Kabar dari Awan

Catatan untuk Monument, sebuah album musik dari SHAGAH. 

Monument diluncurkan pada 23 Oktober 2023 di kota Kupang. 


“For music to become an idiom of artistic expression also required a certain amount of leisure” ( Michael Spitzer, 2021)

Monumen Yang Terurai, Yang Terbangun

Dalam film Letter from Iwojima (Eastwood: 2006), saat Jenderal Tadamichi Kuribayashi berada di dalam pesawat yang mengantarkannya ke pulau tempatnya bertugas,Ia dibayangi oleh suaranya sendiri yang membaca sebuah surat, beberapa bagian dari surat itu berbunyi  “ Aku percaya semua yang ada di rumah sudah kutata rapi, tapi maaf kalau aku tak bisa membersihkan lantai dapur sebelum pergi”. Karakter Singer dalam novel T.Singer (Dag Solstad :1999) selalu akan berhenti di mana pun dia berada, terdiam kaku, menutupi wajahnya yang sedih dengan kedua tangannya dan berkata “Tidak!Tidak!” saat kenangan-kenangan tentang pengalamannya yang memalukan datang menghampirinya. Nukilan dari kedua karya seni tersebut menggambarkan dengan cukup dekat bagaimana manusia bisa begitu dikuasai dan dipengaruhi  oleh kenangan, dan hal-hal yang belum terselesaikan. Barangkali dalam hidupnya sebagian besar yang manusia lakukan adalah usaha untuk bisa menjinakan kegetiran-kegetiran dari pengalaman-pengalaman kuat dan dalam itu, sambil (terseok-seok) bergerak ke depan. Dan barangkali musik adalah salah satu caranya untuk membantu manusia terus bergerak.

Mendengarkan nomor-nomor dalam album Monument dari SHAGAH, secara personal membawa saya  ke beberapa musisi yang memiliki gaya serupa. Gaya musik ambient. Seperti album-album solo kariernya John Frusciante atau dari kelompok musik Lullatone. Musik-musik itu menawarkan ruang bagi imajinasi pendengarnya untuk bermain, tumbuh, atau menjadi bentuk-bentuk peningkahan yang personal bagi para pendengarnya. Ia bisa membawa banyak hal. Lewat alunan yang cenderung menenangka orang akan terbawa pada bayang-bayang di pemikirannya sendiri dan siapa tahu referensi pengalaman atas persentuhan-persentuhan dengan melodi-melodi tersebut mengunci dan melepas hal-hal tertentu.Membentuk atau mengingatkan pada sesuatu. Menjadi sebuah monumen.

Kisah dan Perbincangan

Raven Song dan Monument seolah mempersiapkan kita untuk masuk dalam kisah-kisah perjalanan. Ada semacam rambu-rambu di nomor Monument, bahwa ini tidak akan selalu tentang hal-hal yang menyenangkan saja. Bukankah memang demikian? Sebagian besar cerita kehidupan adalah tentang kehilangan, kepiluan , kegetiran, dan salah satu pilihan di tengah semua yang kadang menjadi sangat absurd itu adalah dengan mencoba tetap waras dan meraih yang bisa dipakai untuk bertahan. Berharap.

Salah satu hal yang bisa diduga atau atau dirasakan dalam mendengar album ini adalah nuansa adanya sebuah “kisah yang diceritakan” atau penggambaran suasana “perbincangan”. Pada nomor Tabur Angin dan Terurai kita seperti dibawa di hadapan dua kekuatan yang sedang berbincang. Untuk Terurai terasa seperti ada saling bertanya, beradu argumentasi, penjelasan-penjelasan, dan diakhiri dengan sebuah penutup berupa penemuan yang baru dan megah. Sedangkan untuk Tabur Angin seperti ada sebuah persetujuan dan saling mendukung setelah debat-debat yang seru dan panas.  Bila kenangan adalah sebuah bentuk awan yang merah dan  besar-besar menggantung, maka kita diajak mendengar ceritanya melalui seseorang  yang tengah berada di dalamnya.  A Man in the Giant Red Cloud dengan seolah  siap mewakili kesenduan yang merah menggantung.  Sepertinya Glance of Glory,Eyes of Heaven, dan Just Stay,Emma... menawarkan kepada pendengarnya ruang-ruang harapan. Sebuah ruang harapan yang dengan lugas terasa kekuatannya dan seperti ditarikan menuju awan dalam Kebaikan.

Tentu saja setiap kita punya referensi dan pengalaman musikalitas sendiri-sendiri. Di NTT, di Kupang ini, bisa saja kita bagian generasi muda pertengahan 90an yang masih di bawah bayang-bayang nuansa 80an, lagu-lagu pop lama berbahasa Inggris menjadi lagu wajib yang tak pernah bosan diminta dan diputar di stasiun-stasiun radio. Sebagian kita masih merasa sentimentil saat mendengar atau bernyanyi bersama (dulu di deker hanya dengan gitar, kini sudah dengan speaker bluetooth sambil karaoke daring) lagu-lagu Rock Balada Mr. Big, Fire House, MLTR, Ebiet G. Ade, dan Loela Drakel. Tidak sedikit dari kita juga yang wawasan musiknya barangkali kita adalah hasil dari budaya musik dengan warna etnik yang kuat, tak bisa tak menari saat ada lagu-lagu Ja’i, Dolo-Dolo, Lego-Lego, Kebalai, Foti,Bonet,Lufut, atau juga agak terhibur dengan yang sedikit lebih modern dan berwarna nasional (dangdut): “Modal Pacaran”nya Vester Esa, “Muni Jo”nya Sius Otu, dan berbagai irisan-irisan music DJ yang populer (atau viral) karena bentuk-bentuk penyebarannya di media sosial.

 Seniman-seniman musik di Kupang telah melakukan eksplorasi diri dan perambahan, pengembangan dalam karya-karya mereka. Aliran Hip-Hop makin gencar dengan eksperimen memainkan unsur-unsur kedaerahan (ungkapan “Uis Neno Bless” dari kelompok rap Deztrol) dan bergelut tentang posisi pijakan Kupang dalam wacana musik Indonesia Timur tersebut, tetap memakai “beta-sonde” atau “ale-seng”?.  Beberapa karya SHAGAH di album adalah hasil tata ulang dari beberapa lagu di album-album sebelumnya seperti Thirteen Miles Away (2013), Deru Nelangsa (2017), dan Unravel: Sow the Wind (2020). Dengan aliran Post-Rock yang dianutnya SHAGAH sudah memiliki pendengar, dan penggemar di lingkar-lingkar acara seni orang muda kota Kupang.

Monument adalah album yang dipakai SHAGAH untuk menandai sepuluh tahun menggeluti jalan seni musiknya. Sejauh yang saya rasakan, saat mendengarkan album ini pendengar akan terbawa pada ajakan untuk bertanya, untuk menguraikan hal yang sebagian besar datang dari pikiran sendiri.Kita akan dipertontokan dengan awan-awan dari pikiran kita. Mereka membawa kabar, dari sesuatu yang kita telah lalui, dan kadang terasa sangat asing meski itu adalah dari diri kita sendiri. Saya telah mendengar kabar dari awan-awan itu. Cerita dan pengangkapan-penangkapan yang saya bagikan di atas adalah apa yang mereka bawa bagi saya. Apa yang mereka bawa untuk anda?    

Kelapa Lima,Oktober 2023

Comments

Popular posts from this blog

Di Bawah Sorotan Lampu

Arsip

Di Ujung Tahun