. Kesan umumnya adalah, bikin karya tentang seni budaya daerah berarti semua hal dipakaikan kain tenun, dimotifkaintenunkan, ditempatwisatakan, dikomodokan, dipohoncendanakan, dan lain-lainnya. Bila hal itu demi kelestarian tradisi, sudah sejauh mana hasilnya? Apakah kita sudah makin berbudaya dan bertradisi dengan melilitkan kain tenun di luar pakaian-pakaian (modern) kita? Para seniman semakin sadar bahwa dalam perjalanan panjang mereka ke dalam diri sendiri, hal-hal itu menjadi peristiwa yang menyadarkan. Simbol-simbol yang kuat menempel dengan sendirinya luruh dan luntur. Waktu kejujuran dan penerimaan yang hadir, diri yang apa adanya hadir,maka terciptalah sebuah kelahiran.

Pada proses berkarya ini para seniman ditantang untuk bicara tentang bagaimana mereka melihat diri mereka (atau dilihat?) sebagai individu yang menciptakan karya seni. Hasilnya,mereka bicara soal lingkungan, mereka bicara soal konsep keindahan, mereka bicara soal keretakan/jarak saat melihat diri sendiri, mereka coba menangkap tema yang diberikan: kelahiran baru. Hasil yang datang dari berproses selama beberapa bulan. Mereka telah saling menatap dengan apa yang disebut kontemporer itu dan coba membalas senyumannya yang seperti milik kucing Chesire. Tokoh kucing dalam cerita Alice in Wonderland ini sering muncul dalam cerita dengan mengajak tokoh utama berbincang-bincang tentang topik-topik yang temanya filosofis. Sebagai penyimak, kita dapat mencari jejak-jejak tentang ide kontemporer dalam karya-karya mereka yang tentu saja tak akan muncul utuh, kehadirannya selalu seperti sebuah senyuman tanpa wajah. Kita semua akan melihat senyumannya tapi tidak untuk wajahnya, karena wajah itu akan terbentuk di dalam masing-masing diri kita.  

 

Armando Soriano, September 2023

Comments

Popular posts from this blog

Di Bawah Sorotan Lampu

Arsip

Di Ujung Tahun